Tak disangka, duduk berdampingan dengan Aleta bisa menghadirkan ketenangan yang sedalam ini.
Dulu, Hannah selalu merasa sungkan setiap kali berada di dekat wanita ini. Di matanya, Aleta adalah definisi kedewasaan—begitu anggun dan tenang. Di sisi Aleta, Hannah selalu merasa kecil, kurang, dan seolah auranya tak akan pernah bisa menyamai kakaknya itu. Aleta membuatnya iri sekaligus kagum; sosok yang membuatnya minder, namun di saat yang sama menjadi panutan.
Kemudian, ketika rasa cemburu mulai mengambil alih hatinya dengan liar, kekaguman itu berubah menjadi rasa muak dan benci. Membayangkan bahwa Lian—pria yang ia cintai sejak lama—ternyata menaruh hati pada Aleta, membuat Hannah dirongrong rasa dengki yang menyesakkan. Ia benci harus berhadapan dengan Aleta.
Lalu, saat kenyataan pahit itu terungkap bulan lalu; saat ia akhirnya tahu bahwa Aleta adalah kakak kandungnya yang menanggung beban begitu berat sendirian dan disalahpahami olehnya, Hannah merasa seperti pecundang. Ia ingin mengubur dirinya sendiri hidup-hidup ke dalam tanah. Ia benci harus menerima kenyataan bahwa semua prasangka yang ia yakini selama ini ternyata salah total. Dan sekali lagi, ia harus mengakui dengan getir bahwa Aleta memang memiliki pribadi yang jauh lebih besar darinya.
Kini, setelah satu bulan mengambil jeda tanpa komunikasi demi menata hati, Hannah justru merasa sedikit linglung.
Aneh rasanya, tak ada emosi berat yang biasanya menghimpit dadanya setiap kali ia bersebelahan dengan Aleta. Tak ada lagi letupan perasaan negatif yang biasanya memberikan energi untuk melontarkan pembelaan diri sebelum dilukai. Ia hanya terdiam, namun kehampaan itu justru terasa... nyaman.
Tak disangka, ia merasa sangat tenang hanya dengan duduk bersebelahan dengan Aleta, seolah beban perasaan yang ia pikul selama bertahun-tahun baru saja diletakkan di lantai.
“Kabar kamu gimana?” Aleta akhirnya memulai pembicaraan, memecah keheningan yang sempat menggantung selama sepuluh menit di pelataran gedung manajemen tempatnya bekerja, padahal ini hari libur, tapi mereka berdua seakan tak punya titik pertemuan lain selain tempat ini. Sejak tadi mereka hanya duduk berdampingan, menyesap es kopi di bawah langit yang mulai beranjak siang.
Hannah tak langsung menyahut. Bukan karena ia berniat acuh pada kerendahan hati Aleta yang menanyakan kabarnya lebih dulu, melainkan karena ia bingung bagaimana harus mendeskripsikan kerumitan hatinya saat ini.
Melihat Hannah yang menunduk dengan kelopak mata terkulai lesu, dada Aleta terasa nyeri. Ia ingat betul Hannah bukan gadis sesunyi ini. Cerianya memang tak pernah meledak-ledak, namun Hannah adalah sosok yang jujur; ia tak pernah ragu menyuarakan apa pun yang dirasakannya—entah itu bahagia atau kesal. Aleta bahkan sering merasa iri pada adiknya ini. Sebagai orang yang selalu memendam segalanya, Aleta tak tahu cara menunjukkan perasaan dengan begitu tulus dan jujur.
Namun kini, Hannah yang duduk di sampingnya terlihat persis seperti dirinya. Semburat keraguan yang muncul di wajahnya, sungkan untuk langsung mendeklarasikan pikiran, mirip seperti dirinya. Kenyataan itu mencekik Aleta dengan rasa sesal yang lebih hebat dari sebulan terakhir. Muncul bisikan di benaknya: Mungkin seharusnya ia tak pernah memberi tahu Hannah. Mungkin seharusnya Hannah dibiarkan tetap tidak tahu.
“Orang itu,” Hannah mulai bersuara, pandangannya tetap lurus ke depan. “Aku masih nggak bisa nyebut dia Ibu.”
Aleta menoleh, menatap Hannah lekat dengan ekspresi campuran antara haru dan lega. Tak menduga Hannah langsung mematahkan kekhawatirannya. Adiknya ini, meski dengan suara bergetar ragu, akhirnya kembali menyuarakan isi kepalanya.
“Tapi aku juga nggak mau lepas tangan. Gimanapun, orang itu…” Hannah terdiam sejenak. Kata-katanya terasa berat, namun ia tahu ia tak boleh mundur sekarang. “Orang itu yang ngelahirin aku. Dan dia punya kondisinya sendiri sampai nggak muncul selama ini. Jadi…”
Hannah akhirnya menoleh, menatap tepat di mata Aleta yang mulai berkaca-kaca.
“Aku mau bantu urus dia. Entah itu pengobatan atau biaya hidup, tolong Kak Aleta jangan tanggung sendiri lagi.”
Air mata Aleta menetes tanpa ia sadari. Satu sisi hatinya ingin menolak karena tak ingin menambah beban hidup Hannah yang sudah cukup berat. Namun disisi lain, ia sadar bahwa permintaan ini bukan sekadar soal tanggung jawab finansial. Ini adalah pernyataan sikap. Hannah sedang berusaha menerima Aleta dan ibu mereka sebagai bagian nyata dari hidupnya. Permintaan untuk "berbagi beban" itu adalah langkah besar Hannah untuk mendekat, sebuah jembatan yang mulai dibangun di atas puing-puing masa lalu yang ringkih.
Aleta mengangguk pelan, tenggorokannya tercekat saat berucap, “Terima kasih, Hannah.” Hanya itu yang mampu ia ucap.