"Ros..." bisik Hannah lirih. Suaranya tercekat, tertahan di kerongkongan saat ia memandangi perubahan drastis sahabatnya itu. Ingatannya berputar pada pertemuan terakhir mereka di kafe Thomas—tepat setelah Rosy pulang berlibur dari Korea—saat itu Rosy masih terlihat layaknya manusia normal, meski dalam balutan kemuraman yang menjadi ciri khasnya.
Rosy tidak langsung menyahut. Ia hanya terpaku, menatap Hannah dengan sorot mata kosong dan sisa-sisa keterkejutan. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk memproses bahwa sosok yang berdiri di ambang pintunya adalah nyata, bukan sekadar proyeksi dari pikirannya yang kacau.
"Lu... kok di sini?" tanya Rosy. Suaranya parau dan tipis, nyaris hilang ditelan keheningan apartemennya yang pengap.
Tanpa menunggu izin, Hannah melangkah maju. Ia mendorong pintu sedikit lebih lebar agar bisa masuk ke dalam. "Gue dikasih tahu Kak Aleta kalau kondisi lu lagi nggak baik. Tapi gue nggak nyangka bakal separah ini, Ros. Lu sakit?"
"Nggak," sahut Rosy singkat sembari berbalik, menyeret langkahnya menuju sofa. "Cuma nggak enak badan aja."
Ia menjatuhkan tubuhnya begitu saja, berbaring miring dengan posisi meringkuk. Matanya tetap terpaku pada Hannah, mengamati gerak-gerik sahabatnya itu seolah Hannah adalah sosok fantasi yang bisa menghilang dalam sekejap mata.
"Tapi, Aleta bilang kenalannya ada yang kenal sama lu," pancing Hannah sembari menarik kursi di seberang sofa, mencoba mencari jawaban di balik misteri ucapan Aleta tadi siang. "Siapa?"
Rosy hanya mengedipkan mata lambat. Dalam posisinya yang tak bertenaga, ia berusaha mencerna pertanyaan itu. Namun, saat Hannah menyebut perihal "kenalan Aleta", hanya satu sosok yang langsung melintas di benaknya: Lian.
Nama itu adalah alasan utama mengapa selama sebulan terakhir ia mengunci diri, mengabaikan kuliah, dan membiarkan dirinya membusuk dalam kesepian. Ia merasa kehilangan arah untuk melanjutkan hidup sejak "keberadaan" itu menghilang.
Menyadari Rosy hanya menatapnya dengan tatapan kosong tanpa emosi, Hannah mulai diliputi kecemasan. Apakah "keanehan" Rosy kambuh lagi? Atau justru kondisi mentalnya yang memburuk?
"Ros? Rosy? Lu dengar gue, kan?" panggil Hannah berkali-kali, berusaha memastikan kesadaran sahabatnya masih ada di sana.
Melihat kegelisahan Hannah yang seolah sedang mengecek kewarasannya, Rosy menyunggingkan senyum hampa—sebuah lengkungan bibir yang kering dan sama sekali tidak menyentuh matanya.
"Kalau lu pikir gue kesurupan lagi, jawabannya nggak. Gue udah nggak pernah lihat 'mereka' lagi sekarang. Aneh, ya? Saking nggak adanya, gue sampai ngerasa kosong. Rasanya kayak setengah dari dunia gue mendadak hilang, dan semuanya jadi sepi banget."
Hannah tersentak, tubuhnya menegang di kursi. Seumur persahabatan mereka, perihal kemampuan indigo Rosy adalah topik tabu yang tak pernah mereka bedah secara gamblang. Rosy tak pernah bercerita, dan Hannah tak pernah bertanya. Mendengar Rosy mengakuinya secara terbuka justru membuat bulu kuduk Hannah meremang.
"J-jadi, selama ini lu bener-bener bisa lihat... orang yang udah meninggal?" tanya Hannah dengan nada ragu yang kentara.
Rosy tidak menyahut dengan kata-kata; ia hanya mengedipkan matanya perlahan, sebuah konfirmasi bisu.
"Dari dulu?" tanya Hannah lagi, suaranya naik satu nada.
Rosy mengangguk lemah.
"Tadi lu bilang udah nggak bisa lagi... sejak kapan?" cecar Hannah menunjukkan ketertarikan yang ganjil pada hal yang tak pernah mau ia konfirmasi sebelumnya.
Rosy menghela nafas berat, lalu mengangkat tubuhnya untuk duduk bersandar di lengan sofa. Ia tampak bingung mengapa Hannah mendadak menghujamnya dengan pertanyaan seputar kemampuannya. "Sebulan ini," sahutnya pendek.