Terasing Kisah Sendiri

Arisyifa Siregar
Chapter #46

45. Penebusan

Leo berdiri di samping mobilnya di area parkir tamu dengan kedua tangan bersedekap gugup. Matanya tak henti memanjang ke arah pintu masuk gedung apartemen, menanti sosok Hannah muncul dari sana.

Hampir tiga puluh tahun usianya, dan tak sekalipun ia pernah merasa se-amatir ini. Biasanya, dialah yang selalu ditunggu. Leo terbiasa mengabaikan, terbiasa menjadi pusat gravitasi di mana orang lain yang menyesuaikan diri dengannya. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi pria yang bergegas keluar rumah hingga salah memakai sepatu, hanya karena seseorang memintanya datang.

Kejadiannya begitu cepat. Tadi, saat ia duduk di sofa rumahnya sembari mengganti saluran televisi dengan perasaan tidak keruan, ponsel di sampingnya bergetar. Harapannya yang sempat layu saat menunggu balasan pesan langsung melambung tinggi. Matanya membelalak saat melihat nama Hannah tertera di layar melakukan panggilan suara.

“Halo?” sapanya tergesa, ada nada gugup yang terselip. Dalam hati, ia dirundung ketakutan konyol; takut jika Hannah hanya salah tekan dan tidak benar-benar berniat menghubunginya.

“Halo?” Suara Hannah di seberang sana seketika mematahkan keraguannya.

“Halo? Kamu di mana? Ada apa?” tanya Leo mendadak panik. Ketakutannya bergeser; ia khawatir Hannah menelepon karena sedang dalam masalah atau butuh bantuan darurat.

“Masih mau jemput?” tanya Hannah singkat.

Leo tertegun. Selama beberapa detik, kesadarannya seolah terenggut. “A-apa?” tanyanya memastikan, takut telinganya salah menangkap frekuensi.

“Masih mau jemput aku?” ulang Hannah. “Aku udah mau pulang.”

Tubuh Leo langsung terlonjak berdiri seolah disengat listrik. “I-iya! Di mana? Sekarang?” Ia tergagap, buru-buru menyambar kunci mobil di atas meja dan berlari ke rak sepatu. Di tengah kepanikan yang manis itu, ia bahkan tidak sadar telah memakai dua sepatu dari pasangan yang berbeda.

Ia bergegas keluar rumah sembari mendengarkan Hannah menjelaskan lokasinya. Lokasi itu tidak terlalu jauh, ia tahu tempatnya meski belum pernah berkunjung. “Oke, tunggu. Setengah jam lagi aku sampai,” ucapnya memberikan estimasi tanpa sempat memikirkan kondisi lalu lintas atau jarak tempuh yang sebenarnya.

“Hati-hati, pelan-pelan aja. Nggak usah buru-buru, aku juga masih ngobrol sama temen aku,” pesan Hannah lembut.

“Ah, iya,” sahut Leo dari balik kemudi, sebelum sambungan itu diputus sepihak oleh Hannah. Ia menurunkan ponsel dari telinga, mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Leo tidak pernah tahu bahwa ada sisi dalam dirinya yang bisa bersikap sepecundang ini hanya karena seorang wanita. Dan ia tertawa karena itu.

Selama perjalanan, ia berusaha fokus dan berhati-hati, meski batinnya mendesak untuk segera sampai. Ia tiba di depan gedung apartemen sepuluh menit lebih awal dari prediksinya. Leo tidak langsung mengirim pesan; ia menunggu hingga tepat tiga puluh menit sesuai janjinya, baru kemudian memberi tahu Hannah bahwa ia sudah tiba.

Namun, baru lima menit pesan itu terkirim, kakinya yang masih terbungkus sepatu beda pasangan itu terus bergerak gelisah di atas aspal. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena ia tak sabar ingin melihat wajah Hannah setelah semua gejolak yang mereka lalui, dan alasan gadis itu meminta dijemput lewat telepon.


Lift berdenting pelan. Hannah dan Rosy melangkah keluar melewati pintu baja yang baru saja terbuka. Di tengah lobi, Rosy mendadak membentangkan tangan, mendekap Hannah dalam pelukan erat. Selama bertahun-tahun persahabatan mereka, tak pernah sekalipun suasana terasa sehangat dan semanis ini. Namun mulai sekarang ia sudah bertekad untuk lebih mengekspresikan dirinya.

“Jangan dipikirin lagi, ya. Percaya sama gue, dia pengen lu bahagia,” bisik Rosy lembut, sekali lagi memberikan penegasan sembari mengusap-usap punggung sahabatnya.

Hannah melepaskan pelukan itu perlahan, lalu mengangguk mantap. “Makasih ya, Ros.”

“Sama-sama! Hati-hati pulangnya!” seru Rosy sembari melambaikan tangan.

Lihat selengkapnya