“Mau cuti aja?” cetus Leo tiba-tiba, memecah keheningan yang sejak tadi hanya diisi bunyi denting sendok dan kunyahan pelan.
Hannah mendongak, matanya mengerjap bingung. “Emang boleh?”
“Kamu lupa perusahaannya punya siapa?” sindir Leo dengan nada datar yang khas, namun ada binar jenaka yang tersembunyi di balik matanya.
Hannah terdiam sejenak, menggigit ujung roti panggangnya dengan gerakan lambat. Ia masih sering lupa kalau pria yang kini duduk santai di depannya ini adalah pemegang kekuasaan tertinggi di kantornya.
“Kenapa? Nggak mau?” tanya Leo lagi. Ia tampak sibuk mengolesi roti panggangnya sendiri dengan selai coklat, gerakannya terlihat santai.
Hannah menggeleng pelan. “Bukan nggak mau, cuma aku lagi mikir... aku harus bilang apa ke Mbak Mike? Masa mendadak banget.” Ia mengulurkan tangan, meraih gelas air putihnya untuk membasahi tenggorokan yang mulai terasa kering.
“Mmm,” gumam Leo sembari mengunyah rotinya. Ia menelan makanannya perlahan, lalu menatap Hannah lurus-lurus dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Bilang aja mau jalan-jalan sama pacar.”
Byuuur!
Sontak Hannah tersedak hebat. Ia tidak sempat menelan air putih di dalam mulutnya dan secara refleks menunduk, menyemburkan air itu hingga membasahi kemeja dan sebagian celananya.
Leo langsung bangkit dari kursinya. Bukannya panik, pria itu justru tertawa renyah—suara tawa yang jarang sekali terdengar namun terasa begitu hangat. Ia berpindah ke samping Hannah, mengusap-usap punggung gadis itu dengan lembut sementara Hannah masih terbatuk-batuk kecil, wajahnya sudah memerah padam hingga ke telinga.
“Kamu kaget sama yang mana? Diajak jalan-jalan apa dibilang pacar?,” goda Leo, tawanya masih tersisa di sela kalimatnya.
Hannah berusaha mengatur nafasnya, ia menengok menatap Leo dengan mata yang sedikit berair karena tersedak. “Apa... Mas Leo tadi bilang apa?”
Leo masih tertawa pelan sembari tangannya bergerak meraih beberapa lembar tisu untuk membantu Hannah mengeringkan sisa air di meja. Namun, tawa itu perlahan surut, digantikan oleh keheningan yang mendadak terasa padat.
Ia tidak kembali ke kursinya. Justru mengikis jarak, menumpukan satu tangannya di sandaran kursi Hannah dan membungkuk hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Hannah mematung, paru-parunya seolah berhenti bekerja saat ia bisa merasakan hembusan napas Leo yang hangat di pipinya.
Tatapan Leo yang normalnya tajam dan mengintimidasi, kini meredup dan lembut, mengunci sepasang mata Hannah dengan intensitas yang membuat jantung gadis itu berdegup lebih cepat dari genderang perang. Hannah menyipitkan mata perlahan saat wajah Leo semakin mendekat, turun ke arah bibirnya. Ia benar-benar mengira sebuah ciuman akan mendarat di sana, sampai—
Hik!
Hannah cegukan. Suara kecil yang memalukan itu memecah keheningan di sudut ruang makan yang sepi.
Leo menghentikan gerakannya tepat di depan bibir Hannah. Alih-alih menciumnya, ia justru memiringkan kepala sedikit, menatap Hannah yang kini membuka mata dengan wajah semerah kepiting rebus. Sebuah seringai tipis yang sangat menyebalkan muncul di sudut bibir Leo.
"Emangnya..." bisik Leo pelan, suaranya rendah dan serak, membuat bulu kuduk Hannah berdiri. "...kamu anggap aku siapa kamu selama ini?"
Hannah tersentak, wajahnya terasa semakin panas hingga rasanya ia ingin meledak saat itu juga. Tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas godaan Leo, ia langsung berdiri dari kursi, berniat kabur dari situasi canggung yang menyesakkan dada itu.
“Aku ganti baju dulu!” serunya mencari alasan, suaranya naik satu oktaf. Tanpa menunggu respons, Hannah langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan bunyi debum yang cukup keras.
Leo kembali tertawa. Tawa yang kali ini benar-benar lepas, tanpa beban. Ia mengamati pintu kayu yang tertutup rapat itu, membayangkan betapa menggemaskannya wajah Hannah yang kini pasti sedang menyembunyikan rona merah di sana. Perlahan, ia bangkit dari kursinya. Langkahnya lambat namun mantap, berjalan menuju kamar yang ditempati Hannah selama seminggu terakhir.
“Hannah?” panggilnya lembut begitu sampai di depan pintu.
Di dalam kamar, Hannah berdiri mematung. Ia bersandar di balik daun pintu sembari memegangi dadanya yang berdegup tak karuan, seolah jantungnya baru saja habis ikut lari maraton. Ia memilih tak langsung menyahut, berusaha mengatur napas dan mendinginkan suhu wajahnya.