8 Bulan kemudian...
Charles, kepala personalia, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya membelalak nyaris keluar dari soketnya. "Wah!" Hanya satu kata itu yang sanggup lolos dari bibirnya. "Wah!" Ia benar-benar kehilangan kemampuan berbahasa saat membaca nama mempelai pria yang tertulis jelas di undangan pernikahan tersebut.
Nama yang bersanding dengan Hannah bukan sembarang orang, melainkan nama direktur utama mereka sendiri—pria yang selama ini dikenal sebagai "Singa Kantor" yang tak tersentuh.
Di samping Charles, Dian menunjukkan reaksi yang jauh lebih dramatis. Ia mematung, menatap Hannah yang kini berdiri dengan tenang dalam rengkuhan posesif tangan Leo. Ekspresi Dian adalah perpaduan antara takjub, syok, dan kekaguman yang luar biasa—seolah-olah ia baru saja dirinya yang seorang kurator berhasil membawa pulang lukisan Mona Lisa asli untuk dipajang di galeri mereka.
"Ini... ini beneran?" Dian akhirnya bersuara, telunjuknya gemetar menunjuk ke arah tautan tangan Hannah dan Leo. "Kok bisa... maksud saya, sejak kapan?!"
Leo tidak memberikan ruang bagi mereka untuk bergosip lebih jauh. Ia justru semakin merapatkan pelukannya di bahu Hannah, memberikan tatapan tajam yang membuat nyali Charles dan Dian menciut seketika. "Kenapa? Ada masalah dengan pengajuan cutinya?" tanya Leo dengan nada datar dan otoriter, namun ada sedikit nada bangga yang terselip di sana.
Charles langsung menggeleng cepat, nyaris membuat lehernya terkilir. "N-nggak, Pak! Sama sekali nggak ada masalah! Malah saya... saya mau ngucapin selamat!"
Hannah hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah para atasannya yang mendadak salah tingkah. Ia mendongak, menatap Leo yang kini juga sedang menatapnya dengan lembut. Rahasia yang selama ini mereka simpan rapat-rapat akhirnya meledak dengan cara yang paling spektakuler di tengah kantor. Persis seperti apa yang Hannah tunggu-tunggu.
"Tolong diproses secepatnya ya, Mas Charles," ucap Hannah jenaka, lalu memberikan kedipan mata ke arah Dian yang masih berusaha mengumpulkan kembali jiwanya yang sempat terbang. "Soalnya Pak Direktur bilang, kalau cutinya nggak disetujui, dia mau tutup kantornya sekalian buat bulan madu."
Leo hanya mendengus pelan, namun tidak membantah. Ia justru membimbing Hannah berjalan melewati meja-meja karyawan yang kini mulai berbisik riuh, meninggalkan Charles dan Dian yang masih membeku seperti patung di tengah ruangan.
“Mike sama yang lain gimana?” tanya Leo lembut, jemarinya masih asyik mengusap-usap bahu Hannah, menikmati momen kemenangan mereka setelah badai kejutan di ruangan Charles tadi mereda.
Hannah terkikik geli, membayangkan kembali wajah-wajah di departemennya. “Matanya mau copot, Mas. Gelagapan kayak ikan yang baru diangkat dari air. Benar-benar nggak bisa ngomong apa-apa.”
Sungguh sebuah pemandangan yang memuaskan. Melihat Mike—atasannya yang selama ini bawel dan sering kali menindasnya dengan tumpukan kerjaan—sampai kehilangan kata-kata hingga hampir kehabisan nafas, adalah puncak komedi bagi Hannah. Padahal selama delapan bulan terakhir, ia menerima semua perlakuan Mike dengan sangat sabar.
Sebenarnya, Leo sering kali gemas dan hampir hilang kesabaran. Setiap kali melihat Mike memberikan beban kerja berlebih pada Hannah, insting protektifnya bangkit dan ia ingin segera memecat wanita itu saat itu juga. Namun, Hannah selalu berhasil menenangkan Leo. Ia meyakinkan pria itu bahwa tetap diam dan bersikap seperti biasa adalah jalan terbaik agar hubungan mereka tetap terjaga dari gosip miring yang tidak perlu.
Tak terlalu sulit bagi mereka untuk menjalin hubungan diam-diam selama delapan bulan ini. Sebagai direktur, Leo sering berpindah-pindah antar anak perusahaan, hanya beberapa hari dalam seminggu ia benar-benar menduduki ruangannya di kantor tempat Hannah bekerja. Perbedaan jabatan mereka yang terlalu kontras juga membuat orang-orang tidak pernah mencurigai adanya interaksi personal di antara keduanya di depan umum.
Terlebih lagi, selama ini mereka tetap tinggal serumah—meski tak benar-benar berdua. Ada Bi Harti di sana, sosok yang jauh lebih tegas dan galak daripada serigala penjaga mana pun. Sejak kecelakaan waktu itu, Leo melarang Bi Harti untuk pulang-pergi demi alasan keamanan. Dan, Bi Harti yang konservatif tentu tidak akan membiarkan ada celah bagi mereka untuk melanggar batas sebelum sah. Karena frekuensi pertemuan di rumah yang sudah cukup banyak, tak ada urgensi bagi mereka untuk berinteraksi di kantor.
Kini, rahasia itu sudah tumpah. Tak ada lagi alasan untuk sembunyi. Semua karyawan yang berpapasan dengan mereka menyapa dengan syok. Leo hanya menjawab dengan anggukan singkat, sementara Hannah tersenyum ramah.
Membayangkan wajah Mike Leo ikut terkikik, suaranya terdengar renyah dan penuh kelegaan. Ia membelokkan langkahnya ke arah lift, meninggalkan hiruk-pikuk ruang kantor yang kini pasti sedang gempar membicarakan mereka.
“Jadi hari ini,” Leo melirik Hannah sekilas dengan tatapan penuh arti, “kita ke mana dulu?”
Bola mata Hannah berputar jenaka. Kemarin, mereka sudah memberikan undangan secara pribadi kepada Indi dan Thomas. Jauh sebelum itu, kabar bahagia ini sudah sampai ke telinga Aleta serta ibu kandung Hannah—yang selama delapan bulan terakhir mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit berkat bantuan Leo.
Secara terpisah Hannah juga sudah bertemu dengan Rosy yang baru pulang dari liburannya di rumah Kakek Neneknya di Korea.
Kini, tersisa satu tempat yang ingin Hannah datangi. Sebuah tempat yang sudah terlalu lama ia tinggalkan, tempat yang selama ini ia hindari karena rasa sakit, namun kini ia merasa cukup kuat untuk memasukinya kembali.
Hannah menggeser duduknya, mengalungkan tangannya di lengan Leo dengan gerakan manja namun penuh arti. “Rumah Mawar,” ucapnya dengan nada yakin.