Subuh itu, Sungai Musi tidak seperti biasanya. Airnya yang biasanya cokelat keruh dengan riak-riak kesibukan perahu ketek mendadak tenang, nyaris seperti cermin raksasa yang mati. Di atas permukaannya, sebuah kabut tebal berwarna merah darah merayap pelan, menggulung dari muara hingga menelan pilar-pilar kokoh Jembatan Ampera. Bau anyir yang pekat—bukan bau lumpur atau ikan, melainkan aroma besi berkarat dan sesuatu yang jauh lebih purba—menyesakkan dada siapa pun yang menghirupnya.
Bagus, seorang lelaki paruh baya yang telah menghabiskan separuh hidupnya sebagai pengemudi ketek di dermaga 16 Ilir, merapatkan jaket usangnya. Tangannya yang kasar memegang erat kemudi kayu perahu. Ia menatap ke arah gulungan kabut merah yang mulai menyelimuti lambung kapalnya.
"Aneh," gumam Bagus pelan, suaranya hampir tenggelam oleh keheningan subuh yang mencekam. "Belum pernah aku melihat kabut seperti ini selama empat puluh tahun aku melaut di Musi. Merah menyala seperti api, tapi dinginnya menusuk tulang."
Di tepian dermaga, kerumunan kecil mulai terbentuk. Para pedagang pasar pagi dan nelayan lokal berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah air. Di tengah mereka, berdiri seorang perempuan muda dengan ransel besar di punggungnya. Namanya Kirana, seorang jurnalis investigasi independen yang baru saja tiba dari Jakarta semalam. Matanya tajam, mengamati setiap detail fenomena alam yang ganjil itu dengan rasa penasaran yang mendominasi rasa takutnya.
Kirana melangkah mendekati bibir dermaga, lalu menoleh kepada Bagus yang sedang bersiap menyalakan mesin keteknya.
"Pak, permisi! Apakah perahu bapak bisa mengantar saya ke tengah sungai? Saya harus melihat sumber kabut itu dari dekat," tanya Kirana dengan suara lantang namun tetap sopan, berusaha mengatasi desir angin pagi yang terasa berat.
Bagus menoleh, mengerutkan keningnya. Ia menatap Kirana dari ujung kaki hingga kepala, menilai keseriusan di wajah perempuan itu.
"Neng, jangan cari mati," jawab Bagus ketus, suaranya parau. "Sungai Musi subuh ini sedang tidak wajar. Orang-orang tua bilang, kalau kabut merah turun tanpa angin, itu tanda air sedang meminta korban. Jangan nekat."
"Justru karena tidak wajar, Pak, saya harus pergi ke sana," balas Kirana gigih. Ia melangkah turun ke atas dek perahu Bagus tanpa menunggu izin lebih lanjut, lalu meletakkan ranselnya di bangku kayu. "Nama saya Kirana. Saya jurnalis. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik kabut ini, dan saya dibayar untuk mencari tahu kebenarannya."
Bagus menghela napas panjang, mendengus pasrah. Ia tahu, melawan kekeraskepalaan orang kota seusia Kirana adalah hal yang sia-sia. Mesin ketek tua itu akhirnya ditarik tuasnya. Bruum-bruum-bruum! Suara mesin memecah keheningan subuh, menggetarkan lambung perahu kayu yang mulai membelah kabut merah pekat.
❖ ❖ ❖
Perlahan tapi pasti, perahu ketek yang dikemudikan Bagus merangsek masuk ke jantung kabut merah. Jarak pandang menyusut drastis. Bayangan megah Jembatan Ampera di belakang mereka perlahan lenyap, tertelan tirai merah yang semakin pekat. Suara deru mesin ketek terdengar memantul aneh, seolah-olah dinding kabut itu memantulkan suara kembali dengan frekuensi yang lebih rendah dan menggetarkan gendang telinga.
Kirana mengeluarkan kamera DSLR dari dalam tasnya, membidik beberapa sudut pemandangan di sekitar mereka. Namun, layar LCD kameranya menampilkan hasil yang membingungkan: alih-alih warna merah darah yang kasat mata, lensa kamera hanya menangkap kegelapan total yang pekat.
"Pak Bagus, tunggu sebentar. Coba matikan mesinnya," bisik Kirana, matanya terpaku pada layar kamera.
"Gila kamu, Neng! Kalau mesin mati di tengah arus deras dan kabut begini, kita bisa menabrak tiang pancang atau pilar bawah air," protes Bagus, meski ia tetap mengurangi laju perahu hingga mesin berputar pelan dalam posisi idle.
"Ada yang tidak beres dengan tempat ini," kata Kirana, suaranya bergetar bukan karena dingin, melainkan karena kejanggalan visual yang ia temui. "Kamera saya tidak bisa merekam warna merahnya. Di lensa, tempat ini tampak seperti malam hari yang hampa."
Sebelum Bagus sempat menjawab, sebuah suara gemercik air yang sangat besar terdengar dari sisi kiri perahu. Byur!
Seketika itu juga, perahu mereka terombang-ambing oleh gelombang kejut yang mendadak. Air sungai yang tadinya tenang bergolak hebat, membentuk pusaran-pusaran air kecil yang berputar berlawanan arah jarum jam. Bau anyir besi berkarat tadi mendadak berubah menjadi bau belerang dan bau hangus yang sangat pekat.
"Pegangan yang kuat, Neng!" teriak Bagus, kepanikannya tidak bisa disembunyikan lagi. Tangannya mencengkeram kemudi kayu dengan buku-buku jemari yang memutih.
Dari balik gulungan kabut merah yang berputar-putar, bayangan hitam raksasa melintas di bawah permukaan air. Bentuknya panjang, berlekuk-lekuk, dengan kilatan cahaya kemerahan yang memancar dari sisik-sisiknya yang besar. Makhluk itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, melingkari perahu mereka dalam radius yang semakin menyempit.
"Apa itu tadi, Pak? Buaya muara?" tanya Kirana panik, berdiri sambil memegang tiang atap perahu untuk menjaga keseimbangan.
"Bukan!" jawab Bagus dengan napas tersengal-sengal. Matanya terbelalak menatap permukaan air. "Buaya Musi tidak pernah sebesar itu, dan mereka tidak bercahaya! Itu... itu legenda lama yang bangkit!"
❖ ❖ ❖
Pusaran air di sekitar perahu semakin kuat, menarik lambung ketek ke arah tengah lingkaran. Mesin ketek mengerang hebat ketika Bagus mencoba memasukkan gigi mundur untuk melarikan diri, namun baling-baling seolah tertahan oleh sesuatu yang padat di dalam air.