Kabut pagi di Desa Rawa Hitam jarang sekali datang dengan ramah. Ia merayap lambat dari permukaan air yang keruh, membawa serta bau lumpur basah, ganggang busuk, dan sesuatu yang lain—sesuatu yang samar namun memuakkan, seperti besi berkarat.
Mangku berdiri di ambang pintu rumah panggungnya, memegang secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis. Usianya sudah kepala lima, tetapi bahunya masih kokoh, terbentuk dari puluhan tahun melawan arus sungai dan menaklukkan lebatnya belukar rawa. Sebagai kepala desa yang dituakan, Mangku tahu betul rahasia apa saja yang disembunyikan oleh rawa itu. Namun, pagi ini, rasa cemas mencengkeram dadanya lebih erat daripada biasanya.
"Mangku! Cepat ke dermaga kecil!"
Sebuah teriakan memecah kesunyian subuh. Suara itu milik Suri, seorang nelayan paruh baya yang napasnya memburu, berlari pincang menaiki titian kayu menuju rumah Mangku. Wajahnya pucat pasi, nyaris menyamai warna kain ikat kepala yang dikenakannya.
Mangku menurunkan cangkirnya di atas meja kayu kasar. "Ada apa, Suri? Jangan bilang jaringmu tersangkut kayu besar lagi."
"Bukan kayu, Mangku! Sumpah demi leluhur, bukan kayu!" Suri mencengkeram kusen pintu, dadanya naik turun dengan liar. "Di dekat rumpun bakau tua, dekat muara... ada sesuatu. Sesuatu yang mengapung."
Tanpa menunggu penjelasan lebih panjang, Mangku menyambar mantel hujan tebalnya dan melangkah cepat menyusul Suri. Langkah mereka berderap di atas titian kayu ulin yang basah oleh embun. Udara terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang. Di sepanjang jalan setapak, beberapa warga yang rumahnya berdekatan mulai membuka jendela, curiga mendengar keributan pagi-pagi buta.
Sesampainya di dermaga kecil tempat perahu-perahu ketinting ditambatkan, bau aneh itu semakin menyengat. Bukan bau bangkai ikan biasa. Ini adalah bau amis yang begitu tajam, bercampur dengan aroma antiseptik yang asing bagi penduduk desa.
"Di sana, di antara akar bakau," bisik Suri gemetar, menunjuk sebuah perahu sampan yang terikat longgar.
Mangku melangkah hati-hati turun ke bibir air, menyingkirkan dahan-dahan bakau yang merintangi pandangannya. Jantungnya berdegup kencang ketika matanya menangkap sosok terbujur kaku di atas gundukan lumpur dangkal.
Itu adalah tubuh seorang pria muda, warga desa seberang yang biasa mencari kayu bakar. Namun, kondisi tubuh itu membuat darah Mangku mendesir dingin. Pria itu telentang dengan mata terbuka lebar, menatap kosong ke langit kelabu. Kulitnya sangat pucat, hampir transparan, seolah seluruh cairan di dalam tubuhnya telah lenyap tak bersisa. Tidak ada genangan darah di sekitar tubuhnya. Tidak ada luka menganga yang lazim terlihat akibat serangan binatang buas rawa.
"Astaga..." gumam Mangku pelan, nyaris tak terdengar.
"Dia... dia sudah tidak bernyawa sejak semalam, Mangku," suara Suri bergetar di belakangnya. "Dan lihat... dia bukan yang pertama minggu ini."
Mangku menoleh tajam. "Apa maksudmu?"
"Kemarin lusa, kambing milik Pak Tani ditemukan di kandangnya dengan kondisi yang sama. Kering, tanpa setetes darah pun. Dan hari ini..." Suri menelan ludah susah payah. "...pemuda ini."
Angin rawa tiba-tiba bertiup kencang, menggoyang daun-daun bakau seolah sedang memperingatkan sesuatu yang tersembunyi di balik kabut tebal. Mangku berlutut di samping mayat itu, menyentuh pergelangan tangannya yang dingin membeku. Tidak ada denyut. Tidak ada kehidupan. Yang tersisa hanya misteri mengerikan yang siap menelan seluruh ketenangan Desa Rawa Hitam.
❖ ❖ ❖
Berita penemuan mayat tanpa darah itu menyebar cepat seperti kobaran api di musim kemarau. Menjelang siang, pelataran balai desa telah dipadati oleh puluhan warga yang gelisah. Bisik-bisik ketakutan berdengung di setiap sudut, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada.
"Ini pasti ulah makhluk halus penunggu rawa!" seru seorang wanita paruh baya bernama Siti, memeluk erat cucunya. "Sudah kubilang, kita tidak boleh menebang pohon bambu di dekat muara bulan lalu. Penunggu rawa murka!"
"Jangan bodoh, Siti!" bentak Mangku dari atas pendopo balai desa, mencoba menenangkan kerumunan. Suaranya berat dan berwibawa, meski di dalam hatinya ia sendiri merasa ragu. "Ini bukan soal makhluk halus. Ini urusan nyata. Seseorang atau sesuatu telah melakukan pembunuhan biadab di wilayah kita."
"Lantas, di mana darahnya, Mangku?" sergah seorang pria bertubuh gempal bernama Darma, yang juga merupakan kepala dusun sebelah. Ia maju beberapa langkah, menatap Mangku tajam. "Dua hari lalu kambing, hari ini anak buahku sendiri, si Jaka. Tidak ada setetes pun darah di tanah, tidak ada jejak perlawanan yang berarti. Makhluk biasa tidak mungkin melakukan itu!"
"Kita butuh bantuan pihak luar," usul Suri dari barisan belakang. "Kita panggil polisi dari kota kabupaten."
Darma tertawa sinis, suaranya mencjek. "Polisi kota? Kau pikir mereka peduli dengan kejadian di ujung rawa terpencil ini? Mereka paling-paling bilang ini kecelakaan atau bunuh diri, lalu meninggalkan kita sendirian menghadapi teror ini."
"Darma benar dalam satu hal," kata Mangku dengan nada tegas, menghentikan perdebatan yang mulai memanas. "Kita tidak bisa hanya duduk diam menunggu nasib. Mulai malam ini, kita berlakukan jam malam. Tidak ada yang boleh turun ke rawa setelah matahari terbenam. Dan kita bentuk kelompok ronda malam."
Suasana mendadak senyap. Warga saling berpandangan, menyadari bahwa aturan baru ini bukan sekadar formalitas, melainkan batas tipis antara hidup dan mati.
Sementara warga mulai membubarkan diri dengan langkah berat, Mangku memanggil Darma dan Suri ke ruang kerjanya di dalam balai desa. Di atas meja kayu jati yang sudah termakan usia, terbentang peta kuno Desa Rawa Hitam dan sekitarnya.
"Kita harus melihat lokasi penemuan mayat itu lebih teliti," ujar Mangku sambil membentangkan peta. "Apakah ada hal aneh yang kalian temukan di sekitar Jaka?"
"Aku sempat memeriksa tanah di sekitar akar bakau tempat Jaka ditemukan," jawab Suri serius, duduk di kursi rotan di hadapan Mangku. "Tidak ada jejak kaki manusia lain. Hanya jejak milik Jaka sendiri yang datang dari arah jalan setapak."
"Bagaimana dengan jejak binatang?" tanya Darma, menyilangkan tangan di dada.
"Itu bagian yang paling aneh," lanjut Suri. "Ada bekas gesekan di lumpur. Bukan jejak kaki berkuku atau tapak binatang buas. Lebih mirip... bekas seretan benda berat yang licin."
Mangku mengerutkan keningnya. Ia menelusuri garis sungai di peta dengan ujung jarinya. "Gesekan? Seperti apa?"
"Seperti badan ular besar, tapi tidak ada pola sisik di lumpur. Hanya alur halus yang dalam," jelas Suri.
Darma mendengus pelan. "Ular rawa? Kita sudah biasa hidup berdampingan dengan buaya dan ular sanca. Belum pernah ada ular yang menghisap darah mangsanya sampai kering tanpa merusak dagingnya."
"Justru itu masalahnya," Mangku mengangkat wajahnya, menatap kedua pria itu bergantian. "Ini bukan binatang buas biasa. Sesuatu yang baru telah datang ke Rawa Hitam, dan jika kita tidak segera menemukan jawabannya, korban berikutnya bisa jadi anak-anak kita sendiri."
❖ ❖ ❖
Malam turun dengan cepat di Desa Rawa Hitam. Kabut malam jauh lebih tebal daripada kabut pagi tadi, membungkus rumah-rumah panggung dalam selimut putih yang sunyi dan mencekam. Lampu-lampu pelita minyak yang digantung di teras rumah tampak berkedip-kedip lemah, seolah berjuang melawan hawa dingin yang merayap dari rawa.
Di pos ronda utama, Mangku, Darma, dan tiga orang warga lainnya duduk melingkar di atas tikar pandan. Di tengah-tengah mereka, sebuah tungku kecil berisi bara arang menyala kemerahan, memberikan sedikit kehangatan. Suasana malam itu terasa terlalu sunyi; bahkan suara jangkrik dan katak rawa yang biasanya riuh seolah lenyap ditelan keheningan yang janggal.
"Kau dengar itu?" bisik salah seorang warga bernama Buyung, menegakkan duduknya dan memasang telinga baik-baik.