Langit Senja Metropolis bergemuruh bukan karena badai guntur, melainkan oleh deru mesin-mesin industri yang tak pernah lelah memuntahkan asap hitam ke udara. Di bawah naungan mega-struktur beton yang menjulang, Distrik Sektor Sembilan tengah berada di ambang kekacauan total. Bentrokan antara warga sipil yang menuntut hak air bersih dan pasukan keamanan swasta berarmor lengkap menciptakan lautan manusia yang panik. Sirine berteriak melengking, memekakkan telinga, sementara gas air mata mengepul putih, membutakan mata dan menyesakkan dada setiap orang yang terjebak di jalanan sempit itu.
Di tengah pusaran huru-hara tersebut, seorang gadis muda bernama Raina meringkuk di balik reruntuhan beton pos keamanan. Napasnya terengah-engah, jemarinya yang gemetar erat menggenggam sebuah drive data kecil berisi dokumen rahasia korporasi yang dapat menjatuhkan para petinggi penguasa kota. Di hadapannya, dua orang penjaga keamanan bersenjata kejut listrik mulai mendekat, langkah kaki mereka berderap berat di atas pecahan kaca. Raina tahu, jika ia tertangkap, dokumen itu akan musnah, dan perjuangan rekan-rekannya yang telah gugur akan sia-sia.
"Menyerahlah, gadis bodoh! Kau tidak punya tempat lari!" bentak salah seorang penjaga dengan suara melengking di balik helm taktisnya, mengacungkan senjata yang mendesiskan arus listrik biru.
Raina memejamkan mata, bersiap menerima hantaran kejut yang mematikan. Namun, sebelum ujung senjata itu menyentuhnya, sebuah bayangan bergerak cepat bagai angin kilat dari atas kanopi reruntuhan.
Bugh!
Sebuah tendangan telak mengenai rahang penjaga pertama hingga terpental membentur dinding besi. Penjaga kedua yang terkejut mencoba mengarahkan senjatanya, tetapi dalam sepersekian detik, sebuah tangan kokoh namun lembut mencekal pergelangan tangannya, memutar tubuhnya, dan melumpuhkannya dengan kuncian presisi yang membuat pria berarmor itu ambruk tak sadarkan diri dalam sekejap.
Raina membuka matanya lebar-lebar, terperanjat menatap sosok yang berdiri tegak di hadapannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya sebuah suara yang tenang, lembut, namun memancarkan wibawa yang luar biasa menenangkan di tengah kekacauan luar biasa ini.
Pemuda itu berdiri dengan postur tegap. Mengenakan jaket panjang berwarna arang yang sedikit berdebu, ia memiliki rambut sedikit berantakan yang jatuh membingkai wajah tegas namun memiliki sepasang mata hangat penuh ketulusan. Senyuman tipis tersungging di bibirnya, kontras dengan suasana horor di sekeliling mereka. Itulah Arka, pemuda berwajah hangat yang kehadirannya seolah membawa gravitasi baru di Sektor Sembilan.
"Si... siapa kau?" tanya Raina terbata-bata, masih dalam pengaruh syok.
"Nama saya Arka," jawab pemuda itu sambil mengulurkan tangan kanannya yang kokoh untuk membantu Raina bangkit. "Dan saya rasa, kita harus segera pergi dari sini sebelum bala bantuan mereka tiba."
❖ ❖ ❖
Tanpa menunggu jawaban panjang, Arka menarik lengan Raina, membimbingnya melewati labirin lorong-lorong sempit di belakang pasar gelap Sektor Sembilan. Gerakan Arka sangat efisien; ia tidak berlari tergesa-gesa seperti orang panik, melainkan melangkah dengan perhitungan matang, membaca situasi sekitar dengan kepekaan yang luar biasa tinggi. Setiap kali patroli keamanan lewat di ujung jalan utama, Arka selalu berhasil membawa mereka berbelok tepat waktu ke tempat persembunyian yang aman.
"Bagaimana kau bisa tahu jalan-jalan tikus ini?" bisik Raina penasaran, setengah berlari menyamakan langkahnya dengan sang pemuda. "Bahkan orang-orang yang lahir di Sektor Sembilan sering tersesat di sini."
Arka melirik sekilas ke arah Raina, senyuman hangatnya kembali merekah, mengurangi ketegangan di wajah gadis itu. "Tempat ini tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat lain di luar sana. Manusia selalu meninggalkan pola, entah itu dari jejak kaki, kamera pengawas, atau ketakutan mereka sendiri. Kita hanya perlu membaca polanya."
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besi tua berkarat yang tersembunyi di balik tumpukan limbah elektronik. Arka mengetuk pintu itu dengan irama khusus: tiga kali pelan, dua kali cepat, lalu sekali panjang. Tak lama kemudian, pintu berderit terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya berwajah letih dengan sorot mata waspada.
"Masuklah, cepat!" bisik pria itu, menarik mereka berdua masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang remang-remang.
Ruangan itu ternyata adalah markas darurat kecil tempat para aktivis pergerakan berkumpul. Bau oli, solder panas, dan kopi murah menguar memenuhi udara. Begitu pintu tertutup rapat, beberapa orang langsung berdiri, menatap Arka dan Raina dengan tatapan curiga bercampur tegang.
"Raina! Kau selamat! Puji Tuhan," seru seorang wanita berambut pendek bernama Maya, langsung menghambur memeluk Raina. Namun, pandangan Maya kemudian beralih tajam kepada Arka. "Dan siapa dia? Kita tidak bisa sembarangan membawa orang asing ke tempat ini, Raina! Pengawasan korporasi sedang sangat ketat!"
Arka tidak tersinggung dengan sambutan dingin itu. Ia justru melangkah maju dengan tenang, menakupkan kedua tangan di depan dada sebagai salam hormat.
"Maafkan lancang saya, Nona Maya," ucap Arka dengan nada suara yang begitu lembut namun tegas menguasai ruangan. "Saya sadar kepercayaan tidak bisa didapatkan hanya dalam hitungan menit. Tapi jika saya berniat buruk, saya tidak perlu repot-repot menyelamatkan nyawa Raina di jalan tadi, atau membawanya kemari tanpa terdeteksi oleh satelit pemantau korporasi."
Maya tertegun sejenak, mengamati Arka dari ujung kepala sampai kaki. Tidak ada gelagat mencurigakan dari pemuda itu; wajahnya memancarkan ketulusan yang sulit dibuat-buat, membuat siapa pun yang melihatnya merasa luluh secara alami.
"Dia benar, Maya," sahut Raina membela. "Kalau bukan karena Arka, aku sudah tertangkap atau bahkan terbunuh di Sektor Sembilan."
Suasana di ruangan itu sedikit mencair, namun ketegangan kembali merayap ketika monitor utama di sudut ruangan tiba-tiba berkedip merah. Sebuah peringatan sistem berbunyi pelan, menandakan bahwa sinyal komunikasi mereka telah terdeteksi oleh sistem pelacakan otomatis milik korporasi besar yang menguasai kota, Aethel Corp.
❖ ❖ ❖
"Sial! Mereka menemukan frekuensi kita!" teriak seorang teknisi muda di depan layar komputer, jemarinya menari-nari panik di atas papan ketik. "Blokade perimeter sedang digerakkan ke arah sini. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, pasukan pembersih akan mengepung gedung ini!"
Kepanikan seketika melanda ruangan bawah tanah itu. Beberapa orang mulai mondar-mandir tidak karuan, sementara yang lain bersiap mengambil senjata rakitan mereka. Di tengah kekacauan mental yang melanda kelompok tersebut, Arka tetap berdiri tegak di tengah ruangan. Ia tidak ikut panik; sebaliknya, matanya menatap tajam ke arah peta digital Sektor Sembilan yang terpampang di layar utama.