TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #1

Rumah Gerobak


Di bawah lampu temaram gardu pos ronda sepertinya sudah tidak terpakai, tanpa dinding, tanpa atap, hanya lantai semen sudah terkelupas lama.

Sunarto memutuskan beristirahat di sini. Tubuhnya sudah mulai goyah, sedari pagi sampai malam tidak berhenti menarik gerobak.

Gerobak dorong satu-satunya harta dimiliki dijadikan sarana mencari nafkah, mengais apa saja sekiranya layak untuk dijual, dapat ditemukan di sepanjang jalan dilalui. Kendaraan ini digunakan juga sebagai "Rumah Berjalan" bagi Sunarto dan keluarganya.

Tidak terlalu besar, sedang-sedang saja, cukup untuk rebahan dua anaknya, Ayu, anak perempuan berumur tujuh tahun. Adiknya, Ragil, baru menginjak lima tahun.

Terbuat dari rangka balok kayu dipadukan triplex tipis pada bagian dinding ditopang dua roda ban karet mati, balok kayu juga berfungsi sebagai alas gerobak menampung barang dan tempat tidur.

Tidak mampu terbeli, menyewa dari Bos pengepul, Darmuji, nantinya akan dipotong dua puluh persen dari hasil penjualan barang bekas.

Enam bulan kemudian baru bisa membeli sendiri seharga tiga ratus ribu rupiah, itu pun bekas pakai orang, hasil dari menabung.

Persaingan sesama pemulung saling berebut lahan di jalan memaksa Sunarto memilih hidup nomaden, berpindah-pindah tempat.

Daripada berkutat di satu area sempit, dapat menghambat rezekinya, bersaing dengan manusia gerobak lainnya.

"Tidak apa-apa kita beristirahat di sini, Pak?"

Sunarti, istrinya, sering kali memperlihatkan gestur khawatir ketika suaminya menemukan tempat untuk beristirahat pada malam hari. Memungkinkan menyandarkan gerobaknya untuk dijadikan tempat tidur.

Memeriksa sekeliling selalu dilakukan Sunarto memastikan kondisinya aman, setelah itu bisa bernapas lega, duduk tenang sambil menyeka keringat.

Ayu bersama Ragil dengan sigap turun dari gerobak, keduanya berlari saling berkejaran di sekitaran tanah kosong bekas gardu pos. Melepaskan rasa penat, bosan seharian berada dalam kotak sempit, panas, bau.

"Jangan jauh-jauh mainnya, Nak!" kalimat sering didengar ketika memperingatkan kedua anaknya.

"Iya, Mak," Ayu selalu menurut apa kata ibunya.

"Aman, Bu Ne, tempat ini sepi, tidak ada orang lain menempati," meredam rasa khawatir istrinya, sering menyebut dengan Bu Ne.

Sama-sama duduk bersila di lantai semen rapuh sambil mengawasi anaknya.

"Tadi Ibu beli dua bungkus nasi padang, murah cuma sepuluh ribu sebungkus, Pak. Sudah lengkap sayuran sama lauk. Minta tambah nasi dikasih, baik banget bapak yang jualan tadi. Kopi hitam kesukaan Bapak, rokok dua batang," dikeluarkan semua dari tas kresek.

"Ibu buatkan kopi dulu ya, Pak, habis itu kita makan bersama," bergegas berdiri akan mendidihkan air. Memang pandai memasak, juga membuat perapian darurat.

Berbekal panci, air dalam jeriken, kayu bakar mudah ditemukan sepanjang jalan, menyusun beberapa batu sebagai alas memasak.

Sunarto hanya bisa memandang iba, berasa ingin menangis melihat ketegaran istrinya.

Bisa saja meninggalkan dirinya, sudah bertahun mengalami hal seperti ini tanpa ada perubahan berarti. Selalu khawatir tidak bisa memberikan makan anaknya, suatu ketika tidak mendapatkan barang bekas untuk dapat dijual.

Beruntung hari ini masih bisa makan, ada tempat untuk bermalam.

Masih terngiang pertama kali bertemu Sunarti berasal dari Gunungkidul, menjadi pembantu rumah tangga dalam kompleks perumahan sering dilewati.

Tidak jarang keduanya saling berinteraksi, saling menyapa, di saat Sunarti membuang bekas makanan di kotak sampah depan rumah majikannya.

Lihat selengkapnya