TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #2

Pejuang Rupiah

Sunarto terbangun dari bayang-bayang masa lalu ketika tiba-tiba istrinya mengagetkannya.

"Bapak, belum tidur?"

"Sebentar lagi Bapak tidur Bu Ne, mau ke mana malam-malam begini bangun."

"Ibu mau pipis dulu, Pak."

"Ya, sudah, kesana Bu, di parit kecil itu ... hati-hati gelap."

Selepas itu Sunarti tidak langsung masuk ke dalam gerobak, melainkan duduk mendampingi suami.

Besok kita ke mana lagi, Pak? Tadi hasil penjualan kita cuma empat puluh lima ribu rupiah saja, rasa-rasanya semakin sulit kita mendapatkan barang bekas."

Sunarto menghela napas panjang sebelum menjawab, seharian ini hanya mendapatkan empat puluh lima ribu saja?" Tadi siang hanya membeli jajanan ubi dan singkong rebus untuk menganjal perut.

"Besok kita coba menyusuri Kota Tua sampai tempat pelelangan ikan, Muara Baru. Mudah-mudahan ada sesuatu yang kita dapatkan di sana."

"Jauh dari sini, Pak?"

"Kalau kita berangkat pagi-pagi, besok, tengah hari sudah sampai ke sana Bu ne."

Sunarti mendesah, sambil melamun membayangkan perjalanan jauh menuju Kota Tua, akan dijalani besok pagi.

"Semoga saja, Pak. Nanti kita beli ikan bekas, pasti di jual murah di sana, Ibu bisa masakin yang enak. Anak-anak pasti juga senang melihat ikan-ikan di jual."

Sunarto geli dan bingung mendengar ungkapan istrinya, ikan bekas.

"Memang ada istilah ikan bekas, Bapak baru dengar, ada-ada saja Bu Ne ini," tersenyum geli.

"Bapak ini kurang gaul, maksud Ibu, pasti ada ikan-ikan sisa habis dipotong tidak terjual di sana, seperti ekornya, kepala ikan, jeroan. Lumayan, bisa menambah gizi anak-anak kita, Pak."

Baru paham yang dimaksud dengan ikan bekas, tidak terpikirkan sebelumnya diam-diam memuji kecerdasan istrinya.

"Wah, nggak, nyangka Bapak, Bu Ne bisa kepikiran sampai ke situ."

Tidak bisa dipungkuri malam-malam dingin seperti ini, duduk berdua bersama istri tercinta membangkitkan gairah, namun dalam suasana area terbuka, tanpa ada penyekat sama sekali sepertinya harus ditunda dulu. 

Kebutuhan biologis diantara kedua suami istri memang wajar, namun apa daya, tempat tidak memungkinkan.

"Sudah sana, Bu Ne tidur lagi, besok kesiangan lho, bangunnya."

"Bapak juga tidur, pake selimut sama tutup kepala biar nggak digigit nyamuk."

Beralas kardus, di lantai semen terbuka, berselimutkan sarung ditambah sebo penutup kepala, sudah cukup bagi Sunarto tidur nyenyak malam ini.

Menjelang jam lima pagi, Sunarti sudah terbangun. Ia beranjak dari gerobaknya menuju parit kecil. Dalam parit kecil ini, mengalir air yang cukup jernih untuk membasuh muka. 

 Sebenarnya berencana mencuci baju, celana, tetapi urung dilakukan karena hari ini mereka akan berangkat menuju Kota Tua. Seharusnya kemarin malam ia mencucinya agar pagi ini sudah agak kering.

Sunarti mulai membuat perapian untuk memasak air, merebus Indomie. Sunarto juga sudah terbangun. 

Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa kondisi gerobaknya. Kedua roda ban karet terlihat sudah mulai mengelupas, gundul, tanda sudah waktunya diganti.

Memilih menggunakan roda ban mati karena lebih awet, tidak mudah bocor, serta tahan tertusuk paku atau pecahan kaca daripada ban hidup yang menggunakan ban dalam.

Meskipun risikonya terasa lebih berat ketika menarik gerobak, karena ban mati terbuat dari karet padat keras tidak seempuk ban hidup.

Ban gerobak itu cepat aus mudah mengelupas karena sering digunakan untuk membawa muatan berat, ditambah kedua anaknya selalu berada di dalam gerobak saat melewati jalanan rusak berbatu tajam. 

Apalagi, sudah hampir satu tahun ban itu belum diganti. Untung saja peleknya masih bagus tidak bengkok.

"Bapak sudah bangun? Enggak kenapa-napa gerobak kita, Pak? Ini, Ibu sudah buatkan kopi untuk Bapak."

"Terima kasih, Bu Ne. Ban ini sudah waktunya diganti. Semakin lama semakin terasa berat Bapak menarik gerobak."

"Memang, Bapak punya uang untuk membeli ban baru?"

Lihat selengkapnya