TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #3

Musibah Di Jalan


Matahari sudah semakin meninggi, tidak bosan-bosannya mengguyurkan cahaya panas menyengat, sudah hampir menjelang tengah hari.

Jalanan semakin ramai, padat merayap. Suara klakson sepeda motor dan mobil saling bersahutan, beradu kebisingan.

Sunarto terlihat sudah kelelahan. Jalannya tidak secepat pagi tadi, seiring dengan keringat yang mulai menetes membasahi kedua telapak tangannya. Genggaman erat pada kemudi gerobak sudah mulai terasa licin.

"Pak, kita istirahat dulu, kasihan anak-anak kepanasan."

Tanpa disadari Sunarto, istrinya sudah berada di sampingnya. Berhenti sejenak, ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari tempat yang layak untuk menambatkan gerobaknya.

"Itu, Pak, di bawah pohon seberang jalan, kelihatannya lega," saran Sunarti.

"Iya, Bu Ne, kita ke sana. Tolong hentikan kendaraan lewat, Bu, Bapak mau menyeberang."

Sunarti segera mengayun-ngayunkan tangannya, meminta jalan agar gerobak suaminya bisa leluasa menyeberang. 

Beberapa pengemudi kendaraan mengumpat sambil membunyikan klakson memekakkan telinga.

"Oee! Cepetan! Lambat amat sih jalannya," hardik salah satu pengendara motor.

"Sabar, Om!" teriak Ragil dengan gagah berani.

"Hushh! Ragil, jangan begitu, nanti marah orangnya," khawatir ibunya, memperingatkan anaknya.

"Biar saja, Mak! Orang mau numpang lewat pakai bentak, klakson-klakson segala," Ayu membela, membenarkan adiknya.

Bapaknya juga tidak mau tinggal diam begitu saja. Ia menoleh tajam kepada pengendara motor yang membentaknya, merasa direndahkan.

Masa muda Sunarto dulu pernah menjadi anak jalanan sampai terjerat kasus narkoba. Ia tidak pernah takut dengan siapa pun. 

Namun kini ia sudah insaf, memilih jalan yang benar dan halal. Itu yang membuat Sunarti dan kedua anaknya merasa bangga dengan bapaknya, meskipun dalam keterbatasan akut.

Mereka kini beristirahat di bawah pohon rindang tepi jalan, persis di samping kali yang cukup lebar.

Hasil memulung siang ini memenuhi setengah gerobak, terdiri dari beberapa lembar kardus, botol, gelas minuman plastik bekas.

Ditemukan juga beberapa buku usang masih layak dibaca, tapi belum tahu buku tentang apa.

Sudah menjadi kebiasaan Ayu, Ragil untuk segera meloncat keluar dari gerobak, tidak kuat lagi menahan sumuk Turun ke kali, menyeburkan diri sebatas lutut ketinggian airnya.

Senang bukan main mereka berdua, duduk selonjoran sambil membasuh wajahnya.

"Dingin, Kak, airnya, jadi kayak di kolam renang kita, ya."

Padahal belum pernah sekali pun Ragil mencoba kolam renang sungguhan.

"Iya, dingin, segar lagi. Minta sabun sama Emak, gih."

Orang tuanya tidak mencegah, membiarkan kedua anaknya bersukacita bermain air di dalam kali tidak seberapa dalam.

Dari kemarin mereka belum mandi. Ibunya memberikan sabun colek dua "cuil" saja untuk kedua anaknya, biar tidak bau-bau amat tubuhnya.

"Bu Ne, enggak ikut mandi sekalian?"

"Malu, ah, di tempat terbuka begini. Bapak saja temani anak-anak mandi. Ibu mau cari makanan buat makan siang kita."

"Hati-hati, Bu Ne."

Membuka baju, langsung turun ke kali bergabung dengan kedua anaknya.

Beberapa orang lewat melihat kejadian ini, memandang dengan raut wajah tidak bersahabat. Bapaknya tidak memperdulikan.

Bergegas menyusuri pinggir jalan, berharap ada warung nasi padang murah meriah. Sayang sekali tidak menemukan warung dimaksud.

Rupanya bapak dengan anak sudah selesai mandi. Sunarto membantu keduanya berganti pakaian kering tapi sudah lusuh.

Menggantungkan pakaian basah di pinggiran tepi gerobakn duduk lesehan di bawah pohon beralas terpal tipis.

"Masih jauh tempat pelelangan ikan, Pak?"

"Lumayan, Nak. Tapi kita enggak bisa melewati Kota Tua, gerobak dorong seperti kita punya ini tidak boleh lewat di situ."

"Memang, kenapa enggak boleh, Pak?" penasaranAyu.

"Iya, itu kan tempat wisata, sudah termasuk kawasan cagar budaya, nanti bisa-bisa kita diusir."

"Jadi, kita lewat mana kita nanti Pak?"

"Nanti Bapak mencoba menyusuri pinggiran Kota Tua, sebenarnya sih enggak jauh lagi dari sini."

Yang ditunggu akhirnya datang Ibunya membawa dua buah bungkus kresek hitam.

"Wah, sudah selesai mandi rupanya. Siapa gantiin pakaian kalian tadi?"

"Bapak. Emak beli apa Ragil sudah lapar."

"Tadi enggak nemu warung nasi padang seperti kemarin, tapi Emak bawain dua bungkus nasi sama lauk ikan teri, ada sayuran sedikit di warteg sana."

Dengan menu apa adanya, mereka dengan lahap menikmati makan siang, dua bungkus dibagi rata.

Selesai makan tiba-tiba datang sebuah mobil sedan mengkilap, berhenti persis di depan gerobak. Sunarto khawatir jangan-jangan dari Satpol PP yang datang berniat mengusirnya

Lihat selengkapnya