TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #4

Penyanderaan

Matahari sudah terbenam empat jam lalu jalanan tidak seramai tadi. Sekarang sepi.

Masih setia menunggu di dekat gerobak dalam suasana cahaya remang-remang, sementara kedua anaknya sudah tertidur lelap.

Lima orang pemuda tanggung dengan badan penuh tato botol minuman, tergenggam di tangan. Mendatangi Sunarti sedang duduk di emperan toko sambil menjaga kedua anaknya.

Seketika jantung berdebar melihat kelima pemuda tanggung menghampirinya. Perasaan takut mulai menjalar sampai ke ujung kaki. 

Suaminya ditunggu-tunggu belum datang juga!

Kelima pemuda bertato itu mondar-mandir di depan Sunarti sambil tertawa cengengesan untuk mengintimidasi. 

Sekali-kali mereka menenggak minuman aroma bau alkohol menyergap hidung.

Tidak bisa dibayangkan perasaan Sunarti pada saat itu hanya bisa mendekap kedua anaknya erat-erat.

Sumanto baru saja memperkenalkan diri, berambut keriting, berbadan kurus, berkulit hitam, penuh dengan tato. 

Usianya mungkin masih di bawah dua puluh lima tahun. Namun begitu, sepertinya dia adalah pemimpin geng, entah geng apa namanya.

"Siapa tadi namanya Sunarti, ya? Bisa nyanyi?"

"Kenapa, Abang, menanyakan seperti itu?"

"Kalau bisa nyanyi, Abang ajak mengamen daripada memulung seperti ini, tidak ada duitnya."

Jawaban didengar sangat merendahkan dirinya. Ingin tahu tentang profesi pengamen, Sunarti menanggapi, "Memang berapa pendapatan mengamen, Bang?"

Merasa direspons, Sumanto menjawab, "Banyaklah ... bisa ratusan ribu rupiah. Apa lagi kalau mau menemani om-om berkantong tebal, banyak sawerannya. Mau?"

"Terima saja, Neng. Mumpung masih muda, cakep lagi." Pemuda tambun berkepala botak anak buah Sumanto ikut nimbrung

"Astaghfirullahaladzim," tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.

"Saya tidak bisa nyanyi, Bang. Lagipula, tidak akan diizinkan oleh suami saya," berusaha menolak dengan halus.

"Ngapain suami kerja macam begini diikuti?" mulai kurang ajar.

Darah Sunarti mendidih mendengar suaminya dihina seperti itu. Namun, menunjukkan kemarahan di hadapan mereka bisa berakibat mereka semakin beringas. 

Ada rasa khawatir mendalam apa bila suaminya tiba-tiba datang pasti dengan mereka.

Lima orang melawan satu orang tentu tidak sepadan. meski tahu sifat suaminya akan membela mati-matian bila keluarganya diganggu.

"Maaf, Bang, bisa tinggalkan saya sendiri bersama anak saya? Bukannya saya tidak menghargai Abang, tapi saya takut terjadi apa-apa seandainya suami saya datang." Mencoba membujuk Sumanto dan anak buahnya untuk tidak mengganggunya lagi.

Reaksi Sumanto justru sebaliknya. Ia tidak paham adab dan etika bahwa mengganggu istri orang lain merupakan tindakan tidak terpuji.

"Memang suami lo jagoan? Berani melawan gue? Jadi pengin tahu kayak apa wujudnya, punya nyali tidak dia berhadapan dengan Sumanto!"

 Ucapan itu disambut tawa berbarengan oleh keempat anak buahnya.

"Kita tungguin saja suaminya datang, Bos. Kita karungi ramai-ramai. Setuju, tidak?"

Serentak mereka menjawab, "Setuju banget!"

Merasa serba salah, jantung semakin berdegup kencang membayangkan apa yang bakal terjadi bilamana suaminya datang.

Seandainya tidak datang sekarang, bisa saja suaminya baru tiba besok pagi karena tidak ada angkot harus berjalan kaki untuk sampai ke sini.

Itu berarti sepanjang malam akan diganggu terus oleh anak-anak muda berandalan ini.

Sumanto berdiri menghampiri anak buahnya mengajak mereka menyingkir menjauh agar pembicaraan mereka tidak terdengar.

"Gue yakin suaminya tidak bakalan datang. Di belakang toko ini ada bedeng kosong. Kita todong pakai pisau, lalu bawa paksa perempuan itu ke sana. Lo, Bejo, jagai anak-anaknya jangan sampai terbangun. Paham maksud gue?"

"Anak kecil perempuan cantik itu kita bawa saja sekalian ke belakang, Bos," saran Panjul, salah satu anak buahnya.

"Terserah lo, yang penting jangan sampai ada orang lain melihat."

"Coba lo periksa di belakang, ada orang atau tidak."

Benar-benar rencana jahat,biadab akan dilakukan oleh mereka berlima terhadap Sunarti dan anaknya, Ayu, baru menginjak usia tujuh tahun. Mereka berniat memerkosa keduanya.

Lihat selengkapnya