Dalam situasi genting seperti ini, sungguh di luar dugaan ... Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja muncul dua buah mobil sedan berbelok tajam di perempatan lampu merah, menimbulkan suara ban mendecit keras menggerus aspal memercikkan api.
Kedua mobil itu langsung masuk ke dalam pelataran toko, berhenti tepat di samping kiri, kanan mobil Alesha.
Bersamaan dengan itu, meloncat keluar enam orang dari balik pintu mobil, berlarian sambil menodongkan senjata kepada lima pemuda sedang mengeroyok Rayhan.
Bimo dengan cekatan meraih Rayhan, kakaknya, menyelamatkannya membawa masuk ke dalam mobil Alesha.
"Angkat tangan! Buang pisau kalian segera!"
Berkali-kali kalimat itu diteriakkan oleh anggota barusan keluar dari dalam mobil.
Hal itu membuat kelima pemuda berandalan panik bukan main. Mereka tidak menyangka kedatangan polisi begitu tiba-tiba.
Sumanto dengan cepat segera mendekap Sunarti, mengarahkan badiknya ke leher. Ayu menjerit sejadi-jadinya.
"Bapak! Bapak! Tolong Ayu!"
Ayu berteriak keras memanggil-manggil bapaknya, lalu langsung diam setelah ditodong dengan pisau oleh Panjul.
"Mas Rayhan tidak apa-apa?"
Tidak baik-baik saja kondisinya. Beberapa bagian lengan dan siku Rayhan berdarah terkena sabetan celurit.
Mendegar keributan, Ragil terbangun. Tidak ada siapa-siapa di sampingnya. Melihat ibu, kakaknya dibawa orang lain, langsung bangkit berlari menyongsong.
"Emak! Kakak Ayu ... Ragil ikut!"
Anggota berada paling depan dengan sigap meloncat menggapai Ragil sebelum keburu disekap oleh para pelaku.
Ketiga pemuda terperangkap lari tunggang-langgang dikejar dua anggota.
"Berhenti! Jangan lari!"
Terus dikejar anggota. Tembakan peringatan diarahkan ke udara, mereka tidak mau juga berhenti. Pelaku terus berlari tidak mengindahkan anggota yang terus mengejar.
Tidak akan membiarkan mereka lolos melarikan diri, nantinya akan berbuat jahat lagi di tempat lain.
Kali ini, ujung laras pistol langsung diarahkan ke bawah. Tanpa peringatan lagi.
Dor! Dor! Dor!
Tiga kali letusan beruntun merobek keheningan malam, menerbangkan puluhan kelelawar sedang enak-enaknya tidur bergelantungan di kerimbunan pohon sekitar.
Tiga orang pelaku langsung tumbang, terkapar di jalan aspal berembun Mengerang, mengaduh kesakitan. Betis ketiganya tertembus timah panas.
Darah mengucur deras menodai jalan. Bau amis darah menyesakkan hidung.
Sunarti, Ayu, masih di bawah ancaman todongan badik Sumanto juga pisau milik Panjul.
Anggota mengepurng pelaku tidak berani gegabah melepaskan tembakan.
"Lepaskan sandera! Buang pisau kalian!"
Perintah tegas aparat tidak digubris sama sekali! Tndakan mereka semakin membahayakan sandera. Kedua ujung badik dan pisau sengaja ditekan kuat-kuat
Terlihat jelas darah menetes di leher Ayu dan ibunya membuat panik para anggota, tapi mereka tetap tenang dengan kewaspadaan penuh.