TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #6

Anti Klimaks


Istri bersama anaknya, Ayu, sedang dibekap disandera dengan badik dan pisau oleh dua orang pemuda penuh dengan tato di sekujur tubuhnya.

Gejolak batin dirasakan melebihi panasnya magma gunung berapi. Membayangkankeselamatan istri dan kedua anaknya. 

Tanpa memperhitungkan risiko bakal terjadi, segera membuang dua ban baru. bawaannya.

Sejatinya akan dipasangkan pada gerobak dorong miliknya pada malam hari ini juga.

Berlari kencang menerobos kerumunan aparat bersenjata lengkap, akan menyongsong istri dan anaknya.

Warga turut panik berteriak memperingatkan. Tidak ada yang tahu siapa laki-laki lusuh setengah baya berani berbuat senekat itu tanpa memperhitungkan keselamatannya.

Aparat berjaga lebih panik lagi dengan ulah bapak ini. Harus segera dihentikan dapat membahayakan keselamatan sandera.

Disergap, dijatuhkan ke tanah dengan keras oleh para aparat berjaga, ditelentangkan menghadap ke bawah, kemudian diborgol kedua tangannya.

Tidak berdaya mengaduh kesakitan, berteriak, "Bu Ne! Bu Ne! Ayu! Ragil! Ini Bapak datang!"

Istri dan anaknya mendengar panggilan itu, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Ya ampun! Bukankah itu suaminya, Pa?" Itu suara dari Alesha

 "Sudah berapa lama bapak itu meninggalkan istri dan anaknya?"

Rayhan segera menghampiri, meminta para anggota melepaskan ikatan borgolnya. Bapak ini suami dari istri dan anaknya tersandera berprofesi sebagai pemulung gerobak dorong.

Menyadarkan Sunarto bahwa tindakannya justru akan membahayakan nyawa istri dan anaknya.

Ragil berada dalam mobil bersama Alesha melihat Bapaknya, langsung meloncat keluar.

"Bapak! Tolong Emak, Kakak Ayu," memeluk erat Bapaknya.

Keduanya berpelukan penuh haru diiringi isak tangis keduanya.

Tim medis segera memberikan pertolongan terlihat syok berat didera kelelahan amat sangat, tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap istri dan anaknya masih dalam genggaman Sumanto dan Panjul.

Bimo segera bertindak cepat memerintahkan para penembak jitu untuk merayap di atas plafon toko. 

Bilamana memungkinkan, segera lumpuhkan bekuk kedua pelaku hidup-hidup!

Penyanderaan ini harus segera diakhiri secepatnya sebelum matahari menampakkan diri turut menyaksikan kejadian ini.

Bagaikan bunglon, beberapa anggota penembak jitu bergerak cepat di belakang pertokoan dengan menyandang senapan laras panjang dilengkapi teropong inframerah terpasang di bahu senapan. Mampu melumpuhkan target dengan presisi.

Merayap senyap di atas plafon layaknya cecak mengintai mangsanya, mereka menyebar dari kiri, kanan, dan di tengah mulai mendekati sasaran.

Bimo terus mencoba bernegosiasi dibantu dua orang Polwan akan menangani kedua sandera wanita setelah keduanya berhasil dibebaskan.

"Saya peringatkan sekali lagi, segera lepaskan kedua sandera, buang pisau kalian jauh-jauh di lantai. Tidak ada satu pun nyawa dipertaruhkan di sini. Kalian akan diperlakukan baik-baik bila menyerahkan diri dengan sukarela."

Bukannya menyerah apa lagi melepaskan kedua sanderanya, pelaku malah mundur ke belakang mepet dengan tembok sambil mendekap Sunarti dan Ayu. 

Ujung badik dan pisau menempel ketat di leher keduanya! Menyulitkan para penembak jitu untuk membidik sasaran dengan presisi karena terhalang atap depan toko menaungi kedua pelaku.

Entah apa yang diinginkan kedua pepaku meskipun mengetahui ketiga temannya sudah dibekuk dengan peluru bersarang di betis.

Tidak ada celah sedikit pun untuk dapat melarikan diri.

Beberapa warga menonton merasa gemas, marah dengan kedua pelaku tidak juga mau melepaskan sanderanya.

Serentak menyoraki mencaci maki dari kejauhan, rasanya ingin menghakimi sendiri.

Lihat selengkapnya