TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #8

Razia Preman

Pasca-kejadian penyanderaan yang menggegerkan keluarga pemulung di tangan geng Sumanto, membuat Bimo benar-benar gerah. 

 Darahnya mendidih! 

Apalagi membayangkan keganasan kelompok itu hampir merenggut nyawa Rayhan, kakak kandungnya sendiri. 

Lebih bejat lagi, mereka bahkan tega menyandera nyaris memperkosa seorang ibu dengan anak perempuannya yang masih kecil.

"Tidak bisa dibiarkan!" desisnya geram.

Jika dibiarkan, kejahatan serupa akan terus berulang, mencoreng sudut-sudut Ibu Kota.

 Gemerlap lampu warna-warni sepanjang jalan, gedung-gedung tinggi saling berlomba menggapai langit. Seolah menjadi ironi kota semegah ini ternyata tidak lagi aman bagi warga kecil.

Tanpa membuang waktu, Bimo segera mengerahkan pasukannya!

Derap sepatu bot seketika memporak-porandakan kerikil dan batu di jalanan. Puluhan anggota polisi dan tentara berlari sigap sambil menyandang senapan laras panjang. 

Mereka bergerak cepat memasuki truk-truk sudah berjejer rapi di sepanjang jalan markas kesatuan masing-masing.

Hari ini, operasi besar-besaran digelar! 

Membersihkan kota dari premanisme dan pengamen jalanan kerap memicu kegaduhan serta meresahkan masyarakat.

Raungan sirene mulai membelah jalanan kota. Iring-iringan konvoi truk penuh pasukan bersenjata bergerak taktis mendatangi titik-titik rawan kriminalitas. 

Begitu tiba di lokasi, para petugas langsung berloncatan turun, menyergap kerumunan anak muda tertangkap basah sedang mengganggu ketertiban umum.

."Bubaaar! Ada petugas!" teriak mereka panik. Lari tunggang langgang.

 Aparat bergerak cepat! Tanpa ampun, mereka yang mencoba kabur langsung dibekuk di tempat digiring masuk ke dalam truk.

Operasi ini tidak tebang pilih. Tak hanya laki-laki, banyak pula wanita muda ikut terciduk. Rata-rata mereka berpenampilan lusuh dengan rambut awut-awutan, tubuh dipenuhi tato, ditambah aroma alkohol menyengat keluar dari mulut mereka.

Sumpah serapah jeritan histeris mewarnai janannya operasi. 

Warga yang tidak terlibat memilih menjauh dari lokasi. Alih-alih menonton, mereka menyingkir, menjauh menyelamatkan diri.

Pembersihan serupa serentak terjadi di terminal, pasar, taman kota, alun-alun, hingga pusat perbelanjaan.

Markas geng Sumanto menjadi sasaran utama. Digerebek oleh gabungan satuan polisi, tentara, mendapati beberapa pengamen pria dan wanita lengkap dengan berbagai atribut jalanan mereka. 

Puluhan anak muda pria, wanita kebanyakan bertato di sekujur tubuh akhirnya pasrah saat digelandang masuk ke dalam truk.

Operasi ini berakhir di sebuah bangsal yang luas. Semua orang yang terciduk dikumpulkan menjadi satu. Didata satu persatu termasuk alamat rumah mereka masing-masing.

Petugas memanggil orang tua anak mereka yang terciduk agar dapat melihat dengan mata kepala sendiri kelakuan anak-anak mereka di jalanan.

Hiruk-pikuk pecah di dalam bangsal. 

Bau matahari, aroma alkohol, bau amis keringat, asap rokok bercampur aduk. Menyengat!

Suasananya sama sekali tidak terlihat seperti reuni sekolah SMP, SMA penuh dengan tawa. Melainkan berantakan bak kapal pecah. 

Ada yang menangis sesunggukan dipelukan orang tuanya. Tapi ada juga memandang sinis kedua, bapak ibunya. Entah ada apa dengan keluarga ini? Beberapa diantaranya cengangesan acuh tak acuh.

Kompol Bimo didamping oleh petugas dari Dinas Kementerian Sosial nampak sedang berdiskusi serius. Apa langkah selanjutnya dilakukan menangani anak-anak bermasalah ini. 

Meskipun menyadari langkah yang akan diambil tidak serta merta melenyapkan segala bentuk kejahatan. Namun setidaknya dapat mengurangi angka kriminilitas terjadi di Ibu Kota.

Lihat selengkapnya