TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #9

Dilema


Sebelumnya Sunarti saat di kampung halamannya di Gunungkidul pernah menikah dengan pemuda setempat. Keduanya kemudian memutuskan merantau ke Jakarta.

Di Jakarta suaminya bekerja sebagai kuli bangunan. Seiring dengan waktu, suaminya terpikat dengan wanita lain. Sunarti meminta cerai. Keduanya berpisah setelah menjalani pernikahan kurang dari satu tahun, belum sampai memiliki anak.

Sunarti tidak pulang kembali ke kampung, memilih bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sempat berganti majikan sampai tiga kali. Pada keempat kalinya dipertemukan dengan Sunarto.

Kedua orang tuanya sudah meninggal di saat Sunarti kecil. Tumbuh berkembang bersama nenek yang mengasuhnya. Keluarganya termasuk dari golongan tidak mampu.

Neneknya tidak mampu menyekolahkan cucunya sampai jenjang lebih tinggi. Alhasil hanya sampai tamat sekolah dasar saja.

Latar pendidikan yang minim ini setidaknya mampu digunakan untuk mengajari kedua anaknya, Ayu bersama Ragil, menulis dan membaca.

Lain halnya dengan Sunarto, suaminya sekarang, dulu keluarganya merupakan buruh petani di perbatasan Cianjur. Tidak memiliki lahan sawah sendiri, menggarap sawah milik orang lain dengan penghasilan pas-pasan untuk makan sehari-hari.

Sunarto tidak tahan bekerja di sawah, memilih ke kota. Namun sayang, salah memilih teman, terbujuk rayuan mengedarkan barang haram.

Sejatinya Sunarto pernah mengenyam pendidikan dasar pesantren. Di kota dikenal sebagai kota santri itu. Tidak heran ketika lepas dari bui tidak diterima lagi oleh warga di kampungnya. 

Menyesali masa lalu tapi tidak membuat hidupnya lebih baik, menerima nasib sebagai pemulung jalanan bersama gerobaknya.

Satu bulan berlalu, hakim menjatuhkan vonis selama delapan tahun penjara atas tindak pidana berlapis terhadap kelima terdakwa, Sumanto dan anak buahnya.

Ketika sidang berlangsung Rayhan dan Alesha dihadirkan sebagai saksi, demikian juga dengan Sunarti. Ketiganya merupakan saksi kunci atas terjadinya peristiwa dialami keluarga Sunarto.

Pada saat itulah Sumanto mengetahui peran sebenarnya dari kedua pasangan Rayhan dan Alesha. Memungkinkan kedatangan aparat begitu tiba-tiba atas informasi dari keduanya.

Seandainya tanpa peran dari keduanya, tidak mungkin dirinya bersama masing-masing keempat anak buahnya menerima hadiah tanda mata sebutir peluru bersarang di betis dan lengan.

Baru lima bulan mendekam di penjara, Sumanto sudah bisa menghirup udara bebas kembali. Akibat intervensi dari orang tuanya merupakan penjabat tinggi di kejaksaan, pernah tersandung tindak korupsi menerima suap.

Kebebasan Sumanto menjadi sinyal berbahaya terhadap keluarga Sunarto, terlebih kepada Rayhan. Merupakan sosok yang membuat dirinya dan keempat anak buah di bui merasakan pedihnya menerima terjangan peluru pada lengannya sampai cacat.

Misinya akan membalas dendam terhadap Rayhan dan istrinya, Alesha. Rela di bui kembali bila berhasil membunuh keduanya dengan tangannya sendiri.

Tidak main-main, Sumanto memiliki jaringan mata elang anak buahnya bisa mengendus, memberikan informasi keberadaan keluarga Rayhan.

Saat ini mereka sedang berkumpul berunding merencanakan aksinya.

"Lo udah nemuin rumah mereka?" Sumanto mengawali.

"Masih dicari, Bos! Belum juga nongol batang hidungnya."

"Gue yakin mereka sudah saling kenal sebelumnya," keyakinan Sumanto.

"Maksud Bos, keluarga pemulung itu?"

"Iya. Cari! Di mana keberadaan mereka sekarang. Kalau ketemu, bilang Sumanto mencari Rayhan. Suruh tunjukkan alamatnya."

"Belum lama mereka terlihat di sekitaran Stasiun Pasar Senen, berkemungkinan masih ada di sana."

"Samperin mereka sekarang juga!" perintah Sumanto.

"Bos enggak ikutan ke sana?"

"Gue nggak ada urusan lagi dengan mereka. Kecuali sama Rayhan bangsat itu!"

Lihat selengkapnya