TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #10

Ingkar Janji


Ketiganya meninggalkan keluarga Sunarto tanpa diwarnai drama keributan. Tapi ancamannya jelas. Keluarga Sunarto akan terus dibayang-bayangi kelompok geng Sumanto sampai Rayhan ditemukan!

"Bapak meyakini Sumanto sudah bebas dari penjara. Mereka sekarang sedang mencari keberadaan pasangan suami istri itu, Bu Ne."

"Astaga, Pak! Apa jadinya seandainya mereka memergoki keduanya di jalan, Pak?"

"Bapak yakin anak muda itu bisa mengatasinya."

"Bagaimana dengan ancaman mereka terhadap kita, Pak? Apa tidak sebaiknya kita mendatangi rumahnya memberitahukan kejadian barusan?"

"Terlalu riskan, Bu Ne, seandainya kita ke rumahnya. Mereka itu akan mengawasi kita terus. Soal ancaman mereka itu, Bu Ne tidak usah perlu khawatir."

"Seandainya Sumanto nanti datang menemui kita lagi, Ibu takut, Pak." Ini yang dikhawatirkan Sunarti.

"Sepertinya anak itu enggan menemui Bapak. Mereka sudah merasakan akibatnya mengganggu Bu Ne dan anak kita."

Meneruskan lagi, "Hanya saja urusannya berbeda dengan pasangan yang berkali menolong kita, sepertinya ada dendam pribadi."

"Mudah-mudahan saja tidak terjadi apa-apa dengan mereka, Pak."

"Bapak juga berharap begitu. Sekarang Bu Ne sama anak-anak tidur saja. Bapak akan berjaga-jaga."

Rumah Gerobak sedari tadi melihat dan mendengar percakapan ini hanya bisa diam membisu. Mendekap Ayu dan Ragil yang sudah terlelap dalam pangkuannya.

Dalam perjalanan pulang setelah menonton bioskop, keduanya terlibat percakapan di dalam mobil.

"Sudah lima bulan lebih kita tidak pernah menemui mereka lagi, Pa." Alesha memulai percakapan.

"Mereka selalu berpindah-pindah tempat, tidak mungkin kita mengikutinya terus, Ma." Rayhan menanggapi.

"Tapi kenapa juga mereka tidak datang ke rumah, bukankah Papa sudah berjanji mau mengajak anak-anaknya?" mengingatkan suaminya.

"Mungkin saja mereka malu ke rumah, atau berkemungkinan kartu nama Papa berikan hilang."

Melanjutkan lagi, "Bagaimana kabar Yola, teman Mama, tentang yayasan? Mama sudah menghubunginya, kan?"

"Mama sudah ceritakan semua. Saudaranya minta agar dipertemukan dengan mereka."

"Semoga saja kita bisa bertemu dengan mereka lagi." Harapan keduanya.

Sedang asyik mengobrol di saat itu juga, tiba--tiba datang dua sepeda motor memepet dari samping kiri dan kanan sambil menunjuk-nunjuk. Keduanya tanpa menggunakan helm, berjaket lusuh, berambut gondrong.

Rayhan, Alesha kaget setengah mati. Kedua sepeda motor itu terus mengikutinya dari samping. Berteriak-teriak tidak jelas, terus menunjuk-nunjuk.

Rayhan mampu mengendalikan situasi, terus melajukan mobilnya menunggu apa yang akan dilakukan kedua pengendara sepeda motor itu.

"Siapa mereka ini, Pa? Papa enggak menyenggol mereka tadi, kan?"

"Biasa, itu modus untuk memeras. Bagaimana kita bereskan mereka, Ma?" penuh percaya diri.

"Terserah bagaimana baiknya Papa. Resek banget tuh orang," menggerutu atas tingkah laku kedua pengendara sepeda motor.

Rayhan menggeber laju mobilnya, pengen tahu reaksi mereka. Ternyata tidak mau kalah, kedua motor itu berusaha melewati mobil dikemudikan oleh Rayhan.

Kejar-kejaran terjadi di jalan yang terlihat lenggang. Kali ini kesabaran Rayhan sudah mencapai klimaksnya, gerah dibuntuti kedua motor tersebut. Segera menepikan mobilnya.

Dengan gaya layaknya koboi berhenti di depan mobil. Keempatnya turun dari sepeda motor. Salah satu dari mereka membawa kelewang!

Segera Rayhan mendahului mendobrak pintu mobilnya, keluar dengan menggenggam sepucuk pistol jenis Barreta Series Kaliber 22 sambil menodongkan pistolnya. Alesha segera menghubungi Bimo!

Melihat Rayhan menggenggam sepucuk pistol, keempat pemuda berbalik, berlari langsung naik kembali ke motornya, tancap gas meninggalkan mobil Rayhan.

"Tidak usah dikejar, Pa. Biar anak buah Bimo menyelesaikannya."

Di ujung jalan yang dilewati, dua mobil patroli polisi menyergap empat pengendara sepeda motor tanpa helm yang menggunakan jaket kumal. Tanpa perlawanan, keempatnya digiring masuk ke dalam mobil.

Rupanya Rayhan sudah mendapat izin resmi menggunakan senjata api. Ini merupakan aksi pertamanya ketika diganggu geng motor jalanan tanpa ada yang terluka sedikit pun.

Bimo, Rayhan, dan Alesha bertemu kembali di sebuah lapangan padel. Dewi, istrinya, baru saja menyelesaikan game bersama temannya, sekarang turut bergabung.

"Kemaren dengar-dengar Mas Rayhan sama Mbak Alesha diganggu anak-anak jalanan. Bagaimana ceritanya, Mbak?" sapa Dewi sambil menyeka keringatnya.

Lihat selengkapnya