Betapa terkejut Sunarto mendapatkan istri dan kedua anaknya sudah tidak ada di tempat, hanya gerobaknya saja masih ada.
"Bu Ne! Ayu! Ragil! Di mana kalian? Ini Bapak sudah pulang."
Bagaikan orang kesurupan, ia berteriak histeris memanggil-manggil istri dan kedua anaknya. Bolak-balik berlari ke sana ke mari, membuat warga melihatnya heran, ada apa dengan Bapak itu.
Beberapa kali bolak-balik ke tempat gerobaknya, kemungkinan istrinya sudah kembali. Namun, tetap saja tidak ada. Hanya gerobak ditemui masih bersandar, tidak bergeser dari tempatnya.
Diam membisu!
Mulai panik, tenaga sudah terkuras habis, perut terasa melilit belum makan juga. Nasi hanya sebungkus sejatinya akan diberikan kepada istri bersama kedua anaknya, terpaksa dimakannya sendiri.
Terduduk lesu berurai air mata, ke mana lagi harus mencari? Memaki diri sendiri atas kebodohan dilakukan meninggalkan istri dan anaknya. Padahal, sudah berjanji sebelumnya akan selalu menjaga setiap saat.
Awan hitam berarak menaungi Sunarto bersama gerobak, seakan turut berduka atas kemalangan untuk kesekian kalinya dialami Sunarto.
Mulai mencerna apa apa terjadi pada istri dan kedua anaknya. Apakah diculik oleh kelompok Sumanto atau jangan-jangan... Batin tercekat untuk melanjutkan prasangka kemungkinan terjadi
Namun, harus terucap dalam hati kemungkinan istrinya sengaja meninggalkan dirinya dengan membawa kedua anaknya karena sudah tidak tahan lagi hiduo bersama suaminya.
Tidak akan mampu membahagiakan istri beserta kedua anaknya sampai kiamat sekali pun!
Bercampur aduk prasangka menggelayut dalam pikiran Sunarto. Seandainya benar-benar diculik oleh geng Sumanto, harus siap menghadapi situasi terburuk, mempertaruhkan nyawa demi kebebasan keluarganya
Namun, harus pasrah juga tahu diri alasan Sunarti meninggalkan dirinya karena kondisi ekonomi yang akut.
Kemampuan bisa diandalkan hanyalah gerobak dorongnya saja untuk menghidupi keluarganya.
Dalam kebimbangan tidak menentu, memutuskan untuk tetap bertahan hidup dengan gerobak dorong sudah bertahun-tahun setia menemani dalam suka duka.
Tidak akan meninggalkannya. Sepertinya sudah menjadi bagian keluarga sendiri.
Berencana akan ke rumah pasangan Rayhan, Alesha untuk meminta bantuan, urung dilakukan.
Dua kemungkinan terjadi pada istri, kedua anaknya membelenggu niatnya.
Berujung disalahkan karena keteledoran pernah berjanji tidak akan meninggalkan keluarga hadapan Rayhan, Alesha.
Mulai menapak kembali jalanan aspal berasap bersama rumah gerobak, tinggal satu-satunya harapan dimiliki.
Sementara hujan turun dengan lebat, terus berjalan tertatih-tatih, basah kuyup menerobos lorong kegelapan meratapi nasibnya.
Bimo datang memberitahukan perkembangan. Sudah berdiskusi dengan Dinas Kementerian Sosial, mereka menyanggupi akan mengadopsi kedua anak keluarga Sunarto. Nantinya akan ditempatkan di sebuah yayasan.
"Ada juga sih saudara teman Alesha bersedia menampung keduanya."
"Bagus kalau begitu, tinggal koordinasi saja. Rekomendasi dari Dinas Kementerian Sosial."
"Kita harus segera mencari keberadaan keluarga Sunarto sebelum terjadi apa-apa dengan mereka."
Bimo akan kerahkan personel untuk melacak keberadaan mereka.
Melanjutkan lagi, "O ya, Mas sudah dengar kabar asosiasi advokat menggugat ke Mahkamah Agung perihal pembebasan Sumant" Berkemungkinan besar seandainya dikabulkan, Sumanto bakal dijebloskan kembali ke dalam sel sesuai vonis semula, delapan tahun.
"Wah, bagus itu, tidak akan mengganggu kita dan keluarga Sunarto lagi," Rayhan.menanggapi.
"Bapaknya ada kemungkinan akan dicopot dari jabatannya," lanjut Bimo.
"Tapi sebelum itu terjadi..." Alesha tidak melanjutkan ucapannya, tidak berani berandai-andai.
Sunarto tetap menjalani kehidupan seperti semula. Biar bagaimanapun dia butuh makan! Meskipun sekarang tidak ditemani lagi oleh istrinya