TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #12

Psikopat

Operasi pembebasan segera digelar melibatkan berbagai unsur kesatuan. Sampai saat ini belum ada tuntutan dari para penculik, ditengarai dilakukan oleh kelompok geng Sumanto.

Markas geng Sumanto digerebek. Sama seperti penggerebekan yang pernah dilakukan, hanya mendapatkan anak-anak muda pengamen dan bocah-bocah nakal suka mabuk-mabukan.

Tidak tahu-menahu masalah penculikan dilakukan Sumanto, serta tidak ditemukan bukti kuat mereka terlibat. Namun Sumanto, disangkakan sebagai dalang penculikan, tidak berada di markasnya; menghilang tanpa jejak.

Rumah orang tua Sumanto tidak luput diacak-acak, berkemungkinan Sunarti, Ayu, serta Ragil disekap dalam rumah ini, tapi tidak juga ditemukan.

Ayah Sumanto digelandang ke markas, diinterogasi peran sertanya dalam aksi penculikan dilakukan oleh anaknya, serta dipaksa menunjukkan keberadaannya. Betkemungkinan bersama dengan ketiga sanderanya.

Belum menemukan titik terang keberadaan Sunarti, Ayu, dan Ragil, meskipun sudah dilakukan penggeledahan di berbagai tempat ditengarai menjadi tempat disembunyikannya istri dan kedua anak Sunarto.

Masalahnya, tidak ada komunikasi dengan Sumanto mengenai apa yang menjadi tuntutannya agar dapat melepaskan ketiga sanderanya.

Sunarto masih dimintai keterangan. Kondisinya sangat memprihatinkan mengetahui kejadian sebenarnya istri beserta kedua anaknya diculik.

Syok berat. Awalnya menyangka istrinya sengaja meninggalkan dirinya merasa dikhianati, kenyataannya tidak seperti itu.

Pemeriksaan terhadap Sunarto dianggap sudah selesai, semua yang dijelaskan sudah cukup bagi penyidik. 

Lagi pula, Sunarto tidak mengenal dalang utama penculikan, Sumanto; berjumpa tatap muka sekalipun belum pernah, apalagi berinteraksi. Kecuali istrinya, Sunarti, berkali-kali berhadapan langsung dengan Sumanto.

Setiap kejadian yang dilakukan oleh Sumanto terhadap keluarganya selalu terjadi di saat Sunarto tidak ada di tempat!

Jadi kesimpulannya, Sunarto sudah tidak diperlukan lagi dalam operasi pembebasan keluarganya. Semua akan ditangani oleh aparat yang tergabung dalam operasi itu.

Tinggal duduk manis saja sambil menunggu kabar perkembangan jalannya operasi. Seandainya berhasil menyelamatkannya, istri dan kedua anaknya nantinya akan diserahkan kepada Sunarto sebagai kepala keluarga.

Sebagai tulang punggung keluarga, ia tidak ingin diremehkan dan direndahkan oleh siapa saja. Meskipun tidak bisa dibantah, dirinya hanyalah seorang pemulung gerobak biasa. Siapa yang mau peduli?

Tidak ingin berpangku tangan, duduk manis menunggu kabar. Sunarti merupakan belahan jiwanya, kedua anaknya, Ayu dan Ragil, bak permata tidak ternilai bagi Sunarto.

Keluarganya mutlak menjadi tanggung jawab Sunarto, jangan selalu minta bantuan orang lain. Bertekad akan mencari sendiri istri dan kedua anaknya, meskipun aparat juga sudah dikerahkan untuk dapat membebaskan keluarganya.

Gerobak yang dititipkan saat ini sudah kembali bersama dengan pemiliknya, Sunarto, tapi sekarang sudah tidak lagi mengasuh istri dan kedua anak pemiliknya.

Meskipun tidak bernyawa, gerobak itu juga ikut merasakan kehilangan; tidak lagi bisa mendekap Ayu dan Ragil seperti sebelumnya. 

Selama bertahun-tahun selalu setia mengasuh keduanya dari sejak bayi sampai tumbuh besar.

Kini bersama pemiliknya, Sunarto bertekad akan mencari keberadaan keluarganya sampai dapat ditemukan, apa pun risiko yang akan dihadapinya.

Sunarto membekali dirinya dengan sebilah parang ditempatkan di bawah landasan gerobaknya. Akan menghadapi Sumanto, Menjadikannya sebagai musuh besar sudah kedua kali ini mengganggu keluarganya. 

Kenapa tidak berani menghadapi dirinya sendiri, bertarung sebagai laki-laki satu lawan satu secara kesatria dan jantan? Jangan beraninya hanya dengan ibu-ibu dan anak kecil.

Niat Sunarto ini tidak main-main!

Lihat selengkapnya