Di antara kerumunan warga, terus mengikuti langkah kaki seorang pria paruh baya beralas sandal jepit sudah menipis telapak karetnya.
Bertelanjang dada berbalur jelaga hitam, terus melangkah tidak mempedulikan sorak-sorai ramai anak-anak, tua, muda, sampai ibu-ibu terus memberikan semangat.
Para pengendara sepeda motor dan mobil turut memperhatikan aksi bapak pemulung ini. Seumur-umur mereka tidak pernah melihat ada orang seperti ini.
Di mana seorang bapak-bapak dengan gigih mencari anak dan istrinya diculik, disekap oleh Sumanto, menantang untuk berduel demi kebebasan istri dan anaknya.
Bapak ini bukan dari orang terpandang, tidak juga dari orang kaya mampu membayar tebusan diminta oleh para penculiknya. Namun, hanya seorang pemulung dengan gerobak kayu selalu dibawa kemana-mana untuk menghidupi keluarganya.
Sudah lebih dari seminggu tidak diketahui nasib istri dan anaknya, merasa berdosa besar telah menganggap istrinya berkhianat padahal tidak seperti itu. Ikatan saling berjanji untuk selalu bersama ternyata masih tetap dipegang teguh oleh istrinya.
Apa jadinya seandai istri dan Ayu, anak perempuannya, direnggut kesuciannya selama dalam sekapan Sumanto bersama anak buahnya? Terasa remuk redam membayangkannya.
"Pa! Pa! Cepat ke sini! Coba lihat berita di televisi ini!"
Alesha tertegun menatap layar kaca di depannya.
"Ada berita apa, Ma?"
"Bukankah itu Pak Sunarto? Coba Papa lihat!"
Benar saja! Berita televisi pagi ini menayangkan sebuah kejadian yang tidak biasa.
"Astaga, Pa, sampai segitunya Bapak Sunarto melakukan seperti itu. Apa Bimo sudah tahu ini, Pa?"
Rayhan ikut terpana menatap tajam layar kaca tanpa berkedip. Aksi yang dilakukan Sunarto menggelandang di jalan umum sambil menarik gerobak bukan dipenuhi dengan barang-barang bekas, melainkan spanduk bertuliskan nada konfrontatif dengan cepat menyebar.
Diliput oleh media cetak dan televisi menjadikan berita viral pagi ini.
Segera Rayhan menghubungi Bimo, "Sudah lihat berita pagi ini?"
"Sudah, Mas. Saat ini Bimo sedang berkoordinasi mengambil keputusan terbaik. Mas sama Mbak sebaiknya datang kemari."
Aksi demonstratif dilakukan Sunarto sudah termasuk mengganggu ketertiban umum, berpotensi mengancam keselamatannya sendiri. Selain itu, dapat menimbulkan persepsi berbeda di masyarakat umum, terutama bagi penegak hukum dalam menangani kasus penculikan ini.
Sunarto dibawa ke markas bersama gerobak dorongnya, spanduk terpasang dilepas oleh aparat.
"Demi keselamatan Bapak sendiri, sebaiknya hentikan aksi konfrontatif yang Bapak lakukan ini. Percayakan pada aparat. Kami akan bekerja semaksimal mungkin untuk dapat menemukan keluarga Bapak."
Bimo menguraikan dampak akan terjadi bilamana Sunarto terus melakukan aksi ini. Sudah terdengar tuntutan dari masyarakat agar penegak hukum dapat segera menuntaskan kasus penculikan ini.
Sunarto berkilah aksi dilakukannya merupakan tanggung jawab sebagai kepala keluarga, merasa bersalah dan berdosa telah menelantarkannya.
Hanya mendatangkan musibah berkali-kali dialami istri dan kedua anaknya selama menjalani kehidupan sebagai pemulung gerobak dorong.
Akan menebus semua ini, merelakan seandainya istrinya dan kedua anaknya memutuskan meninggalkan dirinya untuk menjalani kehidupan lebih baik.
Sunarto bersikeras untuk mencari sendiri keberadaan keluarganya bersama gerobak dorongnya sampai dapat menemukannya.
"Bagaimana sebaiknya kita lakukan?"