Setelah menerima sepucuk pistol jenis revolver kaliber 22 dengan selusin peluru dalam kardus beserta uang sebanyak lima puluh juta rupiah dari orang tuanya, Sumanto mulai beraksi.
Merakit alat peledak portabel dikendalikan dengan detonator listrik diperoleh dari mantan anak buahnya yang mengetahui seluk-beluk alat peledak portabel ini dibenamkannya ke dalam bunker tempat Sunarti, Ayu, dan Ragil disekap.
Astaga! Apa maksud Sumanto yang sebenarnya sampai tega-teganya menggunakan alat peledak pada seorang ibu-ibu dengan kedua anaknya yang sudah teramat tersiksa di dalam bunker?
Bukankah tujuan utamanya hanya ingin membalas dendam dengan Rayhan, kenapa harus meledakkan bunker segala, dengan membinasakan ketiga sanderanya?Terbuat dari apa Sumanto ini sebenarnya?
Dengan mimik seorang psikopat, Sumanto tersenyum puas berhasil merangkai bahan peledak tertanam dalam bunker, tidak memedulikan rintihan dan tangisan dari seorang ibu-ibu dengan kedua anaknya sudah terlalu tersiksa dalam bunker.
Ini pertama kalinya Sumanto menemui ketiga sanderanya bukan untuk memberi ransum makan seperti biasa diterima. Kali ini, sajian menu terakhir berupa bubuk Trinitrotoluena (TNT) terpasang pada dinding bunker.
"Apa yang Abang lakukan? Tolong bebaskan kami. Apa Abang tidak melihat kondisi anak-anak ini? Kasihani kami, Bang, sudah tidak tahan lagi berada di sini."
Sumanto tidak bernafsu lagi menggagahi Sunarti karena baunya tidak ketulungan. Seperti pernah dilakukan saat menyandera ketiganya di depan pertokoan. Berhasil dicegah oleh Rayhan dan Alesha.
"Sebentar lagi bapak anak-anak ini datang menjemput kalian bersama kedua bajingan itu," membanting keras pintu bunker. Tanpa menghiraukannya lagi.
"Kenapa kejam sekali Abang itu, Mak? Benarkah bapak akan datang menjemput kita seperti yang dikatakannya tadi?"
"Semoga saja benar seperti yang diucapkannya, Nak."
Dengan kepolosannya, Ayu terus mengigau menanyakan hal yang dilihat didengarnya barusan.
"Abang itu menaruh apa, Mak, di dinding ada kabelnya segala? Terus tadi bilang ada kedua 'bajingan' akan ikut bersama bapak menjemput kita, siapa, Mak?"
Sebodoh-bodohnya Sunarti, Sunarti bisa mengetahui benda apa itu terpasang di dinding, pernah dilihatnya di televisi suka menonton film dan drama sinetron saat menjadi pembantu rumah tangga. Tidak akan memberitahukan kepada kedua anaknya, hanya berucap,
"Jangan dipegang, Nak, nanti kesetrum."
Sunarti juga tahu siapa kedua bajingan disebut Abang tadi, tidak bisa membayangkan apa yang terjadi nantinya.