Beberapa warga beraktivitas seperti biasa di sekitar lokasi titik koordinat penjemputan. Mereka tidak mengetahui bahwasanya satu blok dari pusat keramaian, pada sebuah area terbuka, terdapat bekas pabrik onderdil kendaraan yang sudah tidak difungsikan lagi Menyimpan satu misteri yang belum terkuak.
Bangunan sudah rapuh dikelilingi semak belukar itu berisi beberapa peralatan mesin pembuatan onderdil yang sudah rusak, berkarat, serta terbengkalai. Suasananya terasa angker. Bahkan, pemulung besi bekas pun tidak berani mengambilnya.
Rayhan dan Alesha bersama Sunarto akan mendatangi tempat ini atas undangan sosok yang dicari-cari aparat. Mereka akan menjemput tiga sandera yang diculik dalam bunker oleh geng Sumanto, yang konon kabarnya akan dibebaskan.
Apakah seperti itu? Bisa jadi ini sebuah jebakan untuk menghabisi Rayhan dan istrinya, termasuk Sunarto yang sudah berani terang-terangan menantang sosok Sumanto. Tidak bisa dipastikan apakah lokasi bunker berada di dalam bekas pabrik itu.
Masih seperti biasa, tukang siomay, gerobak bakso, pedagang mainan anak-anak, dan pemulung biasa mondar-mandir di sekitar lokasi pabrik.
Namun, bila dicermati, mereka bukan pedagang sungguhan, melainkan intel yang sengaja menyamar sebagai pedagang agar terlihat seperti aslinya. Mereka bertugas memantau situasi dan pergerakan anggota kelompok geng Sumanto.
Tidak ada yang mencurigai bekerja senyap. Berpakaian lusuh, tetapi sorot matanya bak mata elang yang mengintai mangsanya.
Waspada penuh dengan kehati-hatian, melakukannya siang dan malam. Sampai pada waktunya, Rayhan, Alesha, dan Sunarto memenuhi undangannya.
"Pukul! Tendang yang keras!"
"Awas serangan pisau dari belakang!"
"Banting! Kunci tangan ke belakang!"
Menggeluti bela diri judo dan taekwondo sebelum mereka menikah, keduanya berlatih keras memainkan jurus-jurus yang pernah mereka pelajari sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga diri dari kemungkinan buruk akan terjadi.
Sunarto, mantan pendekar silat di kampungnya, ikut bergabung berlatih bersama. Didampingi pelatih bela diri, menambahkan ilmu tentang cara menangkis serangan senjata tajam.
Ketiganya menggunakan dogi (busana karate) dan pelindung wajah dengan alas matras.
"Wah, hebat juga ternyata! Bapak pakai jurus tendangan apa tadi, Pak, sampai suami saya terjengkang?"
"Neng ini bisa saja. Saya pelajari waktu di kampung dulu. Namanya jurus 'Bangau Bersayap'. Menendang dari sudut yang sulit diduga."
"Wiih keren .... Ajari kita, Pak!"
Mereka tertawa bersama.Tidak ada rasa takut menghadapi kejadian sesungguhnya nanti.
Bimo mengatur strategi bersama staf dan jajarannya. Melibatkan anggota Gegana penjinak bom, anjing pelacak, termasuk kendaraan taktis yang akan digunakan.
Sunarto bersikeras akan membawa gerobak dorongnya. Ia beralasan untuk mengangkut istri dan kedua anaknya bila berhasil dibebaskan nanti. Alasan yang logis dan dapat diterima.
"Ada beberapa skenario yang akan terjadi. Penjemput akan digiring ke suatu tempat, kemudian akan dieksekusi di tempat itu juga dengan kedua tangan terikat. Kemungkinan kedua, Sumanto akan menangani Mas Rayhan terlebih dahulu, kemudian beralih ke Bapak Sunarto, sementara Mbak Alesha dengan detenator ditangan Sumanto akan dijadikan tameng untuk pelarian mereka," analisis tim ahli penanggulangan teroris.
"Bagaimana dengan bunker tempat ketiga sandera disekap? Sudah dipasang bahan peledak?"
"Kita belum tahu pasti lokasi bunkernya. Belum ada laporan dari petugas intel di lapangan, tetapi kemungkinan besar tidak jauh dari bangunan pabrik. Bisa juga berada di dalam pabrik itu sendiri," berhenti sebentar.
Melanjutkan lagi, "Bahan peledak digunakan sepertinya jenis bubuk TNT high explosive. Bisa diledakkan dari jarak jauh dengan perantara kabel listrik, atau Nonel (non-elektrik) tanpa kabel. Bisa juga menggunakan detonator elektronik yang dikendalikan oleh chip mikroprosesor internal untuk mengatur waktu jeda peledakan (timer)."