TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #17

Lonceng Kematian

"Bapak, bantu suami saya! Alesha akan menyusul Bimo mencari keluarga Bapak."

Alesha berlari menyusul Bimo diikuti beberapa anggota mencari sumber suara meminta tolong.

Suasana dalam area terbuka bangunan pabrik kacau-balau. Tampak beberapa kendaraan polisi dan militer memasuki area. Berlompatan para anggota bersenjata lengkap.

Beberapa anggota berlarian ke sana kemari mencari bunker tersembunyi.

Lonceng kematian sudah mengintai di atas langit kelabu bangunan tua bekas pabrik. Bom dalam bunker akan segera meledak!

"Minggir semua, minggir! Menjauh!"

Masyarakat datang berbondong-bondong menyaksikan kejadian, diblokir petugas keamanan.

"Di mana bungkernya, Bimo?!" Alesha berteriak di belakang Bimo.

"Di sana suaranya datang!"

Diikuti dua anggota penjinak bom, sumber suara ditemukan jauh di belakang bangunan pabrik.

Memerintahkan semua anggota menjauh, hanya menyisakan Alesha, Bimo, dan dua anggota Gegana.

Lokasi bunker terletak di belakang pabrik di area terbuka, sepertinya dulu gudang untuk penyimpanan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dihasilkan pabrik.

Bimo beserta dua anggota Gegana mendobrak pintu bunker kesal, marah mendapatkan pintu bunker terkunci rapat, ''Godamm!,'' seru Bimo.

Suara tangisan dalam bunker semakin memilukan.

"Mundur ke belakang cepat!" memerintahkan orang di dalam bunker menyingkir ke tembok.

Sunarti dan Ayu menggeret Ragil ke dinding tembok.

"Dor! Dor!" Dua kali letusan seniata laras panjang memutuskan rantai gembok.

Pintu bunker terbuka! Suara peringatan bom berdaya ledak tinggi dalam bunker semakin cepat tanpa jeda, menunjukkan angka 01.30. Menyisakan waktu satu menit tiga puluh detik lagi!

Dua anggota Gegana berusaha cepat menggapai satu per satu, mengeluarkannya dari pintu lubang bunker sempit hanya cukup untuk satu orang saja.

Tidak ada waktu untuk mematikan timer, dan memang tidak bisa dimatikan, akan sia-sia saja.

Alesha jongkok menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, teramat cemas.

Pertama Ragil dahulu dibantu Sunarti dan Ayu.

"Cepat! Cepat!" meraih tangan Ragi.

Kemudian Ayu, berhasil digapai terakhir Sunarti sempat kesulitan mengangkatnya. Keringat dingin mengucur deras di pelipis kedua anggota.

Bahan peledak sudah mulai berasap, tinggal beberapa detik lagi bunker akan meledak dengan dahsyat!

Lihat selengkapnya