Seorang pria paruh baya tertunduk lesu di pojok sempit ruang tahanan berukuran 250 cm x 160 cm bersama dua orang tahanan lainnya berusia tidak jauh dengannya. Keduanya sedang asyik bermain catur.
"Jangan melamun terus, Pak, nanti malah sakit," sapa Pak Dayat, tersandung kasus pencurian dengan kekerasan.
"Iya, Pak, jalani saja kalau memang sudah takdir," komentar salah satunya lagi, Pak Kadir, hampir sama kasusnya dengan Pak Dayat.
"Mending main catur saja, Pak, menghilangkan stres."
Bapak sedang melamun itu diam saja tidak menjawab. Menerawang jauh sampai menembus tembok, membayangkan istri dan kedua anaknya sedang berada di dalam rumah sakit. Baru saja bertemu selama dua hari, lalu harus dipisahkan kembali.
Seorang sipir tahanan datang membawa serenteng kunci gembok. "Pak Sunarto, ikut sama saya. Ada yang mau bertemu dengan Bapak. Dipakai kemejanya, Pak."
Di ruang khusus penerima tamu tahanan, duduk seorang wanita muda sudah menunggu.
Menyambut Pak Sunarto, "Bagaimana, Pak, sehat-sehat saja? Ini saya bawakan makanan untuk Bapak. Makan saja sambil kita bincang-bincang."
"Terima kasih, Neng, nanti saja barusan makan tadi. Apa masih di rumah sakit istri dan anak saya?"
"Masih, Pak, mungkin dua sampai tiga minggu dirawat. Bapak tidak usah khawatir, kondisinya berangsur semakin membaik. Ayu, Ragil selalu menanyakan Bapak."
Basah sepasang kelopak mata kedua anaknya disebut. "Sampaikan kepada keduanya Bapak merindukan. Apa mereka sudah tahu Bapak ada di sini?"
"Dari pihak kepolisian sudah memberitahukannya kepada Ibu bahwasanya Bapak perlu diperiksa menyangkut terbunuhnya pelaku utama di tangan Bapak."
Sunarto menghela napas panjang. Sepertinya setiap napas yang dihembuskan hanya membawa petaka bagi istri dan kedua anaknya.
"Saya ke sini mau memberi kabar baik untuk Bapak."
"Kabar tentang apa, Neng?"
"Tentang nasib kedua anak Bapak. Kami sedang mengusahakan setelah keluar dari rumah sakit nanti keluarga Bapak dapat ditampung di sebuah yayasan. Nantinya Ayu dan Ragil akan mendapat pendidikan sebagaimana mestinya."
Terharu Sunarto mendengar kabar ini. "Bagaimana lagi Bapak harus membalas budi sama Neng?"
"Bapak juga sudah berjasa menyelamatkan suami saya. Saya bersama Mas Rayhan sudah menganggap Bapak, Ibu, Ayu, dan Ragil bagian dari keluarga kami. Sepertinya sudah digariskan seperti itu."
"Di mana disimpan gerobak Bapak, Neng?"
"Aman, Pak, disimpan di gudang kantornya Bimo."
"Rasanya Bapak tidak bisa menjalani hidup tanpa bersamanya."
"Alesha bisa memahami. Saya tidak bisa berlama-lama di sini, soalnya mau kembali ke rumah sakit. Pamit dulu, Pak, kapan nanti saya akan datang kembali bersama Mas Rayhan."
"Terima kasih bingkisan makanannya, Neng."
Sementara di rumah sakit, Sunarti, Ayu, dan Ragil masih dirawat tanpa didampingi oleh Bapaknya.
"Mak, kenapa Bapak ditahan? Memang Bapak salah apa?"