Kebebasan Sunarto menandakan hukum telah berpihak kepada rakyat kecil yang tertindas, menegaskan perilaku yang sewenang-wenang tidak akan mendapatkan tempat di mata masyarakat luas.
Selepas dari ruang sidang, Sunarto dielu-elukan para simpatisan sambil meneriakkan yel-yel bersahut-sahutan.
"Hidup Sunarto!"
"Sunarto bebas, horee!"
Berebut saling menyalami, petugas dibuat kewalahan mengamankan Sunarto. Insan wartawan ikut mengabadikan momen ini, tidak ketinggalan Bapak Darmuji, mantan bos lapak Sunarto, ikut memberikan selamat.
"Selamat, ya. Jaga istri dan anakmu baik-baik, jangan sungkan ke tempat Bapak kalau ada perlu apa-apa."
"Terima kasih, Pak."
Terlebih bagi Sunarti, Ayu, dan Ragil, tidak bisa diungkap dengan kalimat apa pun selain rasa bahagia terpancar dari raut wajah mereka masing-masing melihatnya di layar kaca.
Tidak lagi menggunakan mobil tahanan tapi mobil milik kejaksaan, Sunarto dibawa kembali ke Lembaga Pemasyarakatan untuk mengurus segala administrasi kebebasannya.
Sunarti, Ayu, serta Ragil sudah dinyatakan sembuh meskipun belum sepenuhnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
Sampai pada akhirnya, Sunarto dan keluarganya dapat berkumpul kembali. Demikian juga dengan gerobak dorong sudah menjadi bagian dari keluarga yang tidak dapat terpisahkan.
Tidak punya rumah untuk ditempati, alam terbuka dengan segala ketidakpastiannya kembali menjadi satu-satunya tempat bernaung. Mereka kembali terlempar ke dalam pangkuan jalanan sekadar untuk memperpanjang napas.
Sudah terlalu banyak cobaan dialami keluarga ini. Meskipun doa dipanjatkan setiap matahari mulai merekah, tidak juga membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik, hanya cobaan demi cobaan terus menghampirinya.
Apakah tidak ada harapan lagi untuk dapat mencicipi sedikit saja aroma madu kebahagiaan?
Saat ini mereka berada di persimpangan jalan tanah lapang.
Sunarto tengah membayangkan segala kejadian pernah dialami istrinya akibat dirinya tidak mampu membahagiakan keluarganya.
Kelelahan mental yang kronis ini akhirnya meruntuhkan pertahanan Sunarto sebagai kepala keluarga.
Di bawah cuaca tidak baik-baik saja, sebentar lagi akan turun hujan, hanya berdua saja sementara kedua anaknya tertidur.
"Bu Ne, Bapak sudah tidak tahan lagi."