TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #22

Lembaran Baru Ayu Ragil

Hujan sudah reda sejak tadi. Matahari bersiap menjalankan tugasnya memberikan kehangatan bagi semua orang yang mulai beranjak mengayuh roda kehidupan agar terus berputar meraih asa.

Sampai menjelang pagi, ketiganya masih meringkuk berjejal di bawah kolong gerobak sempit menahan dingin yang luar biasa. Pakaian dikenakannya basah kuyup. Sunarto masih duduk terpekur sepanjang malam tanpa atap menaunginya. Tidak beranjak semalaman.

Sunarti, Ayu, dan Ragil mendekati lalu merangkul Sunarto dari belakang. Sunarto memberikan respons mendekap ketiganya. Seketika itu, bunga-bunga kembali bermekaran seiring embun pagi membasahi mahkota bunga warna-warni.

Rayhan dan Alesha baru saja menyelesaikan sarapan paginya, Truffle Scrambled Egg diselingi dengan Avocado Feta Toast. Menu itu sangat kontras dengan sarapan pagi yang disiapkan Sunarti bagi suami dan anak-anaknya pagi ini. Sarapan mereka hanya berupa tiga bongkah ubi rebus tanpa tambahan kudapan apa pun, cukup diakhiri dengan segelas air putih.

"Pa, bukankah pagi ini kita akan menemui keluarga Sunarto sebelum mereka berpindah tempat?"

"Masih di persimpangan jalan itu, kan?"

"Mama sudah siapin makanan buat mereka. Ayo kita jalan, Pa!"

Sudah sampai di tempat tujuan, dari kejauhan sudah terlihat keluarga Sunarto dengan gerobaknya.

"Sepertinya tempat ini diguyur hujan semalam. Tempat kita kok enggak, ya?"

"Astaga, mereka basah-basahan! Kenapa tidak berteduh saja di pos seberang jalan itu? Ada apa lagi dengan mereka?"

Alesha dan Rayhan turun menghampiri. Alesha merasa curiga melihat istrinya berwajah sembab, sedangkan suaminya sedang mengupas ubi rebus yang diberikan kepada Ragil.

Ayu melompat menghampiri kegirangan karena kedatangan pasangan yang sudah sangat dikenalnya.

"Ada apa dengan Bapak, Ibu Ayu?"

"Bapak sama Ibu habis bertengkar semalam, Kak, sampai Bapak menampar Ibu," menceritakannya dengan berbisik.

"Kenapa sampai begitu?"

"Bapak berencana mau meninggalkan Ibu malam itu."

Rayhan sedang mengobrol dengan Ibu dan Bapaknya sambil memberikan bingkisan makanan, disusul oleh Alesha.

"Ada apa dengan Bapak dan Ibu semalam, kalau Alesha boleh tahu?"

Sunarti menceritakan kejadian semalam, hampir saja mereka berpisah malam itu.

Alesha dan Rayhan bisa memahami jalan pikiran Bapaknya anak-anak, dalam situasi sulit di bawah tekanan mental yang berat. Namun, dengan meninggalkan begitu saja tanpa ada kepastian ke mana istri dan keduanya akan berlabuh nantinya, bukanlah merupakan keputusan yang bijak sama saja menggali lobang keterpurukan lebih dalam lagi.

Rumah tangga yang sudah dibina puluhan tahun lamanya itu akan menjadi taruhannya tidak akan bisa direkatkan kembali dikemudian hari.

"Ibu, Bapak, kami berdua kemari akan memberikan kabar baik perihal masa depan anak, Ayu dan Ragil."

Rayhan menambahkan, "Seandainya Bapak dan Ibu bersedia, saya bersama Alesha akan menempatkan Ayu dan Ragil pada sebuah yayasan. Mereka akan diberikan pendidikan dan tempat tinggal gratis, sampai nantinya Ayu dan Ragil dapat hidup mandiri mendapatkan pekerjaan, bagaimana Bapak, Ibu bersedia?"

Lihat selengkapnya