Menjalani kehidupan di asrama ternyata lebih keras dan menantang, tidak seperti diperkirakan sebelumnya. Di tahun-tahun pertama, Ayu dan Ragil harus menahan air mata setiap malam karena rindu kedua orang tuanya. Tidak bisa saling mencurahkan isi hati karena keduanya dipisahkan tempat tidur.
Sebagai anak mantan pemulung, mereka sering menjadi bahan ejekan. Latar belakang sebagai anak pemulung gerobak menjadi bahan cemohan, dan tidak jarang perlengkapan sekolah mereka disembunyikan oleh teman-teman yang usil. Suatu hari, Ragil bahkan pernah dituduh mencuri namun mereka tidak bisa membuktikannya.
Namun, alih-alih membalas dengan amarah, Ragil dan Ayu memilih membuktikannya dengan prestasi. Keduanya tetap fokus pada pelajaran yang diberikan para guru dan pengasuhnya, seperti diamanatkan oleh bapaknya. Setiap cemoohan mereka jadikan pelecut untuk belajar lebih giat hingga larut malam di bawah temaram lampu asrama.
Sesekali kedua orang tuanya menjenguk anaknya di asrama, begitu juga dengan keluarga Rayhan dan Alesha. Keduanya sudah dikaruniai anak laki-laki setelah lebih dari lima tahun dalam penantian.
Istrinya, Alesha, memberikan kejutan kepada suaminya, Rayhan.
"Tadi Mama barusan memeriksa ke dokter kandungan. Papa mau lihat hasilnya?"
Melalui Tes Darah Kuantitatif (Beta-hCG) oleh dokter kandungan, memperlihatkan hasil positif. Bahkan sudah diketahui janin dalam kandungan Alesha telah berumur dua minggu.
Tes Darah Kuantitatif Beta-hCG merupakan pemeriksaan laboratorium untuk mengukur jumlah pasti hormon human Chorionic Gonadotropin (hCG) di dalam darah. Tes ini sangat akurat, bahkan dapat mendeteksi kehamilan lebih awal dibandingkan test pack urin.
Betapa bahagianya Rayhan mendengar kabar ini.
"Tidak salah ini, Ma?" tanya Rayhan sambil memelototi selembar kertas memaparkan dengan lengkap hasil tes dilakukan.
"Kita bakalan diberikan anak laki-laki, Pa. Pasti nantinya Papa bakalan kalah ganteng sama anak kita."
Keduanya saling berpelukan mensyukuri anugerah diberikan Tuhan.
Bulan demi bulan, tahun demi tahun, Ayu dan Ragil mampu menyerap semua pendidikan diberikan, termasuk bimbingan mental untuk bekal ke depan nanti. Tidak pernah tidak naik ke jenjang berikutnya, selalu naik kelas peringkat tiga besar meskipun tidak juara satu.