TERGILAS RODA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #25

Rumah Idaman

Suatu malam di gubuk itu, Sunarti bertanya, "Bagaimana kabar dengan anak kita, Pak? Mereka sudah lama tidak mengunjungi kita lagi. Apa mereka sudah melupakan kita, Pak?"

"Bapak tidak tahu lagi mereka tinggal di mana sekarang. Seandainya mereka melupakan kita, Bapak ikhlas. Mungkin saja setelah mereka besar, malu melihat Bapak Ibunya seperti ini..."

 belum selesai melanjutkan, tiba-tiba datang segerombolan orang membawa mobil truk terbuka. Turun empat orang langsung mengobrak-abrik gubuk serta lapak jualan gorengan Sunarto.

Tersentak Sunarto dan istrinya sedang melayani seorang pembeli langganannya.

Salah satunya menghardik Sunarto, "Bapak ada izin enggak tinggal, berjualan di sini! Ini sudah melanggar aturan berjualan di tempat umum tanpa izin, mengganggu ketertiban umum. Bongkar! Angkut semua ke dalam truk!"

Sunarto dan istrinya tidak bisa berbuat apa-apa. Merasa sudah lama menempati lahan ini tanpa izin, mereka hanya bisa pasrah ketika gerobak dan barang-barangnya diangkut paksa ke atas truk

Orang ramai melihat kejadian ini tidak juga bisa membantu. Mungkin juga sudah risi setiap hari melihat gubuk reyot di pinggir jalan ditempati kedua pasangan orang tua sambil berjualan gorengan dengan gerobaknya.

"Bapak sama Ibu ikut sama kami, selesaikan di kantor!" bentak salah satu petugas.

"Mau dibawa ke mana kita, Pak, juga peralatan sama gerobak kita miliki?" tanya Sunarti di sela tangisnya meremas kaus suaminya dengan erat karena ketakutan.

Sunarto mencoba tegar meski matanya sendiri sudah berkaca-kaca. Merangkul pundak istrinya berbisik lirih, "Ikuti saja kemauan mereka, Bu Ne, agar semua barang dan gerobak milik kita dikembalikan lagi."

Kedua orang tua itu akhirnya diangkut ke dalam truk bersama barang dan gerobaknya.

Menyusuri jalanan aspal sampai ke pinggir kota entah akan dibawa ke mana. Sunarto dan Sunarti duduk lemas di dalam truk. Mereka saling berpegangan di sudut truk yang gelap. Mereka tidak berdaya dan tidak tahu lagi apa lagi yang harus dilakukannya untuk menyambung hidup di sisa umur hidupnya sudah mulai meredup.

Tiba pada suatu tempat lapang tidak diketahui sebelumnya di mana berada sekarang, sudah banyak orang mendatangi tempat itu, suasana gelap. Kedua orang tua renta itu diturunkan bersama gerobak dan barang-barang sitaan.

Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba muncul kedua anaknya, Ayu bersama Ragil, sudah lama tidak dijumpainya, datang juga bersama Rayhan dan Alesha menyongsong kedua orang tuanya.

Bapak, Ibu dengan kedua anaknya saling berpelukan.

"Apa yang terjadi dengan Emak sama Bapak?" terkejut dengan apa yang dialami kedua orang tuanya.

"Bapak sama Ibu tidak tahu, Nak. Mereka tiba-tiba saja datang mengobrak-abrik tempat jualan Bapak, mengangkut semua barang-barang termasuk Bapak Ibu dibawa kemari."

"Tidak apa-apa, Emak, Bapak. Tidak usah khawatir, sudah ada Ragil, Ayu bersama Om Rayhan dan Kakak Alesha di sini. Semuanya akan segera berakhir," hibur Ragil.

Lihat selengkapnya