*****
Theo bangkit berdiri, diikuti oleh Ayuna yang mengekori dari belakang. Mereka berjalan menaiki tangga. Ayuna tidak heran mengapa apartment milik Theo terlihat mewah. Lelaki itu bisa membeli apapun yang dia tunjuk.
Tiba di depan pintu kamar yang Ayuna tebak adalah kamar Theo, Thek membuka pintu dan mereka berdua masuk ke dalam.
Ayuna mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu. Ayuna sempat terkesiap karena seumur hidupnya, dia tidak pernah melihat kamar sebagus ini. Apalagi ranjang di kamar Theo sangat besar, mungkin seukuran kolam renang.
Seolah Theo memang diciptakan untuk memiliki segalanya, kecuali Cinta.
" Apa kamu sudah siap, Ayuna?"
Ayuna terkejut saat Theo memeluknya dari belakang.
" Jujur, Aku sedikit kecewa karena kamu tidak menuruti permintaanku." Bisik Theo menentukan dagunya di pundak kiri Ayuna.
Tentu Ayuna ingat, Theo memintanya mengenakan gaun yang seksi. Namun Ayuna tak mungkin memakainya. Ibunya akan curiga. Terlebih dia tidak memilikinya.
" Aku tidak akan melakukan hal segila itu." Tegas Ayuna yang akhirnya bicara juga setelah diam sejak tadi.
Theo menyeringai.
" Hal yang gila? Lalu apa yang akan kita lakukan di dalam kamar ini? Apa menurutmu ini bukan kegilaan?"
Ayuna menahan nafas, sebisa mungkin dia tidak akan mengeluarkan suara yang akan membuat Theo senang.
" Sebelum melakukannya, aku ingin kamu mengatakan sesuatu. Katakan kalau tubuhmu adalah milikku." Theo memerintah.
Bibir Ayuna bergerak pelan.
" Tubuhku adalah milikmu." Dia menuruti setiap yang Theo suruh.
Karena Theo adalah orang yang akan menyelamatkan adiknya. Setidaknya begitu lah yang Ayuna pikir.
Senyum miring tercetak di wajah tampannya. Sebelum kemudian Theo menunduk dan memamgut bibir ranum Ayuna.
Ayuna pasrah. Malam ini tubuhnya benar - benar tidak berdaya. Dia membiarkan Theo menikmati bibirnya, menyentuh bagian tbuh yang disukai pria itu.
Malam ini, kamar apartment Theo menjadi saksi bisu dimana Ayuna melepaskan kehormatannya sebagai wanita.
Ayuna menangis, seketika teringat pada Dian yang pasti akan kecewa andai dia tahu semua ini.
" Maafkan aku, Bu."
*
*
*
" Terima kasih banyak, Pak. Saya benar - benar tidak tahu lagi harus berterima kasih dengan cara apa. Sepertinya Tuhan mengirim Pak Theo untuk menjadi malaikat penolong bagi Sofia."
Hari ini, Dian menangis. Tidak henti - hentinya dia mengucapkan terima kasih pada Theo.
Ya, setelah Ayuna menyerahkan keperawanannya, Theo Tak membuang banyak waktu. Dia langsung memenuhi janjinya untuk membiayai pengobatan Sofia sesuai dengan apa telah dia katakan pada Ayuna.
Setelah dilakukan pengecekan, ternyata sumsum tulang belakang Dian sangat cocok dengan Sofia. Berarti Dia lah yang akan jadi pendonor buat Sofia.