Terjebak di Sekte Bhairawa

Fajar Laksana
Chapter #1

Malam yang Super Aneh

Tabuh kendang ritmis mengalun. Memenuhi ruang-ruang, memantul di langit-langit pendopo. Mendung menggantung, sedetik kemudian menjatuhkan bulir-bulir gerimis. Nyala obor menari ke kanan dan kiri, mengikut arah hembus angin.

Kendang monoton terus ditabuh, mantra kuno dirapalkan, merayapi udara, dan menggoyangkan tubuh para pertapa yang duduk melingkar dengan bertelanjang dada.

Di tengah lingkaran, bersimpuh seorang wanita di atas lincak. Rambut disanggul, tubuhnya hanya dibalut kain kemben ketat yang membuat bagian atas dadanya menyembul membentuk lengkungan gunung. Kain yang menutup tubuhnya tidak terlalu besar, sehingga bagian kakinya tersingkap, memperlihatkan kilauan kulit paha berwarna kuning langsat.

“Cara terbaik untuk menyatu dengan Tuhan adalah dengan membebaskan diri kita dari segala keterikatan,” ucap seorang pertapa tua yang berdiri di dekat wanita itu.

“Pejamkan matamu ndhuk, simbah akan membawamu melihat wajah Tuhan yang sesungguhnya di Nirwana.”

Seorang pertapa muda kemudian masuk ke tengah lingkaran, menyerahkan gelas coklat tanah liat, “minumlah ini dulu, dan percayalah.”

Wanita itu, sambil memejam, menganggukkan kepala. Perlahan ia menenggak air yang entah air apa itu sampai habis. Setelah itu seluruh tubuhnya lemas. Tangannya kehilangan tenaga untuk memegang gelas, sehingga gelas itu jatuh dan pecah.

“Manunggal, manunggal, manunggal, manunggal, manunggal…” Tanpa ada yang memerintah, para pertapa yang duduk melingkar membisikkan satu kata secara serempak, manunggal, yang artinya menyatu.

Entah apa yang terjadi. Wanita itu tiba-tiba berdiri lalu membuka kain kembennya begitu saja. Aku terkejut. Hampir saja aku berucap, “what the fuck…”, tapi untung masih bisa kutahan.

Lihat selengkapnya