Pukul empat pagi di lereng Gunung Gede bukanlah waktu untuk bermimpi, melainkan waktu untuk bertarung dengan kenyataan. Bagi Resti, bunyi alarm paling murni bukanlah dering jam beker plastik di atas meja reotnya yang sudah mati sejak bulan lalu, melainkan suara gemertak kayu bakar yang mulai dilahap api di dapur dan aroma minyak panas yang mulai mendesis.
Di dalam rumah panggung itu, cahaya lampu tempel minyak tanah menari-nari di dinding bambu, menciptakan bayangan raksasa yang tampak lebih kuat dari tubuh aslinya. Udara dingin merayap masuk melalui celah-celah gedek, membawa aroma tanah basah dan sisa hujan semalam yang seolah menusuk hingga ke sumsum tulang. Dengan jemari yang sedikit kaku karena hawa pegunungan yang dingin, Resti mulai melakukan ritual hariannya. Ia memasukkan potongan-potongan singkong tipis ke dalam wajan besar. Di tangannya, singkong-singkong itu bukan sekadar makanan, mereka adalah lembar-lembar rupiah yang akan menyambung napas sekolahnya hari itu.
Sambil menunggu keripik singkongnya menguning, Resti tidak membiarkan sedetik pun terbuang. Di bawah temaram lampu yang bergoyang ditiup angin yang menyelinap lewat lubang angin, ia membuka buku Biologi tebal miliknya yang sampulnya sudah mulai terkelupas. Matanya dengan cepat memindai struktur sel, menghafal retikulum endoplasma dan mitokondria, sementara tangannya yang lain dengan cekatan mengangkat gorengan bakwan yang sudah matang sempurna. Inilah hidupnya, sebuah tarian antara mengejar kecerdasan dan bertahan dalam kemiskinan.
Setelah semua gorengan dan keripik siap, Resti membungkusnya ke dalam kantong kresek besar bermotif garis hitam-putih. Kantong itu adalah harta karun yang selalu ia tenteng setiap pagi. Ia tahu, di sekolah nanti, kantong ini akan menjadi pusat semesta kecilnya. Teman-temannya, dari yang benar-benar lapar hingga anak-anak laki-laki yang hanya ingin mencuri pandang pada wajah cantiknya akan mengerumuni. Mereka rela mengantre bukan hanya untuk sebungkus keripik seharga lima ratus perak, tapi demi kesempatan bertanya tentang tugas matematika atau sekadar mendengar suara lembut Resti saat menjelaskan rumus-rumus rumit.
Resti tahu ia cantik. Ia bisa melihatnya di pantulan air baskom atau cermin retak di kamarnya. Kulitnya yang kuning langsat dan matanya yang jernih seringkali menjadi buah bibir di SMA 1 Negeri Cihalimun. Namun, ia tidak punya waktu untuk mengagumi diri. Baginya, kecantikan hanyalah bonus dari Tuhan, sedangkan kepintaran adalah senjata yang ia asah setiap hari agar ia tidak berakhir menjadi buruh tani seperti ayahnya, yang punggungnya kini sudah membungkuk permanen karena beban cangkul dan usia yang digerus kerasnya hidup.
"Nasib mungkin bisa menuliskan kita lahir di gubuk yang retak, namun hanya tekad yang bisa menentukan di mana kita akan menutup mata."
Hujan gerimis mulai turun saat Resti melangkah keluar rumah, menciptakan irama monoton di atas payung tua yang kayunya sudah mulai lapuk. Ia berdiri di tepi jalan raya yang masih sepi, menatap ke arah tikungan tajam tempat angkot biru biasanya muncul. Satu tangan mendekap tas ransel berisi buku-buku yang berat, tangan lainnya menenteng kantong kresek gorengan yang masih menyebarkan aroma gurih bawang dan pedasnya cabai.