Gerbang SMA 1 Negeri Sukabumi yang terbuat dari besi tua bercat hijau mengelupas itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan ribuan mimpi setiap pagi. Namun pagi ini, hujan tidak hanya membawa air, ia membawa sebuah pemandangan yang akan membeku dalam ingatan penghuni sekolah untuk waktu yang lama.
Raungan mesin 200cc dari Honda Tiger hitam milik Jerry membelah suara hujan yang menghantam atap seng kantin depan. Saat motor itu memasuki area sekolah, air yang tergenang di aspal jalan masuk terpercik ke samping, menciptakan gelombang kecil yang seolah mengumumkan kedatangan sang pangeran dari ibu kota. Namun, pagi itu bukan sosok Jerry yang menjadi pusat perhatian, melainkan sosok gadis yang duduk di belakangnya dengan seragam yang sudah basah kuyup.
Di bawah naungan pos satpam, dua sosok sudah berdiri dengan gelisah. Cantik, dengan rambut yang dikuncir rapi dan wajah yang selalu tampak ceria, memegang sebuah payung biru besar. Di sampingnya, Edy berdiri dengan bahu yang tegang. Edy bukan sekadar teman bagi Resti, ia adalah bayangan yang selalu ada di sekitar Resti sejak mereka masih mengenakan seragam putih biru.
Mata Edy menyipit. Dadanya terasa sesak seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang saat ia melihat Resti turun dari jok tinggi motor Jerry. Ia melihat bagaimana Resti sedikit gemetar saat kakinya menyentuh aspal, dan bagaimana tangannya masih mendekap kantong kresek hitam-putih itu dengan hati-hati.
"Resti!" Cantik berseru, setengah berlari mendekat sambil memayungi sahabatnya. "Ya ampun, kamu basah kuyup begini! Kok bisa?"
Edy tidak bersuara. Ia melangkah maju, namun langkahnya tertahan oleh pemandangan Jerry yang membuka kaca helmnya. Jerry hanya melirik sekilas ke arah Edy dan Cantik, sebuah tatapan yang dingin, acuh tak acuh, namun tajam seolah menyerang mereka. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jerry kembali memutar gasnya menuju parkiran khusus motor di pojok sekolah, meninggalkan kepulan asap tipis dan aroma bensin yang tajam.
"Ayo, Res, cepat. Nanti kamu masuk angin," Edy akhirnya bicara. Suaranya berat, ada nada getir yang ia usahakan agar tidak terdengar. Ia langsung mengambil alih kantong kresek dari tangan Resti. Berat kantong itu terasa akrab bagi Edy, namun pagi ini, terasa berbeda, ada tambahan beban cemburu yang ikut masuk ke dalamnya.
Parkiran sekolah pagi itu menjadi panggung bisu. Banyak mata yang melongok dari jendela kelas di lantai dua. Bisikan-bisikan mulai menjalar seperti api di atas rumput kering. “Resti sama Jerry?”
Edy berjalan di samping Resti, berusaha memberikan perlindungan fisik dengan tubuhnya yang lebih tegap, namun ia tahu ia tidak bisa melindungi perasaan Resti dari gunjingan itu. Selama ini, Edy menyimpan rasanya dalam-dalam di balik kedok "saudara sepupu Cantik". Ia merasa bahwa dengan membantu Resti membawakan dagangannya setiap pagi, ia sudah cukup dekat untuk memiliki tempat di hati gadis itu. Namun kehadiran Jerry, dengan segala kemegahan kotanya, membuat Edy merasa seperti pion di papan catur yang salah.
"Kamu nggak apa-apa, Res?" tanya Edy pelan saat mereka berjalan menuju kantin Ibu Darmi untuk menitipkan gorengan.
"Nggak apa-apa, Dy. Cuma kaget aja tadi angkot Haji Dadang mogok," jawab Resti pendek. Pikirannya masih tertinggal di punggung jaket kulit Jerry yang hangat.
Cantik yang berjalan di sisi lain hanya tersenyum simpul. Ia melihat wajah Resti yang bersemu merah meski sedang kedinginan. Sebagai sahabat, Cantik memiliki sejuta pertanyaan yang menari-nari di lidahnya, namun ia tahu ini bukan waktu yang tepat. Ia melihat bagaimana Edy mencengkeram erat plastik gorengan itu hingga buku-buku jarinya memutih. Cantik tahu, hari ini bukan hanya baju Resti yang basah, tapi juga ego sepupunya yang sedang tenggelam.