Matahari pagi itu muncul dengan keberanian yang menyakitkan. Sinarnya yang terlalu rajin menyapu sisa-sisa kabut di lereng Gunung Gede, seolah ingin menghapus jejak drama kehujanan kemarin. Resti berdiri di tepi aspal yang sudah mengering, jemarinya meremas tali tas ranselnya dengan kegelisahan yang tak mampu ia definisikan.
Di dalam hatinya, sebuah harapan kecil yang ia sendiri malu untuk mengakuinya sedang menunggu deru mesin 200cc yang berat dan garang. Namun, dunia tidak selalu berputar mengikuti keinginan hati yang sedang buncah. Dari kejauhan, yang muncul justru bunyi decit rem yang akrab dan kepulan asap hitam dari knalpot angkot biru milik Haji Dadang.
"Neng Resti, ayo naik! Sudah beres as rodanya, siap balapan lagi!" seru Mang Ece salah satu supir tetap dari dua angkot milik Haji Dadang sambil memamerkan deretan giginya yang menguning karena tembakau.
Hari itu kosong, padahal biasanya selalu penuh sesak sampai-sampai kadang ia harus menunggu mobil kedua yang berselisih 15 menit. Mungkin karena orang-orang masih berpikir hari ini angkotnya masih mogok dan memilih berangkat lebih pagi dengan berjalan kaki ke pasar.
Resti memaksakan sebuah senyum tipis. Ia melangkah naik ke dalam angkot yang beraroma bensin dan keringat pagi, duduk di sudut yang paling dekat dengan jendela. Sepanjang perjalanan, ia menatap aspal yang berlalu di bawahnya, merasa bahwa hari yang cerah ini justru terasa lebih mendung daripada badai kemarin.
Suasana kelas 2-A riuh rendah oleh bisikan yang tajam. Saat bel masuk berbunyi, kursi paling belakang di pojok kiri itu tetap kosong. Jerry tidak datang. Pangeran dari Jakarta itu absen tanpa kabar, meninggalkan sejuta tanya yang menggantung di udara kelas yang gaduh.
Pak Herman masuk dengan daftar nilai di tangannya. Matanya memindai ruangan, lalu berhenti pada bangku kosong itu. "Ada yang tahu kenapa Jerry tidak masuk? daftar kelompok dan lokasi penelitian harus disetor hari ini."
Seketika, kelas menjadi ajang perebutan. Siswi-siswi dari barisan depan hingga belakang mendadak menjadi sukarelawan. "Pak, biar Jerry masuk kelompok saya saja!" seru satu suara. "Sama saya saja, Pak, kebetulan kelompok kami kurang satu orang!" timpal yang lain seraya terkekeh.
Di barisan tengah, Edy mencengkeram penggaris plastiknya hingga melengkung tajam. Ia menatap bangku kosong itu dengan kebencian yang hampir bisa diraba. Baginya, ketidakhadiran Jerry justru lebih mengancam daripada keberadaannya. Jerry yang absen berarti Jerry yang sedang menjadi pusat perhatian semua orang, termasuk orang yang paling ia jaga, Resti.
Cantik, yang duduk tepat di sebelah Resti, tak melepaskan pandangannya dari profil wajah sahabatnya. Ia menangkap perubahan raut muka Resti, sebuah kombinasi antara kekecewaan dan kecemasan yang coba disembunyikan di balik buku catatan. Cantik menghela napas, ia tahu badai di hati Resti jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Sebelum kelas bubar, Pak Herman menghampiri meja Resti. "Resti, rumah kamu dengan Jerry dekat kan? bapak boleh minta tolong nanti sepulang sekolah mampir ke rumahnya. Tanyakan kabarnya dan sampaikan soal kelompok ini. Bapak sudah kirim SMS tapi belum ada balasan."