Udara Sukabumi menjelang tengah malam selalu punya cara kurang ajar untuk menusuk tulang, tapi halaman SMA Negeri 1 Pasir Saat dini hari itu justru mendidih oleh antusiasme seratus lebih siswa Kelas 2. Tiga bus pariwisata berjejer dengan mesin diesel yang menggeram konstan, memuntahkan asap knalpot tebal yang berbaur dengan kabut tipis. Lampu sorot kekuningan dari gedung sekolah menyinari spanduk besar di depan gerbang: Karyawisata Observasi Kelas XI – Penangkaran Penyu Ujung Genteng. 28 Februari - 3 Maret 2000.
Bagi sebagian besar siswa, tulisan "observasi" di spanduk itu hanyalah formalitas. Ini adalah liburan. Pesta lepas dari pengawasan orang tua. Tapi tidak bagi Resti.
Di sudut dekat pos satpam, jauh dari kerumunan anak-anak yang sibuk memamerkan jaket baru atau kamera saku mahal mereka, Resti berjongkok merapikan boks plastik besarnya. Tangannya yang kasar dan kebas karena dingin sibuk menghitung lembaran uang ribuan dan koin yang lecek. Bau minyak goreng bekas dan adonan tepung masih menempel kuat di pori-pori kulitnya, mengalahkan wangi sabun mandi murah yang ia pakai sore tadi.
Hari ini dagangannya laris manis. Teman-temannya yang butuh camilan sebelum menempuh perjalanan enam jam memborong sisa bala-bala dan gehu miliknya.
"Sudah pas hitungannya, Neng Resti?" tegur Pak Mamat, satpam sekolah yang sedang menyedot rokok kreteknya di ambang pintu pos.
"Alhamdulillah, Pak. Cukup buat nambah uang saku, biar besok nggak usah pusing mikirin makan siang," jawab Resti. Ia menumpuk koin lima ratusan terakhir dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya yang warnanya sudah pudar termakan matahari. Ia menutup boks plastiknya rapat-rapat, lalu menggesernya ke bawah meja pos satpam.
Baginya, karyawisata ini adalah beban ganda. Ia butuh nilai tugas laporannya untuk mempertahankan beasiswa, tapi ia juga harus memutar otak agar uang jajannya yang pas-pasan bisa bertahan sampai mereka kembali ke Sukabumi 3 hari lagi.
"Nggak usah ngitung terus, Res. Uangnya nggak bakal beranak di dalam tas."
Resti mendongak, matanya langsung menyipit tajam. Edy berdiri terlalu dekat, menghalangi cahaya lampu jalan. Cowok itu selalu saja muncul di saat yang tidak tepat. Di tangannya terdapat sebuah jaket parasit tebal yang disodorkan ke arah Resti.
"Pakai ini. Subuh nanti di Ujung Genteng angin lautnya kencang. Kamu cuma pakai sweter tipis begitu," kata Edy. Nada suaranya terdengar memaksa, dibalut kepedulian yang sering kali membuat Resti merasa tercekik.
"Aku bawa jaket di dalam tas. Simpan saja," tolak Resti dingin. Ia berdiri, menepuk lutut celana jeans-nya yang kotor karena debu aspal.
"Jangan keras kepala, Res. Nanti kalau kamu masuk angin.."
"Edy! Bawain koper gue!"
Suara cempreng itu memotong kalimat Edy sekaligus menyelamatkan sisa kesabaran Resti. Cantik berjalan menembus kerumunan seperti sedang berada di panggung catwalk. Gadis itu menyeret koper roda warna merah muda menyala yang ukurannya lebih cocok untuk liburan ke Eropa sebulan penuh daripada sekadar karyawisata dua hari. Cantik, dengan segala fasilitas, uang saku berlebih, dan wajah hasil perawatan salon mahal, adalah sosok yang sangat bertolak belakang dengan nasib Resti.
Tapi anehnya, mereka cocok. Cantik tidak pernah memandang remeh kemiskinan Resti, dan Resti adalah satu-satunya orang yang berani memaki Cantik jika gadis itu mulai bertingkah konyol, tanpa takut dimusuhi. Cantik butuh kenyataan, dan Resti butuh perisai dari gunjingan anak-anak populer lainnya.
"Bawa sendiri! Tangan lo masih dua, kan?" balas Edy bersungut-sungut pada sepupunya itu.
"Kuku gue baru di-menicure, Edy. Lagian lo laki, masa nyuruh cewek angkat koper berat? Cepetan!" omel Cantik tanpa rasa bersalah.
Sambil mendengus kesal, Edy akhirnya melangkah juga menghampiri Cantik dan menarik gagang koper itu.