“Apa ini?”
Aku melihat amplop besar warna coklat di atas meja. Walaupun aku belum membukanya, aku tahu benar apa isi dari amplop itu—pasti uang dengan jumlah yang tak sedikit.
“Anggap saja ini modal untuk kamu pergi dari Palembang. Terserah kamu mau kemana.”
“Maksud Ibu, Ibu mengusirku dari kota kelahiranku sendiri? Buat apa?”
“Saya gak mau basa-basi. Putusin Nathaniel.”
Ya, sosok wanita paruh baya dengan dandanan elegan dan make up bold di depanku ini adalah Sarah, ibu kandung Nathaniel. Meski usianya tidak muda lagi, tapi dengan kekuatan uang, beliau terlihat seperti mama muda berumur empat puluhan. Kata Nathaniel sih, ibunya rajin perawatan klinik kecantikan seperti botox atau filler.
“Apa Nathan tau Ibu menemuiku hari ini?” tanyaku sembari bersandar pada punggung kursi.
“Dia gak perlu tau. Lagipula, sejak kemarin dia ada di Europe.”
Hah… aku sudah menduganya kenapa laki-laki itu tidak bisa menghubungiku sejak dua hari lalu. Ternyata ini puncaknya.
Jujur, aku tidak terlalu kaget saat menerima pesan bahwa Ibu Nathaniel mau menemuiku. Cepat atau lambat beliau pasti melakukannya sejak Nathan tahu bahwa aku ini kekasihnya. Mungkin bisa dibilang, beliau justru terlalu lama untuk menyuruhku untuk putus dengan anaknya. Bayangkan sudah tiga tahun sejak kami berpacaran, Ibu itu tetap mengabaikanku seolah sengaja membuatku terlalu cinta dengan Nathan sehingga saat disuruh putus olehnya, aku akan sangat menderita.
“Jadi… Nathan memang gak tau apa-apa.” Aku terkekeh sejenak demi menutupi rasa sesak di dada, “gimana kalau dia mencariku dan gak terima diputusin? Ibu tau sendiri Nathan kayak apa kan?”
“Makanya saya nyuruh kamu pergi ke luar kota biar Nathan gak bisa nyariin kamu lagi. Terserah kamu mau kemana—kamu bisa jualan pempek kayak ibumu. Pempek buatan Ibu kamu lumayan enak,” ujarnya sembari menatapku dengan angkuh.
Tak terasa aku mengepalkan tangan. Dia terang-terangan menyindir pekerjaan Mamaku. Mentang-mentang Mama cuma penjual pempek sementara dia istri dari pengusaha tambang, dia kira bisa sombong begitu? Asal dia tahu, usaha pempek kami ini sudah turun-temurun jadi soal rasa dan kualitas patut diberi empat jempol! Lagipula, dia tahu apa soal rasa pempek, wong Palembang juga bukan!
Huh, aku jadi menyesal sudah bersikap sopan padanya sejak tadi.
“Ibu simpan aja uang ini. Aku gak butuh.” Aku mendorong amplop itu ke depannya lalu siap-siap untuk pergi, “tapi Ibu tenang aja, nanti aku chat anak ini buat minta putus. Mau atau gak dia terserah.”
“Pengangguran aja sombong kamu.” Sarah—oke aku akan menyebut nama dia secara langsung mulai detik ini—mengambil amplop coklat itu dan memasukkannya lagi ke tas, “kamu kerja banting tulang gimana pun, gak bisa dapetin duit sebanyak ini, kamu tau?”
“Terserah kau.” Aku meninggalkannya tanpa banyak omong.
Sudah cukup aku dipermalukan seperti dalam drama sampah antara Ibu konglomerat dan rakyat jelata yang sering aku tonton. Aku juga tak menyangka bisa mengalaminya secara langsung.
Lagipula, aku ini tidak miskin-miskin amat tau! Rumah Mamaku dua tingkat! Usaha pempek kami pun berkembang pesat, bahkan banyak yang mau beli franchise-nya. Aku ke sini pun bawa mobil. Memang bukan mobil mahal kayak punya dia, tapi… akh sudahlah! Aku kesal!
“Nathan brengsek! Stres! Mati kau!” Aku memukul setir mobil seolah setir itu adalah wajah cowok yang berani meninggalkanku tanpa kabar apapun itu.
Sarah masuk ke mobilnya yang kebetulan terparkir di sebelah mobilku. Dengan dagu terangkat dan ekspresi menyindir, ia masuk ke belakang setelah dibukakan pintu oleh sopir.
“Jauh-jauh lu nenek lampir!” Aku tahu ucapanku ini pasti tidak sampai ke telinganya, tapi setelah ngomong begitu, aku merasa lebih lega aja. Dia duluan sih yang mengejek Mama.