“Ini di mana Nath?”
Suara sendok dan garpu beradu di meja makan karena Nathaniel mengajakku makan siang setelah keributan kecil di kamar beberapa saat lalu.
“Di salah satu mansion keluargaku.”
Aku menghela napas gusar, “ya aku tahu ini mansion kamu! Tapi maksudku, ini di negara mana? Apa aku masih di Australia atau bukan?”
Bukan tanpa alasan aku menanyakan hal itu. Soalnya saat aku baru sampai di Bandara Internasional Sydney Kingsford Smith bersama Sarah dan beberapa bodyguard-nya di belakang, mereka langsung membawaku naik mobil melintasi belasan kilometer menuju pelabuhan. Tapi, aku tidak tahu nama pelabuhannya apa karena akses internetku terputus total karena aku belum mengatur data internet di luar negeri.
Setelah sampai di pelabuhan, kami pun berlanjut naik kapal ferry untuk pergi ke tempat lain. Sekitar dua jam menempuh perjalanan di laut atau teluk atau sungai—entahlah apa namanya—kami lanjut naik lagi naik mobil menuju mansion ini yang tersembunyi jauh dari perkotaan. Makanya aku bingung ini masih di Australia atau bukan. Bahkan perjalanan naik mobil ke sini juga lama sekali—sekitar dua jam lebih.
Jangan-jangan aku dibawa ke pulau pribadi milik keluarga Ardhana? Dan di pulau ini, akses untuk kemana-mana hanya bisa menggunakan kapal Ferry? Haduh gawat kalau benar begitu.
“Kamu yang ke sini bareng Mama, tapi kenapa kamu malah tanya aku, Sayang?” Nathaniel sengaja untuk tidak menjawab pertanyaanku. Dia selalu saja mencari topik lain.
Kalau sudah begini, aku capek mendebatnya, “Sudahlah. Balikin aja tas aku yang kubawa pas ke sini. Baru taruh bentar di kursi udah hilang. Masa’ mansion semegah ini ada maling.”
Maling itu ada di depanku. Walaupun Nathaniel bukan yang mengambilnya secara langsung, tapi tetep aja pasti dia dalang sebenarnya.
Di dalam tasku itu, ada handphone, pasport, dompet kartu yang berisi berbagai macam kartu mulai dari KTP, NPWP, ATM hingga kartu-kartu dompet digital lainnya.
“Tas kamu aman kok. Aku yang simpan,” kata Nathan dengan santai menyuapi sepotong daging ke mulutku.
Benar kan apa kataku? Dia malingnya.
“Ya balikin!” Aku bersungut kesal tapi mulutku masih menerima suapan itu. Bisa marah dia kalau aku menolaknya.