Nathan menepati janjinya untuk memberikanku ponsel baru. Aku kira dia akan meminjami salah satu ponsel miliknya karena aku tahu Nathan punya dua HP—iPhone 27 Pro Max dan Samsung S26 Ultra.
Namun ternyata, Nathan memberikanku ponsel yang benar-benar baru, bahkan plastik pembungkusnya pun masih ada. Dia memberikan iPhone keluaran terbaru—iPhone 18 warna pink rose.
“Ini buat aku atau kamu cuma minjemin aja?” tanyaku agak tidak percaya.
Nathan yang sedang duduk di sofa dekat jendela hanya mengangguk santai sambil membaca sesuatu di tablet miliknya. “Kalau bukan buat kamu, buat siapa?”
Aku memandangi kotak iPhone itu beberapa detik sebelum buru-buru membukanya. Refleks. Ya gimana gak refleks coba? Itu iPhone terbaru! Harganya pasti setara motor. Atau bahkan lebih?
“Aku boleh pake sekarang?” tanyaku hati-hati.
Nathan terkekeh pelan mendengar pertanyaanku. “Lucu banget. Kan memang buat kamu, Sayang.”
"Tapi, hp aku yang di kamu nanti tetep dibalikin kan? Data dan kontak aku di sana semua lho Nath," ucapku menatapnya dengan sorot tajam.
Bagi Nathan, tatapan ancaman dariku itu bukan apa-apa. Ia justru merangkul pundakku agar lebih dekat dengannya. "Iya nanti aku balikin. Tapi nanti. Aku belum selesai geledah semua isi hp kamu."
"Ya ampun. Serah kamu deh."
Mengabaikan belaian Nathan di rambutku, aku pun segera menyalakan ponselnya. Untung saja Nathan juga membelikanku kartu SIM untuk dipasang ke dalamnya—tapi bukan operator dari Indonesia sih.
Setelah beberapa menit mengatur peraturan awal di ponsel itu, aku pun dengan cepat menjalankan tujuanku.
Namun senyumku perlahan memudar. Tidak ada sinyal. Apa mungkin kartu ini belum ada kuota? Bagaimana caranya mau beli kuota—aku saja tidak punya mobile banking di ponsel ini. Bahkan jenis operatornya saja tidak tahu.
Aku mengangkat ponsel itu lebih tinggi, berjalan ke dekat jendela, bahkan mendekati balkon kamar.
Tetap saja nihil.
“Nathan.”
“Hm?”
“Kenapa hp ini gak ada sinyal?" tanyaku sambil memperlihatkan layar depan padanya.
Nathan menurunkan tabletnya sedikit lalu menatapku tenang. Terlalu tenang malah. “Karena memang gak ada tower provider di sekitar sini.”
“Boong.” Aku langsung menatapnya curiga. “Mana mungkin gak ada sinyal sama sekali? Kamu aja lagi buka internet itu.”