TERJERAT PERNIKAHAN PENGGANTI

Luz Picillya
Chapter #4

NYONYA RUMAH PERSINGGAHAN

Apa sebenarnya tujuanmu, Lusiana?! Mengapa kau meletakkan gadis itu ke dalam masalah kita?!”

Pintu kamar hotel dibanting keras. Ken datang menghampiri Lusiana yang ternyata masih bersembunyi di kamar hotel tempatnya seharusnya. Rahangnya mengeras, urat di lehernya terlihat jelas. Amarahnya sudah berada di ujung.

Lusiana mundur sampai punggungnya mentok sofa. “Kenapa? Bukannya aku udah bilang berkali-kali kalau aku menolak menikah denganmu! Perjodohan, cih... itu kebiasaan kuno orang tua kita! Kita hidup di zaman modern, Ken. Aku bisa memilih laki-laki yang kuinginkan sendiri!”

Tatapan Lusiana nanar, tak ada rasa bersalah sedikitpun. Dia hanya sedikit panik mendapati Ken yang datang tiba-tiba dan langsung menudingnya.

Ken tersenyum sinis, matanya menyipit, menertawakan sesuatu yang sama sekali tak lucu. “Masalahnya bukan tentang pernikahan kita yang kamu batalkan sepihak, Lus. Tetapi masalahnya apa yang membuatmu sampai berpikir Kenneth Baskara bisa ditipu maid murahan!” Dia mencubit dagu Lusiana, memaksa Lusiana menatap matanya. “Ingat ini, nggak akan ada yang bisa mempermainkan apa yang ku anggap penting, termasuk kamu!”

“Kamu sudah melibatkan gadis bodoh itu dalam permainan konyolmu, Lalu menurutmu apa yang harus ku berikan sebagai hadiah atas keberaniannya?”

“Jangan sakitin dia! Aku yang akan bertanggung jawab!” Lusiana melepas cengkraman Ken. “Itu satu-satunya cara biar aku bebas dari pernikahan kuno ini!”

Ken melepas dagu Lusiana sengit. Tangannya masuk saku. Tatapannya melirik ke arah kamar tempat Alsava diikat.

“Terlambat.” Suaranya datar. Mati. “Dia sekarang istriku. Dia sudah menjadi urusanku, jangan ikut campur.”

Pintu dibanting lagi. Lusiana langsung lemes. Di kepalanya cuma ada 1 pertanyaan, `Apa yang sudah Ken lakukan ke Alsava?`

**_

Ken kembali ke kamar. Lampunya mati, gelap. Hanya ada satu lampu meja yang dibiarkan menyala, cahaya temaramnya langsung menyorot ke arah tiang ranjang.

Alsava meringkuk di sana. Kaos dan celana training yang dipakaikan petugas hotel sudah basah keringat. Tali di pergelangan tangannya meninggalkan bekas merah. Nafasnya pendek-pendek.

Lampu 100 watt nyala. Cahaya terangnya menusuk mata Alsava. Dia mengerjap-ngerjap berusaha beradaptasi dengan terang yang tiba-tiba terbuka. Alsava masih diam belum sempat bereaksi.

Ken berjalan pelan. Tiap langkahnya seakan membuat jantung Alsava loncat. Dia berhenti tepat di depan muka Alsava. Jongkok, sejajar.

“Kamu sudah menjadi istriku.” Telunjuk Ken mengangkat dagu Alsava. “Secara negara, dan secara agama. Bukannya istri punya kewajiban sama suaminya?” Senyum miringnya muncul. membuat Alsava pengen muntah saat ini juga.

“Ja-jangan, Tuan.” Alsava memalingkan wajah melepaskan dagunya. Suaranya gemetar, tapi berusaha terlihat tenang. “Pernikahan kita palsu. Didasari kebohongan. Tuan nggak bisa minta... itu.”

“Palsu?” Ken ketawa kecil. Dingin. “Kita ijab kabul depan penghulu. Tercatat di negara. Mau kau bilang palsu seribu kali, di mata hukum kau adalah istri sahku Alsava!” Ken mencubit pipi Alsava, mengejek. “Lalu apa yang membuatmu memiliki keberanian untuk melakukan semua ini, kalau kau tahu kau bukan Lusiana gadis kecil!”

“Ampun, Tuan... saya nggak punya pilihan. Saya cuma maid. Saya nggak bisa nolak Nona Lusiana...”

Ken diem, Lama. Tatapannya menelisik memperhatikan Alsava serius. Dia sedang mengukur Alsava dari atas sampe bawah.

“Andai ada pilihan lain, saya nggak akan lakuin ini, Tuan.” Alsava mengangkat muka, air matanya sudah kering. Tinggal sisa nekat. “Saya janji nggak akan nuntut apa-apa dari Tuan. Lepasin saya. Atau... kasih saya kerjaan. Saya dulu CEO marketing, saya jago muterin krisis. Lebih baik pakai otak saya Tuan, daripada menyiksa saya.”

Ken menyipit, tertarik. Villain paling benci sama mangsa yang hanya bisa menangis. Dia lebih suka mangsa yang berani melakukan perlawanan.

Lihat selengkapnya