Maira segera melepas tangannya yang melingkar di leher Ezra, kala seseorang melangkah semakin dekat ke arah mereka. Ia menundukan wajahnya sangat dalam seolah sedang mengamati tanah di bawah pijakan kakinya, menghindari beradu pandang dengan orang yang hendak melewatinya, meski setengah wjahnya sudah tertutup masker hitam juga penutup kepala hoodinya ia kenakan. Rasa khawatir dikenali bersarang dalam diri Maira.
“Permisi, maaf numpang lewat,” ucap pria yang mengejutkan mereka, kala Maira dan Ezra berdiri terlalu rapat di gang sempit dan minim cahaya, hanya pantulan lampu dari rumah lain dan sinar rembulan samar yang menerangi.
Entah Maira atau pun Ezra tak ada yang menjawab, keduanya mengatupkan bibir hingga pria yang baru saja lewat dipastikan sudah keluar dari gang itu. Ezra kembali angkat suara, “Aku langsung pulang kalau begitu” ucapnya, sambil mengenakan helem sebelum ia menaiki motornya.
“Gak jadi?" tanya Maira, sedikit mengerutkan dahi.
Ezra mendesah kesal. “Enggak, orang itu lewat bikin gak mood. Lain kali aja, lagian di sini gak leluasa.” Seringai tipis terbit di ujung bibir Ezra, menatap lekat pada Maira.
Maira diam, sesaat tak ada ekspresi yang di tunjukan gadis itu, hingga saat Ezra benar-benar akan menarik gas motornya, ia membentangkan senyum, dan melambaikan tangan perlahan. “hati-hati, Kak. Kabarin kalau udah sampe, ya.”
Ezra membulatkan jari. “Oke, Sayang.”
Gang sempit menuju ke arah rumah Maira itu pekat dengan aroma lumut dan tanah yang lembap, entah apa yang Maira pikirkan, hingga ia memilih melewati gang yang hanya cukup di lewati satu motor untuk kembali menuju rumahnya, padahal jelas-jelas ada jalan yang lebih leluasa dan terang yang bisa ia lewati.
Maira mengigit bibir kuat-kuat, ada cemas yang timbul dalam benaknya kala pria yang tadi melewati mereka adalah Lazuardi, penghuni kosan belakang rumahnya, yang sangat mengenal Maira juga keluarganya.
Maira hidup bagai dalam sangkar, orang tuanya begitu sangat mengekang, meski usianya sudah hampir menginjak dewasa, namun Ayah dan Ibunya melarang keras Maira berpacaran. Zaman sekarang sepertinya tidak mungkin jika tidak memiliki pasangan, membuatnya tak leluasa ketika ingin keluar bersama sang kekasih. Menjadikannya kerap berdusta, mencari alasan yang bisa di percaya orang tuanya.