Terkurung Dalam Sangkar Emas

Jennar_
Chapter #2

Dituntut menjadi penurut


Suara seretan sapu lidi yang beradu dengan paving blok, menyapu dedaunan yang gugur di terpa angin, menjadikan suara itu sebagai penanda matahari yang mulai naik. Maira membuka mulut lebar, seraya dengan tangan yang ia angkat ke atas. Ngulet. Tepat di ambang pintu rumahnya, menatap sang Ibu yang sedang membersihkan halaman rumah.

                           

Elin menoleh, sebelah tangannya berkacak pinggang, sementara tangun satunya menggenggam erat gagang sapu, ia menyunggingkan bibir, menatap dengan ekor matanya. “Maira, mandi. Terus temenin Ibu ngecek kos-kosan, katanya ada yang perlu di perbaiki, gak tahu apa yang rusak di sana.”


“Aku mau jogging, Bu. Kalau nemenin dulu Ibu ke kontrakan keburu siang, panas,” keluh Maira, bahunya merosot disertai bibir yang meruncing.


“Ibu cuma minta temenin, Maira. Biar kamu juga kenal sama penghuni-penghuni kosan kita, jangan cuma mau nerima bayarannya aja.” Elin tak mau kalah, bagaimana pun sang anak harus ikut andil dalam usaha yang di bangunnya sudah lebih dari 10th ini, usaha rumah kos-kosan, yang kebanyakan penghuninya adalah mahasiswa, yang berkuliah di universitas tak jauh dari sana.


Selalu dituntut untuk menjadi anak yang penurut, membuatnya sulit untuk menolak permintaan sang Ibu, setelah mencoba menolak, dan dihadiahi dengan ocehan, Maira berakhir pada kepasrahan. 


“Iya, Ibu.” Suara Maira mendayu penuh kelembutan, sengaja untuk menghentikan ocehan Elin.


***


Sebuah bangunan kos-kosan bertingkat, dengan total sepuluh kamar itu selalu ramai penghuni, kamarnya tak pernah kosong berlama-lama. Satu keluar, tidak berselang lama satu lagi masuk. Seakan mengantri untuk masuk.


Elin terkenal ramah dan penuh pengertian pada para penghuni kosnya, membuat mereka nyaman tinggal di sana. Namun bagi Maira, sang Ibu tidaklah seperti itu, baginya sang Ibu pemilik dua kepribadian. Ramah pada org lain, namun cerewet dan bawel pada anaknya sendiri. Apa Maira anak pungut? Yang kemudian terpaksa diurusnya?.


Sementara Elin berbincang dengan penghuni kos yang mengeluhkan kamarnya lembab, Maira memilih berdiri di teras kos, menyandarkan tubuhnya pada dinding salah satu kamar sambil menggulir sosial media, tak peduli pada tatapan para penghuni kos yang lalu lalang menatapnya, ia hanya menoleh sekilas dengan ekor matanya.


“Dek Maira, ya? Tumben ke sini? Ada apa?” 


Maira mengerjap hingga menjatuhkan ponselnya, saat suara dengan baritone berat menyapanya. Matanya pun turut menatap nyalang pada si pemilik suara.


“Bapak! Bikin kaget.” Mata Maira mengerling sebal, rahangnya mengeras. Ia segera mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai.


Lazuardi membentangkan senyum ramah di wajahnya, sambil sedikit menaikan kaca mata yang bertengger di hidung bangirnya. “Maaf Dek, Saya kira gak akan sekaget itu.”


Maira menggendikan bahu, menatap Lazuardi dengan skeptis, ujung bibir atasnya sedikit terangkat. Andai dia bukan salah satu dosen di kampusnya, Maira sudah dipastikan mengumpat.


Langkah Elin mendekat pada Lazuardi, dan sedikit menepuk bahunya sebelum ia menyapa, “Eh, Pak Dosen.”


Lazuardi segera memutar tubuh, menghadap pada Elin. “Ibu.” Sapanya ramah sambil menyalami dan tersenyum. “Saya pikir Dek Maira aja yang ada di sini, ternyata ada Ibu juga.”


“Maira mana mau ke sini sendirian,” cetus Ibu cepat, menoleh sepintas pada Maira, yang tetap sibuk dengan ponselnya.


“Maira!” Panggil Elin lagi.


Yang mendongak hanya tatapan Maira saja, kepalanya tetap menunduk, menatap bergantian pada Lazuardi dan Elin. “Kenapa, Bu?”


Ibu mendengus, mengerjapkan mata seolah meminta untuk Maira menyapanya lebih ramah. 


Kedua alis Maira terangkat, mulutnya turut serta menganga. Bingung. “Apa si, Bu? Udah ah, Aku mau jogging. Keburu siang.” 


Lihat selengkapnya