Matahari mulai naik, panasnya mulai membakar kulit yang terbuka, keringat bercucuran di balik hoodie yang Maira kenakan, ia berjalan perlahan dengan kepala menunduk, kedua tanganya menelusup di saku hoodienya.
Ia mendongakkan wajah kala langkahnya sampai di depan toko kelontong, matanya menemukan sang Ibu.
“Eh anak perawan Ibu udah pulang, merah amat kayaknya itu muka abis jogging, kepanasan?”
Maira hanya tersenyum samar. Dan Elin hendak mendekat menghampiri Maira, segera menyudahi belanjanya.
“Bu-Ibu Saya duluan, ya,” pamit Elin pada sekumpulan Ibu-Ibu di sana, beralasan belanja, padahal sedang bertukar informasi akurat seputar kehidupan lingkungannya. Kebiasaan seluruh Ibu-Ibu penjuru Indonesia.
Suara samar terdengar menyelinap di telinga Elin kala langkahnya masih terhitung jari dari tempatnya belanja.
“Anak perawan? yakin masih perawan? Wong dia sering banget nyamperin cowoknya di kos-kosan gang Asmara.”
“Ngapain lagi, ya, maen ke kosan cowok kalau gak…” ucapan salah satu Ibu-Ibu itu terputus, kemudian mereka tertawa sambil menutup mulut, menyembunyikannya dari Elin.
Elin mencengkeram kantong kresek yang di jinjingnya lebih kuat kala mendengar selintingan tak bermoral itu. Namun ia tetap diam, seakan menutup telinga, bukan enggan membela, membiarkan anak gadisnya menjadi bahan gosip murahan para kumpulan Ibu-Ibu kurang kesibukan. Melainkan ia akan membalasnya dengan membuktikan bahwa anak gadisnya tak seperti yang mereka sangkakan.
Langkahnya bersamaan, sama-sama akan kembali menuju rumah. Elin menarik nafas dalam-dalam sebelum bertanya, “Jogging dimana? Sama siapa, Mai?”
Tenggorokannya mendadak kering, bukan karena efek panas sinar matahari, melainkan Maira sadar apa yang sudah ia perbuat. “Ya jogging jalan aja keliling, Bu. Sendiri juga jadi,” jawab Maira datar. Tangannya di dalam saku hoodie saling meremas dan gemetar.
“Oh…” jawab Elin singkat. Elin berusaha tetap percaya anak gadisnya ini mampu menjaga diri. Meski tidak menutup kemungkinan jika Maira tak menuruti kemauan sang Ibu, untuk tidak berpacaran. Melihat sikap Maira akhir-akhir ini seperti yang sedang di mabuk cinta. Ibu mana yang tidak akan ngeuh dengan gelagat sang anak yang menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya.
Bukan tanpa alasan, Elin tahu, di zaman sekarang, pria dan wanita berpacaran tidak akan cukup sekedar mengobrol dan jalan-jalan biasa, terutama anak gadisnya yang mulai menginjak dewasa, dengan sikap masih labil dan mencari jati diri, membuatnya cemas, jika Maira di manupulasi cinta. Di tambah berita-berita di sosial media selalu menyuguhkan ironisnya hubungan tanpa kejelasan yang pasti.
“Seorang perempuan muda ditemukan meninggal dunia di dalam karung dengan tubuh terpotong-potong. Bagian kepala hilang dan masih dalam pencarian pihak kepolisian. Di duga korban dibunuh kekasihnya.”
Headline berita yang pernah Elin baca saat itu membuatnya bergidik ngeri, rasa mual naik hingga tenggorokan. Sangat menakutkan, membuat bulu kuduknya merinding, overthinking dengan masa depan sang Anak. Salah satu alasan ia tak membolehkan Maira berpacaran.
Hidup berjauhan dengan sang Suami yang bekerja di laut lepas, dan pulang setiap beberapa bulan sekali, membuatnya harus ekstra memberikan penjagaan pada Maira, kala terjadi sesuatu, Elin tidak bisa berpangku pada siapapun selain dirinya sendiri.
Maira membuka pintu pagar rumahnya, dan segera duduk dengan kedua tangan menyangga tubuh di atas lantai, dinginnya lantai keramik terserap oleh telapak tangannya yang basah karena berkeringat. Nafasnya tersengal-sengal, ia mengibas-ngibaskan tangan di leher.
“Ayah belum sampe, Bu?” Tanya Maira. Kala Elin berdiri didepan pintu untuk membuka kunci pintu rumahnya.
“Belum, kayaknya sebentar lagi.”
Sudah cukup duduk di teras, menikmati hembusan semilir angin yang bisa sedikit menyegarkan tubuhnya yang kepanasan terbakar matahari, ia melepas sepatunya dan segara masuk ke rumah.
Di meja makan sudah tersaji makan siang yang menjadi menu favorit Maira; Ayam goreng serundeng, capcai, sambal serta kerupuk sebagai pelengkap.
“Mantap!” Cetus Maira kala ia membuka tudung saji di meja makan.