Terkurung Dalam Sangkar Emas

Jennar_
Chapter #4

#4

Cafe bernuansa semi modern, yang di design untuk tempat nongkrong generasi masa kini, tempat yang sangat strategis terletak tak jauh dari sebuah Universitas ternama di kota. Tempat  yang kerap dijadikan untuk Maira dan Era bertemu, sekadar menikmati kopi dan cemilan atau berdiskusi setelah kelas usai.


Maira sudah duduk lebih dulu, dengan dua gelas minuman yang berbeda, segelas ice latte-nya ia genggam, dinginnya es menyerap di telapak tangan, berharap agar bisa mendinginkan hatinya yang memanas kala ingat dengan ucapan sang Ayah, ‘perjodohan’.


Ia bergidik ngeri membayangkannya, baginya pernikahan hanya akan menjadi penghalang untuknya bertumbuh dan meraih masa depan.


Cubitan di pipi Maira mengerjapkan lamunannya, ia meringis nyeri. Kala Ezra datang tanpa Maira sadari.


“Sakit!”


Ezra hanya menyunggingkan ujung bibirnya, menanggalkan tas ranselnya di sandaran kursi, lalu ia turut duduk di hadapan Maira. Sejak ia melewati pintu masuk cafe itu, tak sedikitpun Ezra memalingkan wajah darinya. seperti pemburu yang terus membidik pergerakan seekor rusa.


“Maaf.” Ezra membentangkan senyum lebih lebar. “Aku lihat dari tadi kamu bengong,” tanya Ezra penuh perhatian. Menarik satu gelas Ice Cappucino yang sudah tersedia di atas meja, tak perlu bertanya lagi gelas itu milik siapa, Ezra sudah hafal minuman itu sengaja Maira pesan untuknya.


Maira menarik nafas dalam-dalam, sebelum ia angkat bicara, seolah sesuatu yang serius akan keluar dari mulutnya. “Yang Bimo katakan kemarin itu benar, Kak!”


Ezra baru saja menyesap es cappucinonya, dan ucapan Maira membuatnya tersedak. Refleks. Minuman yang bahkan belum sempat melewati tenggorokannya itu terpaksa ia semburkan kembali.


“Maira.” mata Ezra membulat, menatap lekat pada perempuan di hadapannya. “Lalu hubungan kita?” Wajahnya mendadak pucat.


Maira mengedikkan bahu. “Ibu gak terima lamaran dia, kok.” Datar Maira menjawab, kembali menyesap minumannya.


Ezra menghela nafas lega. Dan tanpa sengaja matanya spontan menoleh pada pria yang baru datang di cafe itu, langkahnya ringan, bahkan hampir tak menimbulkan suara, sekadar menarik kursi untuk duduknya saja dilakukan sangat hati-hati, pria itu duduk tak jauh dari meja mereka. Dengan sketchbook di tangannya.


Alis Ezra terangkat, kepalanya mendongak sekilas menunjuk pada pria itu yang dilakukan secara samar. “Dia.”


Manda mengangkat wajah, menatap dengan dahi yang sedikit berkerut. “Apa?”

Lihat selengkapnya