Hujan deras itu kini sudah berubah menjadi rintik lembut, meninggalkan genangan becek di jalan yang di pijaki Maira, juga aroma tanah basah yang pekat, ia berjalan, dengan wajah datar tanpa ekspresi, membawa langkahnya cepat dan tergesa seolah diburu waktu.
Gadis itu mendekap laptop cukup kuat di dada, seolah menyalurkan kecemasannya disana agar tak begitu sesak, setiap kali selesai berduaan bersama kekasihnya, meski tak sampai melakukan hubungan terlarang layaknya suami istri. Tapi bagi dirinya, berdekatan dengan lawan jenis secara tertutup adalah sebuah larangan berat. Bersentuhan melewati batas.
Menolak sulit, mengiyakan pun berujung pada kecemasan yang teramat menjerat perasaannya. Rasa takut ditinggalkan oleh yang menurutnya pemberi kenyamanan membuat Maira terpaksa selalu mengiyakan ajakan Ezra.
“Maira.”
Sapaan itu membuat Maira tersentak saat pikirannya tak fokus efek dibaluti rasa cemas. Refleks menghentikan langkahnya dan menoleh pada sumber suara. “Pak! Kebiasaan selalu bikin kaget.” ia kemudian mempercepat langkahnya.
“Loh, Maira dari tadi bengong, ya? Mangkannya sampai kaget?” lazuardi menyamakan langkah Maira yang tergesa. Namun bagi Lazuardi langkah tergesanya yang terlihat setengah berlari itu sama seperti langkah cepat lazuardi ketika hendak memasuki kelas.
“Bapak kenapa ngikutin Aku, si!” Maira sedikit menyentak. Mnehentak kakinya di jalanan yang sedikit becek karena sisa hujan.
Cipratan air dari hentakan kaki maira mengenai bagian bawah celana berwarna cream yang dikenakan Lazuardi, menampilkan jejak air yang kontras.
Refleks. Maira menoleh dengan mulut menganga, menatap dari bawah sampai atas, hingga pandangan mereka bertemu. “Pak, Maaf.” dengan tangan menelungkup di dada, laptopnya tetap diapit kedua lengannya dan lebih erat. Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Bagaimana jika dosen muda itu memarahinya di jalan?.
Lazuardi baru mengamati bagian bawah celananya saat Maira menoleh dan meminta maaf padanya. Alih-alih marah seperti yang ditakutkan Maira, pria itu justru tersenyum samar, menatap lekat netra Maira.
“Gak apa-apa, masih bisa dicuci.”
“Yaudah ayo pulang, Bapak ganti celananya, biar nanti Aku ambil ke kosan dan laundrykan.” Maira menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Panik.
Lazuardi mengulum senyum, ia mengusap wajahnya untuk menyembunyikan sesuatu yang membuat dadanya menghangat. Sesuatu yang sangat jarang ia rasakan.
Melihat respon Lazuardi yang demikian membuat Maira mengerutkan dahi. “Kenapa, Pak? Aku beneran gak sengaja, Pak, Maaf.”
“Gak perlu, Maira. Saya bisa cuci sendiri,” jawab Lazuardi dengan intonasi pelan. Ia bisa menebak, gadis itu dihantui perasaan bersalah. “Silahkan lanjutkan jalannya.”
“Tapi, Pak. itu kan salahku.”
Pria itu menyunggingkan ujung bibirnya. “Anggap saja inpas, Saya sudah bikin Kamu kaget, dan Kamu bikin celana Saya kotor. Adil kan?”
Tengkuknya yang tak gatal Maira garuk, sebagai rasa kikuk saat itu. Tak banyak bicara lagi, ia pun kembali melanjutkan langkahnya dengan sedikit berlari, seolah sengaja membuat jarak dengan Lazuardi.