TERLANJUR POCONG

GAZALI
Chapter #5

BAB 5 — DEMO BESAR NEGARA BAGIAN TUYUL

MENUJU KAWASAN PERTUYULAN NASIONAL

Hari baru dimulai di Republik Setan. Kaga ada matahari. Langit cuma ganti warna, dari item pekat jadi ungu kebiruan, kayak memar abis ditonjok.

Lampu-lampu jalan IKS pelan-pelan padam sendiri. Gak ada yang matiin. Kayak malu-malu. Kereta Astral lewat di atas kepala, bunyinya wusss... Bus Trans Republik Setan mulai pada ngebul, ngantri di halte.

IKS kembali sibuk. Setan berangkat kerja pake tas ransel, anak-anak setan berangkat sekolah sambil nangis.

Persis kayak kota manusia. Bedanya... semua penghuninya udah modar.

Gue masih ngikutin Kunti, loncat-loncat.

HOP... HOP... HOP...

JALIK

"Neng... kita mau kemane sih? Kaki gue udah pegel, kafan gue udah bau kecut."

Kunti jalan tanpa noleh, gaunnya ngambang.

KUNTI

"Nyari Dominggus. Kalo mau nyari Dominggus... jangan tanya setan. Tanya bangsanya."

JALIK

"Maksudnya?"

KUNTI

"Dominggus tuh tuyul. Kalo ada yang paling tau tuyul... ya sesama tuyul. Masa nanya ama pocong?"

Kita sampe di halte. Bangunannya modern, kacanya kinclong, ada AC. Di atasnya tulisan gede:

TRANS REPUBLIK SETAN

Layar digital kedip-kedip:

KORIDOR 13 - IKS → KAWASAN PERTUYULAN NASIONAL

Bus berenti. Pintunya kebuka otomatis, bunyi cesst. Sora cewek merdu kedengeran:

"Selamat datang. Keselamatan penumpang adalah prioritas kami. Jangan lupa tap kartu gaibnya."

Gue melongo, kafan hampir melorot.

JALIK

"Ya Allah... bus setan aje sopan. Bus di sono mah supirnya ngomel mulu."

Kita masuk. Isinya... tuyul semua. Tuyul sekampung.

Ada yang baca koran judulnya KONTAN GAIB, ada yang maen HP, ada yang tidur ngorok, ada yang bawa bekal rantang, ada yang ngitung receh recehan emas.

Gue bisik ke Kunti, pelan.

JALIK

"Buset... tuyul sekarang naik bus? Bukannya terbang-terbang nyolong duit?"

KUNTI

"Kalo semua terbang... lalu lintas udara macet, Lik. Makanya ada bus. Biar tertib."

Gue manggut. Iya juga.

Di layar LED depan supir muncul tulisan, dan tanpa sadar gue membacanya:

DILARANG MENGAMBIL MILIK PENUMPANG LAIN

Seorang tuyul tua yang kumisnya ubanan langsung protes, berdiri.

TUYUL TUA

"Kami profesional! Bukan copet! Kami ada kode etik!"

Satu bus tuyul manggut-manggut.

Gue langsung minta maap.

JALIK

"Maap, Kek... maap..."


KAWASAN PERTUYULAN NASIONAL

Bus berenti. Pintu kebuka.

Begitu turun... gue bener-bener terpaku. Kaki pocong gue berhenti loncat.

Gue ngarepin pohon pisang, rawa, rumah angker reot, suara kodok.

Yang ada justru kota kecil yang indah, rapi bener. Kayak perumahan cluster di BSD.

Rumah mungil jajar rapi, halamannya bersih, catnya warna-warni. Anak-anak tuyul berangkat sekolah pake seragam, tasnya gede. Ada taman, ada perpustakaan, ada koperasi, ada bank, ada klinik, ada minimarket, ada ATM yang tulisannya ATM - Anjungan Tuyul Mandiri.

Di taman... ayah tuyul lagi ngajarin anaknya naik sepeda roda dua. Jatuh, bangun lagi, ketawa.

Gue bergumam, lirih.

JALIK

"Kok... normal banget? Lebih normal dari komplek gue dulu."

Kunti senyum.

KUNTI

"Kecewa?"

JALIK

"Kirain... tuyul tinggal di bawah pohon pisang, tidur di gentong."

KUNTI

"Itu stereotip, Lik. Kaya lo bilang semua pocong bau tanah. Padahal ada yang udah pake parfum."


DEMO BESAR

Tiba-tiba...

WOOOOOO... Sirine meraung. Toa masjid... eh toa demo bunyi.

Ribuan tuyul keluar dari berbagai gang. Kayak semut keluar dari sarang. Spanduk memenuhi jalan, gede-gede.

Tulisannya:

NAIKKAN UMS! [Upah Minimum Setan]

TOLAK OUTSOURCING TUYUL!

HAPUS POTONGAN HASIL 70%!

KAMI BUKAN MESIN PENCARI UANG!

TUYUL JUGA PUNYA HAK!

Calon pemimpin tuyul berorasi di atas mobil bak sambil gebrak-gebrak meja.

ORATOR TUYUL

" KALAU TERUS BEGINI,  2030 TIDAK AKAN ADALAGI NEGARA BAGIAN TUYUL DI REPUBLIK SETAN BETUUULLLL …HIDUP TUYUL! HIDUP PEKERJA GAIB! "

Gue melongo, kafan gue geter kena bass toa.

JALIK

"Setan juga demo? Ada demo buruh juga di alam baka?"

Kunti hela napas, kayak udah apal.

KUNTI

"Udah tiga minggu, Lik. Belom kelar-kelar. Macetnya sampe ke IKS. Makanya bus tadi muter."


MENCARI DOMINGGUS

Lihat selengkapnya