TERLANJUR POCONG

GAZALI
Chapter #11

BAB 11 — INTROGASI SANG BURONAN

RUANG INTROGASI

Pintu aula sidang dibuka.

Dominggus dibawa masuk. Tangannya dirantai. Rantai besi hitam, gede, setiap gesek ke lantai bunyinya mantul ke seluruh aula.

Srek... srek...

Gak ada yang ngomong. Seluruh pasukan pita hitam-merah berdiri di kiri-kanan aula. Tegak. Menunduk. Tidak ada satu pun yang berani natap lurus.

Di ujung, Larasati duduk sendirian di kursi sidang. Kebaya putih. Rambut disanggul. Tidak ada mahkota. Tidak perlu.

Lampu taman putih di dalam aula itu nyalanya bukan kuning kayak di gang-gang Condet. Putih. Dingin. Terlalu stabil. Cahayanya jatuh lurus, bikin lingkaran di tengah. Dan Dominggus berdiri pas di tengah lingkaran itu.

Sunyi. Sunyi yang khidmat. Kayak orang lagi nungguin adzan.

 

PENGGELADAHAN

Dua prajurit maju. Gerakannya pelan. Tidak kasar.

Mereka periksa Dominggus. Satu-satu.

Rambut. Dibuka.

Pakaian. Diperiksa lipatannya.

Sabuk. Ditarik.

Rantai. Diketuk.

Telapak kaki. Dilihat.

Semua diperiksa dengan hati-hati. Seperti orang memandikan jenazah. Tidak ada bentakan. Hanya suara kain dan besi.

Tidak ada relik.

Komandan pasukan mulai gelisah. Keringetnya turun padahal aula itu dinginnya minta ampun.

Akhirnya Larasati buka suara.

"Di mana relik itu?"

Dominggus mengangkat kepala pelan. Menatap Larasati. Jawabnya tenang.

"Su tidak deng beta lagi."

Jujur. Pendek. Tidak ada drama. Dan justru karena jujur, satu aula langsung terasa lebih berat.

Lampu taman putih di atasnya berkedip sekali. Pelan. Kayak ikut nahan napas.

 

ORANG YANG TEPAT

Larasati menatap lebih dalam.

"Kalau begitu... berada pada siapa?"

Dominggus tersenyum tipis. Bukan senyum ngejek. Senyum orang yang udah nitipin sesuatu yang berharga.

"Su ada pa orang yang tepat."

"Dia balom tau... kalau dia sedang dipercayakan."

Larasati tidak memperoleh jawaban yang diinginkannya. Tapi dia tidak marah. Dia diam. Menimbang setiap kata.

Di aula yang sunyi itu, kalimat itu menggantung lama.

 

MARKUS

Larasati menekan, masih dengan suara yang sama tenangnya.

"Sebutkan namanya."

Dominggus menggeleng pelan.

Lalu berkata, lebih pelan dari sebelumnya.

"Ratu... lelaki itu... tidak pantas memilikinya."

Larasati langsung memahami. Tidak perlu disebut.

Markus.

Nama itu tidak diucap keras, tapi semua yang di aula langsung saling pandang.

Dominggus melanjutkan, matanya masih menatap Larasati.

"Ada orang... yang perjuang rakyat."

Diam.

"Ada juga... yang pake rakyat... par perjuang diri sandiri."

Ruangan kembali sunyi. Lebih sunyi dari sebelumnya.

Lihat selengkapnya