TERLANJUR POCONG

GAZALI
Chapter #13

BAB 13 — WAJAH YANG DIPERCAYA

MALAM YANG TIDAK SELESAI

Istana Kerajaan Kuntilanak.

Jam udah malem. Semua dayang udah tidur. Pasukan udah ganti shift. Cuma satu ruangan yang lampunya masih nyala. Lampu taman putih di dalam istana itu nyala sendirian. Terang. Dingin.

Larasati masih di ruang kerjanya. Duduk. Di depan dia berkas pemeriksaan Dominggus. Belum ditutup. Halaman terakhir kebuka.

Matanya kosong. Natap berkas tapi gak baca.

Di kepalanya kalimat itu muter terus. Kayak kaset rusak.

"Ada orang... yang memakai rakyat... untuk memperjuangkan dirinya sendiri."

Dia merem. Ngusap pelipis.

Terus bisik, pelan banget. Hampir gak kedengeran.

"Aku berharap... kau salah, Dominggus."

Tapi yang muncul di kepalanya bukan Dominggus.

Justru wajah Markus. Senyumnya. Waktu dia ngomong di depan rakyat. Waktu dia bilang semua orang harus setara.

Wajah yang paling dia percaya, malah jadi yang paling bikin dia gak bisa tidur.

 

KENANGAN

Larasati berdiri, jalan ke balkon. Angin malem masuk. Bawa wangi melati dari taman istana. Taman yang terlalu rapi itu.

Dia nginget pertama kali ketemu Markus. Bukan pas Markus orasi di lapangan. Bukan pas dia teriak-teriak lawan Dewan.

Tapi pas di gang belakang Pasar Kembang. Waktu itu ada tuyul tua dipukulin aparat gara-gara nyolong singkong. Semua orang cuma nonton. Takut.

Markus yang maju. Padahal dia sendiri berdarah, abis dipukulin juga.

Dia gendong tuyul tua itu. Berat. Tapi dia gendong.

Terus dia ngomong, dengan napas ngos-ngosan,

"Kalau yang kuat tidak menjaga yang lemah... untuk apa kita diberi kekuatan?"

Sejak hari itu...

Larasati jatuh cinta. Bukan sama pidatonya yang kenceng. Tapi sama punggungnya yang bungkuk waktu gendong tuyul tua itu. Sama hatinya.

Dan cinta kayak gitu yang bahaya. Soalnya lu jadi buta. Lu jadi gak bisa bedain mana hati, mana topeng.

 

TEMPAT YANG SELALU MEMBUAT TENANG

Menjelang malam, Larasati dateng ke kediaman Markus.

Gak bawa pasukan besar. Cuma dua dayang. Dia gak mau keliatan kayak Ratu. Dia mau dateng kayak Laras aja.

Rumah Markus bukan istana. Rumah kayu biasa. Di halamannya ada bangku kayu yang lagi diperbaiki. Markus lagi jongkok, benerin bangku itu bareng beberapa buruh tuyul. Tangannya kotor kena oli.

Pas liat Larasati, dia senyum.

"Laras. Kau datang."

Gak ada "Ratu". Gak ada "Yang Mulia". Cuma "Laras."

Markus nyuruh semua buruh balik kerja. Terus ngajak Larasati duduk di bangku yang baru dibenerin itu. Bangku yang masih goyang dikit.

Di sini gak ada lampu taman putih yang dingin. Di sini lampunya kuning, redup, kayak lampu warung kopi di Condet. Anget. Dan justru itu yang bikin Larasati tenang. Di istana semua terang, semua keliatan. Di sini remang, jadi bisa jujur.

 

LARASATI BERCERITA

Markus nuang teh. Teh tubruk. Gak nanya apa-apa. Gak interogasi kayak di sidang.

Justru Larasati yang mulai cerita. Semua ditumpahin. Tentang Dominggus. Tentang relik yang berubah. Tentang sidang tadi siang. Tentang peringatan Dominggus. Tentang rasa ragu yang tiba-tiba muncul di dadanya.

Markus cuma dengerin. Angguk. Sesekali.

Gak motong. Gak nyela. Gak ngasih pendapat kayak orang Betawi kalo lagi ngerumpi. Dia dengerin bener.

Sampe Larasati selesai. Napasnya agak berat. Kayak abis nangis tapi ditahan.

Ruangan jadi sunyi. Cuma ada suara jangkrik sama lampu taman kuning di halaman yang kedip pelan.

 

KEHENINGAN MARKUS

Markus masih diem. Dia nuang teh sekali lagi. Pelan. Surrr...

Lihat selengkapnya