Gue tau tempat ini bukan dari Google Maps. Di Republik Setan gak ada Maps. Adanya firasat. Dan kalo lampu taman udah gak mau nyala, berarti lu udah kelewat jauh dari peta.
Hari itu Larasati jalan kelewat jauh. Dan gue, Jalik, baru tau ceritanya belakangan, dari Kunti yang mimpiin, dari Angku yang nerawang. Tapi gue ceritain sekarang kayak gue ada di sana. Biar lu ikut ngerasain kenapa gerbang itu gak pernah mati.
SCENE 1 - LARASATI DATANG
Lokasi: Kediaman Markus.
Pagi menjelang siang. Matahari di Republik Setan tuh bukan matahari beneran, cuma bola lampu gede warna putih. Jadi paginya tuh putih pucat.
Larasati dateng sendiri. Gak bawa pasukan. Gak bawa dayang. Cuma kebaya putihnya aja yang agak kusut, tanda dia gak tidur semaleman abis gue labrak di istana.
Di halaman, Markus lagi nyiram tanaman. Tanaman yang daunnya item, bunganya merah darah. Santai bener kayak bapak-bapak komplek di Condet lagi nyiram jambu.
Dia noleh. Gak kaget. Senyumnya tipis. Kayak emang udah nunggu dari jam 5 subuh.
"Laras... kau datang."
Larasati gak bales senyum. Mukanya dingin. Ratu-nya balik.
"Semalam... pasukan elit menyerang rumah Angku."
Markus tetep tenang. Dia taruh penyiram tanamannya pelan. Klotak.
"Mereka gagal?"
Larasati agak kaget, "Kau tahu?"
Markus hela napas. Natap Larasati. Tatapannya dalem, kayak orang yang lagi nahan beban dunia.
"Aku tahu... karena itu memang untuk kita."
Satu kalimat. Dan Larasati yang tadinya mau marah, jadi bingung. Teknik gaslighting level dewa.
MARKUS MENGELAK
Larasati mulai manas. Suaranya naik dikit, tapi masih ditahan biar tetep elegan.
"Ada yang terluka, Markus. Kunti hampir mati. Dia sekarat di Keramat Hospital."
Markus natap dia lama. Gak bela diri. Gak nyangkal. Gak bilang "bukan gue".
"Aku tidak pernah menginginkan itu."
Diam. Angin halaman berhenti.
"Lalu kenapa semuanya terjadi?"
Markus jalan pelan. Gak jawab. Cuma bilang,
"Ikut aku."
Gak ada penjelasan. Gak ada alasan. Justru karena gak ada alasan, Larasati malah ngikut. Kadang orang pinter tuh kalah sama orang yang diem. Karena diemnya keliatan paling tau.
TEMPAT YANG TIDAK ADA DI PETA
Markus bawa Larasati keluar kota Republik Setan.
Makin jauh.
Kabut makin tebel. Putih susu. Gak ada suara. Gak ada jangkrik.
Larasati mulai sadar. Dia Ketua Dewan Keamanan. Dia hapal setiap jengkal Republik. Gang tikus aja dia tau.
Tapi tempat ini... dia gak pernah dateng. Gak pernah ada di peta. Gak pernah diajarin di akademi.
Padahal dia yang jaga perbatasan.
"Markus, ini di mana?" tanyanya, tapi suaranya agak kecil.
Markus gak jawab. Terus jalan.
GERBANG
Kabut perlahan kebelah. Kayak gorden disibak.
Di baliknya...
Berdiri sebuah gerbang batu raksasa. Tingginya puluhan meter. Gede banget. Sampe leher pegel kalo noleh ke atas.
Penuh lumut. Retak. Tua. Batu-batunya item, bukan putih kayak istana. Kayak udah berdiri sebelum Republik Setan lahir. Sebelum ada pocong, kunti, tuyul. Sebelum ada Betawi.
Gak ada cahaya. Gak ada tulisan. Gak ada penjaga. Gak ada lampu taman sama sekali di sekitarnya. Dan itu yang bikin paling serem. Di Republik, di mana-mana ada lampu taman. Di sini gak ada. Kayak tempat ini gak butuh cahaya.