TERLANJUR POCONG

GAZALI
Chapter #19

BAB 19 — UJIAN TERAKHIR

Kata orang Betawi, orang paling berbahaya itu bukan yang mukanya serem. Yang mukanya serem mah udah jelas, tinggal lu hindarin. Yang paling bahaya justru yang ngomongnya paling lembut. Yang senyumnya paling tulus.

Karena pisau paling tajem... gak pernah teriak sebelum motong. Dia diem. Mengkilap.

Dan malam itu... Larasati akhirnya sadar... kadang monster... datengnya bukan pake tanduk. Tapi pake senyuman yang sama yang bikin lu jatuh cinta.

 

PERTEMUAN TERAKHIR

Lokasi: Gerbang.

Kabut masih ngegantung. Tebel. Putih susu basi. Gak ada lampu taman sama sekali di sini. Gak ada. Di Republik, di mana-mana ada lampu taman, minimal satu. Di sini gak ada. Gelapnya gelap alami. Gelap yang udah ada sebelum lampu diciptain.

Gak ada suara burung. Gak ada angin. Gak ada jangkrik. Hening yang bukan hening kosong, tapi hening yang nungguin.

Gerbang batu raksasa itu masih berdiri. Diam. Lumutan. Retak. Tapi rasanya... lagi merhatiin siapa pun yang dateng. Kayak satpam yang pura-pura tidur tapi matanya ngintip.

Markus sudah menunggu. Berdiri membelakangi Larasati. Tangannya di belakang punggung. Rapi. Tenang. Jaket itemnya gak kena kabut.

Seolah ia memang tahu... Larasati pasti datang. Gak mungkin enggak.

Larasati berhenti beberapa langkah. Napasnya keliatan di udara dingin.

"Markus..."

Markus perlahan berbalik. Masih dengan senyum yang sama. Senyum yang selama ini selalu bikin Larasati tenang. Senyum yang bikin dia ngerasa aman di tengah istana yang dingin.

"Kau datang."

Larasati ngangguk pelan. Wajahnya pucat.

"Aku datang."

Hening. Kabut tetep diem. Gak gerak. Kayak ikut nahan napas.

 

JAWABAN PALSU

Markus mandang gerbang, lalu mandang Larasati lagi.

"Apakah kau menemukan jawabannya? Bagaimana cara membukanya?"

Larasati gak langsung jawab. Ini pinter. Dia sengaja biarin Markus nunggu. Beberapa detik. Biarin senyum Markus yang tenang itu nahan sedikit.

Baru dia ngomong,

"Mungkin."

Markus noleh. Tatapannya penuh harapan. Harapan yang keliatan tulus banget. Kalo gue yang liat, gue percaya.

Larasati lanjut, suaranya dibuat tenang, kayak Ratu lagi sidang.

"Gerbang itu memang membutuhkan tiga relik. benang, koin, kain. Kau benar."

Markus senyum kecil. Lega.

Namun Larasati kembali berkata, nadanya turun,

"Tetapi... itu belum cukup."

Senyum Markus pelan-pelan ilang. Kayak lampu taman yang redup.

"Apa lagi?"

Larasati natap lurus ke arah gerbang. Gak natap Markus.

"Hawa murni."

Markus ngernyit, "Hawa murni?"

Larasati ngangguk, masih acting jadi Ratu yang tau banyak, "Hawa murni seorang Dewan Keamanan Republik Setan. Jiwa yang belum pernah membunuh dengan kebencian. Harus tulus. Harus bersih."

Kabut goyang pelan. Padahal gak ada angin. Gerbang tetep diem.

Markus gak ngomong apa-apa. Dia mikir. Lama. Matanya ngitung.

Karena... dia gak tau... apakah Larasati lagi ngomong jujur. Atau... lagi nguji dia. Lagi masang jebakan.

Dan di detik itu, untuk pertama kalinya, Markus yang selalu tenang, keliatan ragu.

 

MARKUS MEMBUJUK

Beberapa saat kemudian... Markus senyum lagi. Senyum yang anget. Senyum yang sama kayak pas dia nyiram tanaman.

Lihat selengkapnya