TERLANJUR POCONG

GAZALI
Chapter #20

BAB 20 — GELANG TERAKHIR

Kata orang Betawi, ada orang yang lupa muka saudaranya. Ada juga yang sengaja pura-pura lupa. Bukan karena benci, tapi karena itu satu-satunya cara supaya saudaranya tetep idup.

Dan malam itu, gue baru ngerti, kadang perpisahan paling nyakitin justru kejadian waktu dua orang masih saling sayang. Masih sayang banget, tapi harus misah.

Ini cerita Kunti. Yang baru gue tau pas dia sekarat di Keramat Hospital. Dan gue ceritain sekarang, soalnya gelang itu udah nyala lagi.

 

PERTEMUAN SETELAH BERTAHUN-TAHUN

Lorong panjang Gedung Dewan Keamanan. Lantai marmernya basah abis hujan. Di luar, lampu taman kuning di halaman mantul ke lantai, jadi lorong itu keliatan kayak ada dua lampu. Satu asli, satu bayangan di lantai yang basah.

Kuntilanak muda jalan pelan sambil bawa map kelulusan Akademi Persetanan. Rambutnya masih item panjang, belum diikat asal kayak sekarang. Wajahnya masih muda, masih ada senyum malu-malu. Belum setenang Kunti yang gue kenal sekarang yang bisa bikin ilusi pake pita merah.

Itu Kunti. Kuntari. Nama lengkapnya.

Tiba-tiba langkahnya berenti. Di ujung lorong berdiri seorang perempuan berseragam Dewan Keamanan. Seragam item-merah, rapi, pangkatnya udah tinggi. Rambutnya tersanggul rapi. Tatapannya tegas, yang bikin pasukan nunduk.

Namun mata itu... sangat ia kenal. Mata yang dulu ngajarin dia baca waktu masih manusia.

Perempuan itu senyum pelan. Senyum yang gak pernah dia kasih ke siapa pun di gedung itu.

"Kuntari..."

Kunti beku. Map yang dia bawa hampir jatoh. Matanya membesar. Air matanya langsung jatuh. Netes ke lantai marmer yang basah.

"Kak Rara...?"

Perempuan itu ngangguk. Matanya juga berkaca-kaca.

Mereka saling mendekat. Setengah lari. Larasati nyentuh wajah Kunti buat mastiin ini bukan mimpi. Pastiin ini bukan ilusi. Kunti ketawa sambil nangis. Suaranya pecah.

Larasati megang kedua pipi Kunti. Ngeliat matanya. Ngeliat rambutnya yang basah kena hujan.

Terus ngomong, dengan suara yang cuma kakak yang bisa ngomong,

"Kau masih kurus. Masih gak mau makan."

Lalu pelukan. Pelukan kenceng. Tanpa peduli siapa yang liat. Tanpa peduli aturan Dewan Keamanan yang bilang pejabat gak boleh peluk sembarangan. Tanpa peduli seragamnya basah.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun terpisah sejak mereka mati jadi manusia, mereka akhirnya ketemu lagi. Di lorong yang lampunya kuningnya mantul di lantai basah itu.

 

MIMPI YANG MASIH HIDUP

Mereka duduk di taman belakang gedung. Taman yang biasanya buat rapat rahasia, sekarang jadi tempat curhat dua kakak beradik.

Lampu taman kuning nyala anget. Gak putih dingin kayak di depan. Yang ini kuning, redup, kayak lampu warung kopi.

Larasati senyum, masih genggam tangan Kunti.

"Aku dengar kau menjadi pengajar di Akademi. Mengajar tuyul-tuyul kecil baca tulis."

Kunti ketawa kecil, malu, "Aku juga dengar Kakak sekarang menjadi pejabat Dewan Keamanan. Udah punya pasukan. Keren banget."

Larasati ngangguk, "Akhirnya kita sama-sama berhasil ya."

Kunti natap langit Republik yang gak ada bintangnya. Cuma kabut.

"Dulu waktu masih manusia, kita pernah bilang kalau suatu hari nanti kita ingin menjadi orang yang berguna. Kakak bilang mau jadi polisi. Aku bilang mau jadi guru."

Larasati senyum. Senyumnya tulus. Bukan senyum Ratu.

"Mungkin jalan kita berbeda. Kau jadi kuntilanak pengajar, aku jadi kuntilanak pejabat. Tapi mimpinya masih sama."

Mereka ketawa kecil. Ketawa yang lama gak keluar. Gak ada politik. Gak ada kerajaan. Gak ada pita hitam-merah. Cuma dua saudara yang dulu tidur di tikar yang sama, sekarang ketemu lagi di dunia setan.

 

RAHASIA YANG HARUS DISIMPAN

Tawa itu pelan-pelan ilang. Angin taman berhenti. Lampu taman kuning yang anget tadi kedip pelan.

Larasati mandangin Kunti lama sekali. Lama banget. Kayak mau ngafalin muka adiknya.

Sampe Kunti akhirnya senyum pahit. Senyum yang ngerti.

"Aku mengerti, Kak."

Larasati natapnya.

Kunti narik napas pelan, "Pejabat Dewan Keamanan tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan siapa pun. Supaya tidak ada nepotisme. Tidak ada keberpihakan. Tidak ada penyalahgunaan kekuasaan. Aku baca di buku peraturan."

Larasati nundukin kepala. Gak nyangkal. Aturan itu dia sendiri yang bikin.

Kunti senyum. Senyum yang tulus, bukan dipaksa.

Lihat selengkapnya