Kata orang Betawi, orang miskin itu bukan takut gak punya duit. Takutnya tuh malu. Malu pas disuruh maju ke depan kelas. Malu pas gak bisa bayar. Dan malu itu, kalo dipendem kelamaan, bisa jadi monster. Lebih item dari Setan Terlarang.
Malam itu, di depan Gerbang yang udah berdenyut kayak jantung orang habis lari, gak ada yang berantem. Gak ada yang adu jurus. Yang ada cuma dua sahabat, yang satu udah jadi arang, yang satu masih nahan jadi manusia.
Dan gue, Jalik, yang biasanya bacot, kali ini diem. Karena kalo orang lagi ngomongin luka masa kecilnya, lampu taman aja diem.
SCENE 1 - SUNYI
Gak ada pertarungan. Gak ada ledakan. Gak ada DUAR!
Gerbang cuma berdenyut pelan. Dum... Dum... Dum... Kayak detak jantung orang lagi tidur. Kabut gerak pelan. Pelan banget. Kayak males.
Dominggus berdiri di luar kubah kuning Angku. Markus berdiri di depan Gerbang. Jarak mereka cuma 5 meter. Kunci emas ngambang di tengah, cahayanya kuning anget.
Di belakang mereka, di dalem kubah kuning yang udah retak, Larasati, Kunti, Angku, dan gue cuma bisa ngeliat. Gak ada yang nyela. Gak ada yang teriak "hajar, Bang!"
Semua nunggu jawaban Markus. Satu pertanyaan dari Dominggus tadi: apa sebenarnya yang kau cari di dunia baru itu?
Kesunyian justru jadi musiknya bab ini. Musik yang gak enak, tapi jujur. Bahkan lampu taman kuning yang jauh di ujung kabut, yang nyala siang bolong tadi, ikut mati. Biar sunyi beneran.
MARKUS MENJAWAB
Markus gak langsung jawab. Dia ngeliat Gerbang dulu. Gerbang gede yang udah dia cari seumur hidup. Terus ngeliat tangannya sendiri. Tangan yang sekarang retak-retak item, ada api kecil di selanya.
Suaranya balik lagi jadi suara Markus. Bukan suara double Setan Terlarang. Suara Markus yang dulu. Capek.
"Kau bertanya... apa yang beta cari?"
Ia senyum kecil. Bukan senyum jahat. Bukan senyum menang. Senyum yang sangat lelah. Senyum bapak-bapak yang baru pulang nguli tapi upahnya kurang.
Ia narik napas panjang. Asep item keluar dari mulutnya.
"Beta cuma ingin sekali... dunia... yang tidak membuat orang miskin merasa malu."
Hening.
Kalimat itu ngegantung di udara. Gak jatuh. Kayak kabut.
Gue yang denger langsung diem. Soalnya gue pernah ngerasa gitu. Waktu masih idup, gue malu karena gue cuma pocong Betawi yang gak bisa bahasa Inggris.
LUKA YANG TIDAK PERNAH SEMBUH
Kesunyian turun lagi. Lebih berat.
Gerbang masih berdenyut pelan. Dum... Dum... Dum...
Markus gak langsung jawab lagi. Dia mandangin kedua tangannya yang kini penuh retakan hitam. Retakan yang tadinya merah, sekarang item lagi.
Lalu senyum kecil. Bukan senyum bahagia. Senyum seseorang yang terlalu lama mendem luka sampe lukanya jadi nanah.
"Kau bertanya... apa yang beta cari di dunia baru itu?"
Ia hela napas panjang.
"Beta cuma capek, Dominggus."
"Beta capek jadi orang yang selalu dianggap rendah."
Dominggus gak nyela. Dia dengerin. Kayak dulu waktu mereka masih kecil.
Markus kembali natap Gerbang. Matanya kosong. Kayak lagi ngeliat masa kecilnya sendiri di balik batu Gerbang itu.
"Beta masih ingat... Hari pertama sekolah. Di kampung. Guru menyuruh semua murid yang belum bayar buku berdiri di depan kelas."
Matanya kosong. Suaranya datar.
"Beta berdiri. Paling depan. Semua orang melihat beta. Bukan karena beta pintar. Bukan karena beta nakal. Tapi karena beta miskin. Sepatu beta bolong."
Ia ketawa pelan. Tawa yang hambar. Gak ada lucunya.
"Pulang sekolah... anak-anak manggil beta... anak pengemis. Anak tukang cuci yang bapaknya gak ada."
Kabut gerak pelan. Gak ada seorang pun yang ngomong. Bahkan Gerbang detaknya pelan.
Markus lanjut lagi. Suaranya mulai geter. Retakan di mukanya mulai netes air? Bukan, itu air mata yang kena api, jadi asep.
"Waktu ibu beta meninggal..."
Suaranya pecah. Bahunya yang gede itu turun.